LIGA NEGARA UEFA

Hal yang harus diketahui usai babak grup

Trofi Liga Negara UEFA tengah dipamerkan saat pengundian di SwissTech Convention Center di Lausanne, Swiss (24/1/2018). Liga Negara Eropa kini tengah menyelesaikan babak grup.
Trofi Liga Negara UEFA tengah dipamerkan saat pengundian di SwissTech Convention Center di Lausanne, Swiss (24/1/2018). Liga Negara Eropa kini tengah menyelesaikan babak grup. | Jean-Christophe Bott /EPA-EFE

Liga Negara UEFA sudah menyelesaikan semua pertandingan di babak grup. Empat tim bakal menjalani laga semifinal, 12 tim promosi dari Liga D ke C, C ke B, dan B ke A, sebaliknya 12 tim lain terdegradasi ke liga lebih bawah.

Pertandingan Portugal vs. Polandia yang berakhir imbang 1-1 pada Rabu (21/11/2018) dini hari WIB, menjadi penanda dari berakhirnya babak grup. Hasil ini tentu tak mengubah posisi Portugal, pemuncak klasemen Liga A Grup 3.

Namun, bagi Polandia, laga tersebut menjadi penanda hilangnya status mereka sebagai negara elite dalam percaturan sepak bola Eropa. Pasalnya, mereka turun ke Liga B.

Sebagai catatan, penyebutan liga pada Liga Negara UEFA ini semacam grup di sejumlah turnamen lainnya, seperti Liga Champions, Liga Europa, maupun Piala Dunia.

Dan, yang paling mengejutkan dalam fase babak grup adalah, "lengsernya" Jerman dari Liga A. Kemenangan 2-0 Belanda atas Prancis di Grup 1 pada akhir pekan lalu, membuat Nationalmannschaft turun ke Liga B.

Sama seperti Polandia, juara Piala Dunia empat kali tersebut juga belum diketahui bakal menghuni Liga B berapa--entah Grup 1, 2, 3, atau 4.

Sedangkan juara masing-masing grup di Liga A, bakal berlaga di babak semifinal. Mereka adalah Belanda (juara Grup 1), Swiss (Grup 2), Portugal (Grup 3), dan Inggris (Grup 4).

Untuk mengetahui siapa melawan siapa pada babak semifinal, maupun penentuan negara yang terdegradasi bakal bertarung di liga apa, Anda bisa menunggu hingga 3 Desember 2018.

Pada hari itu, Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) akan melakukan pengundian di Dublin, Irlandia. Nantinya, babak semifinal akan berlangsung pada 6 dan 7 Juni 2019. Sedangkan babak final dan perebutan tempat ketiga dijadwalkan 9 Juni 2019.

Empat pertandingan pada Juni tadi berlangsung di Portugal. Hingga saat ini, kandang FC Porto, Estadio do Dragao, dan Stadion di Guimaraes, Estadio D. Afonso Henriques, tengah mengajukan diri sebagai tuan rumah.

Pada babak empat besar tersebut, tiap tim akan sekali bertanding. Bila hingga 90 menit waktu normal berjalan masih imbang, babak tambahan waktu akan diberlakukan sebelum menuju fase adu penalti.

Selain itu, yang membedakan Liga Negara UEFA adalah, tiap tim diperbolehkan mengganti hingga total empat pemainnya, dengan syarat pertandingan masuk babak tambahan waktu.

Nantinya, juara Liga Negara UEFA berhak mendapat trofi setinggi 71 sentimeter yang terbuat dari perak, ditambah uang sebesar 7,5 juta euro (Rp124,4 miliar).

Sedangkan runner-up berhak atas uang 6,5 juta euro, tempat ketiga (5,5 juta euro), dan peringkat keempat (4,5 juta euro). Selain uang hadiah itu, tiap tim yang berlaga pada babak empat besar berhak atas uang partisipasi sebesar 3 juta euro. Jumlah ini belum termasuk hadiah keberhasilan mereka menjadi pemuncak Liga A.

Apakah semua peserta Liga Negara UEFA juga mendapat uang partisipasi? Jawabannya ya. Hanya saja, besarannya tergantung kasta liga. Para peserta Liga A, mendapat 1,5 juta euro, Liga B, 1 juta euro, Liga C 750.000 euro, dan Liga D 500.000 euro.

"Total, 76,25 juta euro yang disediakan asosiasi untuk penyelenggaraan pertama Liga Negara UEFA yang diikuti oleh 55 negara," tulis lama resmi UEFA.

Besarkah jumlah tersebut? Terhitung kecil bila dibandingkan juara Piala Dunia. Prancis, juara kompetisi sepak bola terakbar di kolong langit pada 2018, meraih hadiah uang 38 juta dolar sebagai juara. Dan Kroasia, finalis lainnya, berhak atas 28 juta dolar. Demikian laporan CNBC.

Namun, besarnya hadiah bukan menjadi tujuan utama para peserta Liga Negara UEFA. Misalnya Belanda. Meski dikenal sebagai negara dengan sejarah sepak bola panjang dan menciptakan taktik total football, Belanda sudah lama tak berprestasi.

Mereka terakhir mengangkat trofi saat menjuarai Piala Eropa 1988. "Jika kami dapat memenangi Liga Negara Eropa, itu sesuatu yang fantastis," ucap pelatih Belanda, Ronald Koeman, dalam The National.

"(Kami harus) menampilkan yang terbaik untuk membuat bangga negara."

Capaian semifinal juga membuat Manajer Inggris, Garteh Southgate, bangga. Hasil ini, menurutnya, merupakan bukti bahwa Inggris tak terlena dengan hasil di Piala Dunia 2018, saat mereka menjadi semifinalis.

"Kami sangat cepat beranjak dari Piala Dunia. Ini adalah tahun yang brilian," ucap Southgate dalam BBC. Kecuali Portugal yang baru saja menjuarai Piala Eropa 2016, ketiga negara lain berpeluang untuk mengakhiri dahaga gelar juara.

Maklum, bila Belanda terakhir juara pada 1988, Inggris lebih lama lagi. Yakni Piala Dunia 1966. Sedangkan Swiss, bila boleh jujur, selama ini dianggap sebagai negara sepak bola kelas dua di Eropa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR