BULU TANGKIS

Hadapi 2018, PBSI ubah sistem pembinaan

Para atlet tengah berlatih saat mengikuti Denmark Open superseries pada Selasa (17/10). PBSI menerapkan sistem pembinaan baru untuk memacu prestasi para pelatnas.
Para atlet tengah berlatih saat mengikuti Denmark Open superseries pada Selasa (17/10). PBSI menerapkan sistem pembinaan baru untuk memacu prestasi para pelatnas. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Meraih 38 gelar juara bulu tangkis dari level international series hingga superseries premier sepanjang 2017 tak membuat PBSI terlena. Padahal jumlah itu belum termasuk turnamen dengan kategori kalender BWF--seperti Kejuaraan Dunia senior-junior.

Masih banyak yang harus dibenahi Federasi. Maka dari itu, wadah bulu tangkis tertinggi di Indonesia tersebut merombak para penghuni Cipayung, markas mereka. Sebanyak 15 atlet pelatnas terdepak.

Menurut Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, salah satu tujuan PBSI merombak itu--selain karena agenda rutin tahunan--juga karena ingin mempercepat proses regenerasi.

Namun, bukan hanya merombak skuat pelatnas saja langkah yang dilakukan PBSI untuk menghadapi tahun depan. Demikian juga dengan sistem pembinaan atlet penghuni pelatnas. Yang terakhir ini adalah soal status pemain.

Menurut Susy, bakal ada tiga kategori atet yang bakal ditetapkan PBSI mulai 2018. Pertama adalah atlet-atlet yang tertera di Surat Keputusan (SK) sebagai atlet pelatnas yang seluruh pembiayaan latihan dan pertandingan selama setahun dibiayai PBSI.

Untuk kategori ini, terdapat nama-nama seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Jonatan Christie, hingga Gregoria Mariska Tunjung.

Kedua, atlet dengan SK Pemantauan, di mana pembiayaan pelatihan dan pertandingan akan dibiayai oleh PBSI selama enam bulan. Dalam rentang waktu tersebut akan dipantau dan dievaluasi prestasinya.

Cukup banyak nama-nama yang kerap muncul di media nasional untuk kategori ini. Rian Agung Saputro, Angga Paratama, Hardianto, Berry Angriawan, Ricky Karandasuwardi, hingga Nitya Krishinda Maheswari masuk dalam kategori "pemantauan".

Jika tak memenuhi target maka statusnya akan berubah menjadi pemain magang atau bahkan dipulangkan ke klub masing-masing (degradasi).

"Magang kan bisa beberapa bulan. Penilaiannya bukan cuma potensi, tapi lihat sikap, kemauan, dan progres kalau di Pelatnas seperti apa?" ungkap Susy, seperti dikutip dari Badmintonindonesia.org.

Ketiga, pemain magang. Untuk kategori ini, biaya latihan bakal ditanggung PBSI. Namun, untuk mengikuti suatu pertandingan dibiayai oleh klub masing-masing.

Untuk kategori terakhir ini, PBSI tetap melakukan evaluasi penampilannya secara berkala selama enam bulan. Kecuali jika si atlet melakukan tindak indisipliner, dapat dipulangkan ke klub sewaktu-waktu.

"Jika berprestasi akan naik menjadi pemain dengan SK Pemantauan," ucap Susy. Nama-nama yang masuk dalam kategori ini mayoritas diisi oleh pemain yang baru saja dipromosikan ke pelatnas atau pemain muda.

Nama beken yang masuk kategori magang adalah Hendra Setiawan. Namun, keberadaan mantan juara dunia pada 2013 dan 2015 saat berpasangan dengan Mohammad Ahsan itu lebih dikarenakan kebutuhan PBSI, bukan karena usianya yang muda.

Hal ini bisa dimaklumi. Sebab, meski ganda putra tampil cemerlang di 2017, namun kondisi itu lebih dikarenakan keberadaan Kevin/Marcus saja. Pasangan lainnya belum mampu berbicara banyak di level superseries.

Maka, demi menghadapi banyaknya turnamen di 2018--karena ada Asian Games dan Thomas-Uber dan juga sejumlah turnamen kategori superseries--PBSI kembali menarik Hendra ke pelatnas.

"Mengenai bergabungnya Hendra memang awalnya untuk program jangka pendek, di Piala Thomas. Di pertandingan beregu, dibutuhkan pemain yang mentalnya sudah teruji," ucap Herry Iman Pierngadi, Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI.

Harapan Susy, perubahan sistem pembinaan ini dapat mengerek prestasi atlet Cipayung. Sebab, atlet yang memiliki SK-pun bukan semata-mata aman ke depannya. Tiap setahun akan kembali dievaluasi.

"Kalau sudah di daftar SK tetap, merasa sudah di zona nyaman paling tidak setahun, ini yang saya tidak mau. Jadi mungkin di sini akan ada perbaikan, bukan mau seenaknya," kata Susy.

"Saya mau yang jadi penghuni pelatnas itu adalah yang terbaik, sesuai dengan kriteria yang kami butuhkan."

Memang, sepanjang 2017 prestasi bulu tangkis Indonesia terbilang apik--12 gelar superseries dan satu juara dunia--melebihi torehan 2016, yang meraih 9 gelar. Bahkan, capaian ini melebihi prestasi 2011, di mana Indonesia berhasil membawa pulang 11 gelar.

Dengan capaian tersebut, PBSI pun berharap para atletnya mampu menjaga prestasi tersebut. "Kita coba raih kejayaan yang pernah kita capai. Kita coba raih kembali," ucap Susy, seperti dikutip dari Bola.com.

BACA JUGA