PIALA ITALIA

Hancurkan Milan, Juventus incar sejarah gelar ganda

Para pemain Juventus tengah merayakan kemenangan mereka di babak final Piala Italia di Stadio Olimpico, Roma, Italia, pada Kamis (10/5/2018) dini hari WIB. Juventus melumat Milan 4-0.
Para pemain Juventus tengah merayakan kemenangan mereka di babak final Piala Italia di Stadio Olimpico, Roma, Italia, pada Kamis (10/5/2018) dini hari WIB. Juventus melumat Milan 4-0. | Riccardo Antimiani /EPA-EFE

Juventus kian menahbiskan diri sebagai penguasa kompetisi domestik di Italia. Di Serie A Liga Italia, mereka selangkah lagi menjadi juara. Sedangkan di Piala Italia, "Si Nyonya Besar" baru saja menghajar AC Milan di partai final.

Berlaga di Stadio Olimpico, Roma, Italia, Kamis (10//5/2018) dini hari WIB, Juventus memukul Milan dengan angka telak, 4-0. Gelontoran gol tersebut dicetak Medhi Benatia menit ke-56 dan 64, Douglas Costa (61), dan bunuh diri Nikola Kalinic (76).

Sebenarnya, dalam pertandingan tersebut, kedua tim bermain imbang pada awal pertandingan. Jual-beli serangan ditampilkan kedua tim. Dan, masing-masing kiper, Gianluigi Buffon (Juventus) dan Gianluigi Donnarumma (Milan), tampil apik.

Masalah bagi Milan mulai timbul di babak kedua, khususnya lewat tendangan pojok; tiga gol terjadi lewat proses ini. Baik bek maupun kiper Milan tampil sangat mengecewakan.

Dua kali Donnarumma gagal mengadang bola, hingga terjadi gol untuk Benatia dan Costa. Sedangkan gol pertama Benatia, diawal kesalahan Alessio Romagnoli yang tak mampu menempel ketat bek asal Maroko tersebut.

Di luar jumlah gol, sebenarnya kedua tim tampil cukup seimbang. Dari penguasaan bola misalnya, dalam lansiran BBC, Juventus kalah sangat tipis, 49 persen berbanding 51 persen milik Milan.

Sedangkan jumlah tembakan, Juventus berhasil membuat 10 tendangan tepat sasaran, Milan enam kali. "Hasil akhir tidak menggambarkan keseluruhan pertandingan, karena jika Anda melihat babak pertama, kami menciptakan peluang bersih," ucap pelatih Milan, Gennaro Gattuso, di laman resmi mereka.

Kemenangan dengan marjin empat gol ini, juga menjadi catatan tersendiri bagi Juventus. Pasalnya, terakhir mereka melakukan hal itu adalah dua dekade lalu, tepatnya pada pekan ke-26 Serie A 1996/1997, 6-1.

Dengan hasil itu, Juventus berhasil menjuarai Piala Italia sebanyak 13 kali sepanjang sejarah, atau empat kali beruntun dalam empat tahun terakhir.

"Kami telah menulis bagian lain dari sejarah Juventus. Dan sekarang saatnya merayakan," ucap Allegri, di situs resmi Juventus. "Menjuarai Piala Italia empat kali beruntun tidaklah mudah. Kini kami harus memastikan gelar liga."

Untuk merealisasikan hal itu, mereka akan bertemu AS Roma pada akhir pekan besok. Minimal, mereka membutuhkan hasil imbang untuk keluar sebagai juara. Bila pada pertandingan tersebut Juventus kalah, mereka tetap bisa menjuarai Serie A Italia.

Syaratnya, Juventus harus menang--atau minimal imbang--di pertandingan terakhir melawan Verona di Juventus Stadium, Torino, Italia. Bukan pekerjaan sulit untuk meraih poin dari Verona di kandang sendiri.

Jadi, hanya soal waktu waktu saja bagi Juventus meraih gelar ganda keempat secara beruntun. Bila hal itu terjadi, maka ini adalah sejarah bagi mereka: gelar ganda empat tahun beruntun.

Di luar koleksi piala, kemenangan ini tentu menambah pundi-pundi uang Juventus. Setidaknya, mereka bakal mendapatkan 5,7 juta euro (Rp95 miliar) karena berhasil juara Piala Italia. Rinciannya, 3,9 juta euro dari hadiah dan 1,8 juta euro lewat penjualan tiket.

Sedangkan Milan, total mendapat 4,3 juta euro (2,5 juta euro dari hadiah dan 1,8 juta euro dar tiket).

Jumlah tersebut terhitung kecil bila dibandingkan Liga Champions. Sang juara, bakal mendapat 15,5 juta euro hanya dari hadiah, dan runner-up 11 juta euro, berdasarkan laporan Total Sportek.

Sebagai catatan, angka-angka tersebut hanya sebagai partisipan di masing-masing babak. Bukan menggambarkan total uang yang diterima oleh masing-masing klub di semua pertandingan di Piala Italia maupun Liga Champions.

Kebangkitan Benatia

Siapakah pemain yang harus diberi kredit dalam pertandingan tersebut? Bila mengacu pada penampilan buruk, bisa jadi para pemain Milan jawabannya. Tetapi bila kredit itu mengacu siapa terbaik, sekiranya pantas disematkan kepada Medhi Benatia.

Dua gol yang ia buat menjadi jawabannya. Ia bukan pemain dengan posisi penyerang macam Mario Mandzukic atau Paulo Dybala. Dia hanyalah seorang bek. Namun, capaiannya dalam pertandingan kali ini, melebihi kedua nama yang disebut di awal.

Bahkan, bila dibandingkan dengan penyerang Milan, apa yang dilakukan Benatia sangat kontras. Misalnya, bila dikomprasikan dengan Patrick Cutrone. Sepanjang babak pertama, penyerang Milan itu hanya menyentuh bola sebanyak 10 kali.

Buffon, yang notabene berposisi sebagai kiper, bahkan menyentuh lebih banyak, 11 kali di babak pertama. Maka, bila indikator pemain terbaik adalah jumlah gol, sudah pasti Benatia lebih baik dari Cutrone maupun para penyerang Juventus.

Sepanjang musim ini, Benatia telah mencetak empat gol di semua kompetisi yang ia ikuti. Dari jumlah tersebut, dua ia jaringkan di gawang Milan.

"Setelah kesalahanku yang membuat Kalidou Koulibaly (pemain Napoli) mencetak gol, orang mengatakan saya adalah sampah. Saya ingin memberi respon karena itu menyakitkan," ucap Benatia. "Sangat menyenangkan melihat suporter bahagia."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR