BULU TANGKIS

Fitriani akhiri dahaga gelar enam tahun tunggal putri

Fitriani tengah beraksi di babak pertama French Open 2018, Selasa (23/10/2018).
Fitriani tengah beraksi di babak pertama French Open 2018, Selasa (23/10/2018). | Badmintonindonesia.org /PBSI

Tahun baru, lembaran baru. Dan, pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Fitriani membuka lembaran tersebut dengan manis. Dara berusia 20 tahun tersebut berhasil menjadi juara di ajang Thailand Masters 2019.

Ini merupakan keberhasilan pertama tunggal putri Indonesia meraih podium setelah lebih dari enam tahun puasa gelar di turnamen papan atas. Thailand Masters merupakan turnamen dengan kategori HSBC BWF World Tour Super 300.

Terakhir tunggal putri Indonesia menjadi juara di turnamen bergengsi diraih oleh Lindaweni Fanetri. Lindaweni berhasil menjadi juara di Syed Modi International 2012, yang berlangsung di India.

"Saya bersyukur banget. Alhamdulillah di turnamen awal 2019 dapat hasil maksimal, meraih gelar juara," kata Fitriani dalam Badmintonindonesia.org.

Pada pertandingan yang diselenggarakan di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, Thailand, Minggu (13/1/2019) malam WIB, Fitriani berhasil mengatasi pemain tuan rumah, Busanan Ongbumrungphan, dalam dua gim langsung.

Dengan durasi pertandingan "hanya" 42 menit, Fitriani menang 21-12, 21-14. Tak ada resep khusus dari pemain didikan PB Exist Jakarta soal keberhasilannya menjadi juara.

"Saya hanya berusaha main maksimal, lebih sabar, dan lebih aman, serta jangan membuat kesalahan sendiri," kata Fitriani.

Sebenarnya, tanda-tanda Fitriani bakal menjadi juara di turnamen yang menyediakan total hadiah 150.000 dolar itu sudah bisa dilihat di awal. Beda dari turnamen-turnamen sebelumnya, di Thailand Masters 2019 Fitriani tampil lebih percaya diri.

Dalam perjalanannya, ia pun mengalahkan beberapa pemain unggulan. Selain Busanan (unggulan kedelapan), Fitriani juga berhasil mengalahkan unggulan pertama kejuaraan, Nitchaon Jindapol, dengan skor 21-10, 17-21, 21-16 pada babak kedua.

"Menurut saya, semua lawan dari babak awal tidak mudah dihadapi. Tinggal bagaimana di lapangannya, karena semua sebetulnya punya peluang, apa pun bisa terjadi. Yang lebih siap yang akan menang," tutur Fitriani.

Satu hal lain yang menjadi nilai plus Fitriani pada Thailand Masters ini adalah daya tahan. Stamina Fitriani bisa dibilang luar biasa. Pasalnya, sejak babak pertama hingga semifinal, ia selalu bermain tiga gim dengan durasi tak pernah kurang dari 54 menit.

Maka, pertandingan final Minggu malam kemarin yang hanya berlangsung dua gim, seperti menjadi antiklimaks dalam perjalan Fitriani di Thailand Masters.

"Penampilan dia (Busanan) hampir sama dengan pertemuan kami sebelumnya di Korea Masters 2018, tapi sepertinya hari ini dia kurang enak mainnya, dia banyak melakukan kesalahan sendiri," jelas Fitri soal pertandingan final.

Sejauh ini, Fitriani dan Busanan sudah empat kali bertemu sejak 2015. Hasilnya, pemain Indonesia itu unggul 3-1. Satu-satunya kekalahan Fitriani terjadi pada Thailand Open 2016.

Bagi Fitriani, kemenangan ini sangat berarti banyak. Hasil di Thailand Masters tersebut sekaligus membuktikan bahwa dia memang layak menjadi penghuni pelatnas Cipayung.

Fitriani tengah memperlihatkan piala Thaland Masters 2019. Dalam babak final yang berlangsung di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, Thailand, Minggu (13/1/2019) malam WIB, Fitriani mengalahkan wakil tuan rumah, Busanan Ongbumrungphan dengan skor 21-12, 21-14.
Fitriani tengah memperlihatkan piala Thaland Masters 2019. Dalam babak final yang berlangsung di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, Thailand, Minggu (13/1/2019) malam WIB, Fitriani mengalahkan wakil tuan rumah, Busanan Ongbumrungphan dengan skor 21-12, 21-14. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Maklum, meski sudah sekitar dua tahun terakhir menghuni pelatnas, Fitriani belum pernah sekali pun juara di turnamen bergengsi. Sebelumnya, ia hanya menjadi juara di turnamen level bawah, yakni Indonesia International Series 2015 dan Indonesia International Challenge 2016.

Pamor dia pun akhirnya kalah jika dibandingkan dengan juniornya, Gregoria Mariska Tunjung (19 tahun), yang kini menjadi tulang punggung Indonesia di sejumlah turnamen.

Bukan tanpa alasan menjadikan Gregoria sebagai andalan. Ia adalah tunggal putri Indonesia dengan rangking tertinggi dalam daftar peringkat Badminton World Federation.

Gregoria saat ini menduduki peringkat 15 dunia. Sedangkan Fitriani 33 dunia. "Terima kasih kepada orangtua dan keluarga yang selalu mendukung dalam keadaan apapun, serta para pelatih yang memberi masukan, motivasi untuk lebih baik," tutup Fitriani.

View this post on Instagram

Ayo fitri....berjuang dan semangat utk Indonesia????????????????

A post shared by Susy Susanti (@susysusantiofficial) on

Berikut hasil lengkap pertandingan final Thailand Masters 2019:

Ganda Campuran

Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (1/Malaysia) vs Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (2/Thailand) 21-16, 21-15

Ganda Putra

Goh V Shem/Tan Wee Kiong (1/Malaysia) vs Lu Ching Yao/Yang Po Han (5/Taiwan) 21-13, 21-17

Tunggal Putra

Loh Kean Yew (Singapura) vs Lin Dan (1/Tiongkok) 21-19, 21-18

Ganda Putri

Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai (Thailand) vs Lin Wenmei/Zheng Yu (5/Tiongkok) 15-21, 21-15, 21-10

Tunggal Putri

Fitriani (Indonesia) vs Busanan Ongbumrungphan (8/Thailand) 21-12, 21-14

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR