FIFA segera selidiki dugaan suap Piala Dunia 2006

Foto yang diambil pada 9 September 2005 ini memperlihatkan Franz Beckenbauer (kiri), saat itu Ketua Panitia Penyelenggara Piala Dunia 2006, dan Presiden FIFA Sepp Blatter saat pengundian grup di Leipzig, Jerman.
Foto yang diambil pada 9 September 2005 ini memperlihatkan Franz Beckenbauer (kiri), saat itu Ketua Panitia Penyelenggara Piala Dunia 2006, dan Presiden FIFA Sepp Blatter saat pengundian grup di Leipzig, Jerman. | Thomas Eisenhuth /EPA

Sepakbola Jerman kemungkinan akan jatuh dalam krisis terparah sepanjang sejarah saat sebuah media mengungkap dugaan penyuapan yang dilakukan agar negara itu terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia (PD) 2006. Organisasi sepakbola dunia FIFA langsung menyatakan akan menyelidiki tuduhan tersebut.

Media terkemuka Jerman Der Spiegel pada Jumat (16/10/2015) menurunkan laporan yang mengindikasikan komite pencalonan (bidding committee) yang dibentuk Jerman untuk memenangi perebutan tuan rumah Piala Dunia 2006 saat itu menyiapkan dana gelap sebesar 10,3 juta francs Swiss --setara dengan EUR6,5 juta (Rp99,4 miliar)-- yang digunakan untuk menyuap anggota Komite Eksekutif FIFA.

Dana tersebut dipinjam dari uang pribadi bos Adidas saat itu Robert Louis-Dreyfus. Adidas adalah pemasok seragam dan perangkat permainan tim nasional Jerman.

Der Spiegel menyatakan bahwa Franz Beckenbauer, legenda sepakbola Jerman yang juga ketua komite pencalonan, dan Wolfgang Niersbach, saat ini presiden Federasi Sepakbola Jerman (DFB), serta beberapa pejabat tinggi lainnya mengetahui keberadaan dana tersebut.

Jerman akhirnya menang 12-11 atas Afrika Selatan, yang sebenarnya lebih difavoritkan dalam pemungutan suara untuk tuan rumah PD 2006. Afrika Selatan lalu menjadi tuan rumah PD 2010 dan saat ini sama-sama tersandung isu penyuapan, seperti dilansir Deutsche Welle.

Louis-Dreyfus, yang wafat pada 2009, meminta kembali uang itu satu setengah tahun sebelum PD 2006 dimulai dan komite penyelenggara, menurut Der Spiegel, membayarnya kembali melalui rekening FIFA. Agar tak mencurigakan, dana pembayaran tersebut disebutkan sebagai sumbangan dari panitia Piala Dunia 2006 untuk acara gala dinner yang akan diselenggarakan FIFA di Berlin pada 2006. Acara tersebut kemudian batal dan dana itu tak jelas keberadaannya.

DFB, tentu saja, segera membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak ada dana gelap ataupun menukar suara dengan uang.

"DFB dengan tegas membantah tuduhan tak berdasar dari majalah Der Spiegel yang menyatakan bahwa ada 'dana gelap' yang berhubungan dengan komite pencalonan Piala Dunia 2006," kata DFB dalam pernyataan tertulis yang dinukil Reuters.

"Kami juga menolak kesimpulan si penulis yang dibuat tanpa fakta-fakta yang menunjukkan bahwa suara-suara telah dibeli untuk Piala Dunia. DFB meyatakan bahwa baik presiden DFB maupun anggota komite penyelenggara lainnya tidak terlibat dan dalam aksi seperti itu."

Walau demikian DFB mengakui tengah menyelidiki dana sebesar EUR6,7 juta (Rp102,5 miliar) yang dibayarkan kepada FIFA pada 2005 namun dipergunakan untuk hal yang bukan peruntukannya.

FIFA menyatakan isu ini akan segera diinvestigasi.

"Ini adalah tuduhan yang sangat serius," kata seorang pejabat FIFA kepada Reuters. "Isu-isu itu akan diperiksa sebagai bagian investigasi internal yang saat ini tengah dilakukan FIFA di bawah arahan direktur legal yang dibantu oleh dewan penasihat dari luar."

Menteri Kehakiman Jerman Heiko Maas kepada surat kabar Bild (h/t Deutsche Welle) menegaskan: "Tudingan-tudingan ini harus diklarifikasi tanpa kompromi. Para penggemar sepakbola berhak mengetahui kebenarannya."

Isu tak sedap ini semakin memojokkan FIFA. Pada Mei lalu 14 pejabat FIFA dan eksekutif perusahaan pemasaran olahraga didakwa di Amerika Serikat atas tuduhan penyuapan, pencucian uang dan penipuan yang melibatkan uang berjumlah total USD150 juta (Rp2,02 triliun).

Kemudian pada 8 Oktober lalu, Presiden FIFA Sepp Blatter diskors selama 90 hari karena "pembayaran aneh" kepada Presiden UEFA Michel Platini senilai 1,3 juta pound (kurs sekarang setara Rp27,5 miliar) pada Februari 2011. Platini juga menerima hukuman yang sama.

Jika isu suap PD 2006 ini terbukti benar maka akan menjadi skandal terbesar dalam sejarah sepakbola negara tersebut, mengalahkan skandal suap Bundesliga (divisi teratas di Jerman) pada era 1970-an yang melibatkan sepertiga klub peserta saat itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR