Hari baru, rekor baru bagi sang dewa tenis

Roger Federer memamerkan trofi setelah menjuarai tunggal putra Wimbledon 2017 dengan mengalahkan Marin Cilic di All England Lawn Tennis Club, London, Minggu (16/7/2017).
Roger Federer memamerkan trofi setelah menjuarai tunggal putra Wimbledon 2017 dengan mengalahkan Marin Cilic di All England Lawn Tennis Club, London, Minggu (16/7/2017).
© Peter Klaunzer /EPA

Usai dikalahkan Roger Federer pada semifinal Wimbledon 2017, Jumat (14/7) seorang wartawan bertanya kepada Tomas Berdych: "Jika Anda bertemu dengan dewa tenis dan dia bertanya, 'Tolong sebutkan satu kelemahan Roger Federer,' apa yang akan Anda katakan?"

Berdych menjawab ada kesalahan logika pada pertanyaan itu. Sebab, Federerlah sang dewa tenis.

Pujian yang hiperbol memang. Tetapi, jika melihat semua data sepanjang karier petenis asal Swiss tersebut, sepertinya tak salah jika ada yang beranggapan bahwa Federer adalah dewa tenis.

Pada Minggu (16/7), Federer kembali membuktikan kehebatannya dengan menjuarai tunggal putra Wimbledon 2017 setelah mengalahkan Marin Cilic straight set, 6-3, 6-1, 6-4 pada pertandingan final di All England Lawn Tennis Club, London.

Untuk pertama kalinya sejak 2012, Federer kembali berjaya di turnamen Grand Slam lapangan rumput tersebut.

Kemenangan itu menambah rangkaian rekor pribadi sepanjang karier pria yang mulai menjadi petenis profesional pada 1998 tersebut. Beberapa di antaranya adalah:

  • Trofi Wimbledon tersebut menjadi yang ke-8 untuk Federer, membuatnya melampaui pencapaian Pete Sampras dan William Renshaw;
  • Dalam usia 35 tahun, ia menjadi petenis tertua yang mengangkat trofi Wimbledon sejak era Terbuka dimulai pada 1968;
  • Kemenangan itu menambah koleksi gelar juara Grand Slam-nya menjadi 19 buah, lebih banyak empat piala dibandingkan pesaing terdekatnya, Rafael Nadal;
  • Ia menjadi petenis kedua setelah Bjorn Borg pada 1976 yang menjuarai Wimbledon tanpa kehilangan satu set pun sepanjang turnamen.

"Memegang trofi ini berarti segalanya bagi saya, khususnya saat saya tidak kehilangan satu set pun," kata Federer kepada BBC TV (h/t ATP World Tour) usai pertandingan. "Ini magis, saya belum bisa mempercayainya. Sulit dipercaya bahwa saya bisa mencapai hasil setinggi ini."

Atlet kelahiran Basel, Swis, 8 Agustus 1981 ini mengaku tidak yakin bisa sampai ke final turnamen ini, khususnya setelah kalah dari Novak Djokovic pada final 2014 dan 2015. Tahun lalu ia lolos hingga semifinal namun ditaklukkan Milos Raonic.

Cedera lutut kiri yang berkepanjangan pada musim 2016 membuat ia lalu memutuskan untuk istirahat dari tenis agar bisa sembuh total. Federer pun menyimpan raketnya mulai 26 Juli 2016 dan baru kembali ke lapangan pada awal tahun ini.

Keputusan tersebut sangat tepat karena ia masuk ke lapangan dalam keadaan segar dan bugar. Grand Slam pembuka musim, Australia Terbuka, dimenanginya dengan menaklukkan Nadal, sang musuh bebuyutan. Kemudian ia juga menjadi juara di Indian Wells dan Miami.

Setelah itu, Federer memutuskan untuk sama sekali tidak bermain dalam turnamen di lapangan tanah liat, termasuk Prancis Terbuka. Sudah bukan rahasia lagi kalau tanah liat bukan permukaan kesukaan sang dewa, walau pernah juara di Paris pada 2009.

Lagi-lagi keputusan itu terbukti menguntungkan karena Federer berada dalam kondisi fisik terbaiknya saat datang ke Wimbledon. Usia yang sudah tak lagi muda memang membuat seorang atlet mesti bisa memahami kekuatan dirinya sendiri dan sasaran prioritasnya.

"Saya selalu percaya bisa kembali (ke Wimbledon) dan melakukannya lagi (menjadi juara, red.). Jika Anda memiliki keyakinan, Anda bisa pergi jauh dalam hidup Anda," terang Federer.

"Di sini lah saya dengan gelar juara yang kedelapan. Ini luar biasa."

Selain piala, kemenangan itu menambah USD2,9 juta (Rp38,6 miliar) ke dompet Federer. Menurut data Forbes, sepanjang karier profesionalnya, petenis yang memiliki dua pasang anak kembar itu telah mengumpulkan hadiah uang total USD104,4 juta (Rp1,38 triliun).

Marin Cilic berbicara dengan petugas medis di sela-sela pertandingan final Wimbledon 2017 melawan Roger Federer.
Marin Cilic berbicara dengan petugas medis di sela-sela pertandingan final Wimbledon 2017 melawan Roger Federer.
© Daniel Leal-Olivas/Pool Photo via AP /AP Photo

Cilic sebenarnya bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan. Dalam dua pertemuan mereka sebelum final itu, Federer mesti bekerja keras untuk bisa menang atas petenis asal Kroasia tersebut.

Namun, sial bagi Cilic, cedera kaki mengganggunya pada partai pamungkas tersebut. Ia sempat mendapat perawatan saat tertinggal 0-3 pada set kedua dan kemudian mengganti perban pada kakinya sebelum set ketiga dimulai.

Walau demikian, petenis berusia 28 tahun yang untuk pertama kalinya maju sampai final di Wimbledon itu memutuskan untuk tetap bertanding.

"Itulah yang saya lakukan sepanjang karier. Saya tidak pernah menyerah setelah mengawali pertandingan. Itulah yang ingin saya lakukan hari ini. Saya memberi yang terbaik dan sejauh itulah yang bisa saya lakukan," papar Cilic, seperti dikutip The New York Times.

Legenda tenis dari Jerman, Boris Becker, melontarkan pujian dan kekagumannya kepada Federer.

"Semua orang lebih muda darinya dan ia menemukan cara untuk menang dengan mudah, konsisten di semua permukaan lapangan, kecuali tanah liat," kata juara Wimbledon tiga kali itu kepada BBC.

"Sungguh sulit dipahami. Menurut Anda, ke mana ia menuju sekarang? Apakah trofi ke-20 Grand Slam di AS Terbuka?"

AS Terbuka akan berlangsung 8 Agustus-10 September di New York. Federer telah lima kali menjuarai Grand Slam tersebut, terakhir pada 2008.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.