ALL ENGLAND 2019

Hendra/Ahsan buktikan usia bukan halangan untuk berprestasi

Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan meluapkan kegembiraan seusai memenangi pertandingan final All England 2019 melawan ganda putra Malaysia Aaron Chia dan Soh Wooi Yik di Arena Brimingham, Inggris, Minggu (8/3/2019).
Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan meluapkan kegembiraan seusai memenangi pertandingan final All England 2019 melawan ganda putra Malaysia Aaron Chia dan Soh Wooi Yik di Arena Brimingham, Inggris, Minggu (8/3/2019). | Widya Amelia - Humas PP PBSI /Antara Foto

Usia bukan halangan bagi para atlet untuk mencapai prestasi tertinggi, jika tahu cara menyiasatinya. Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjadi buktinya. Mereka menjuarai All England 2019, Minggu (10/3/2019), dalam usia yang terbilang tak muda lagi untuk ukuran pemain bulu tangkis.

Hendra (34 tahun)/Ahsan (31) mengalahkan ganda muda Malaysia yang prestasinya tengah menanjak, Aaron Chia (21)/Soh Wooi Yik (20). Kalah pada gim pertama, Duo Daddies--julukan ganda Indonesia itu--bangkit untuk menang 11-21, 21-14, 21-12 di Arena Birmingham, Inggris.

Itu menjadi trofi All England kedua bagi Hendra/Ahsan setelah juga menjuarai BWF World Tour Series 1000 berhadiah total 1 juta dolar AS tersebut pada 2014. Selain itu, untuk pertama kali sejak Dubai World Superseries Finals 2015 di Uni Emirat Arab, mereka kembali menjuarai turnamen tingkat teratas di dunia bulu tangkis.

Hal lain yang membuat gelar tersebut lebih istimewa, kondisi fisik Hendra belum 100 persen pulih dari cedera betis yang dideritanya saat mengalahkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda di semifinal.

"Saya fokus ke pertandingan hari ini, sebisa mungkin nggak mikirin kaki saya. Sakitnya masih terasa, tapi lebih baik dari kemarin. Motivasinya harus tinggi, ini partai final dan di All England, kami nggak mau kalah begitu saja," ujar Hendra kepada BadmintonIndonesia.org.

Ahsan memuji performa Chia/Soh yang pernah mereka kalahkan dalam dua pertemuan sebelumnya. "Pemain Malaysia itu amat bagus, tetapi bagi kami, bisa menang meski Hendra cedera adalah hasil luar biasa," tandasnya dikutip situs resmi BWF.

Selain membawa pulang gelar juara, Hendra/Ahsan juga membuka lebar jalan menuju ambisi utama mereka tahun ini, yaitu mengumpulkan sebanyak-banyaknya poin untuk bisa lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Juara turnamen kelas Super 1000, menurut aturan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), akan mendapatkan 12.000 poin. Gelar juara All England menambah poin ganda Indonesia itu hingga mencapai angka 76.130. Mereka pun naik ke peringkat ke-4 ganda putra dunia.

Berdasarkan sistem kualifikasi untuk Olimpiade 2020 (pdf) yang ditetapkan BWF, setiap negara berhak mengirim dua pasang pebulu tangkis, jika keduanya menempati Peringkat Dunia 1-8 per 30 April 2020.

Mental juara

Pelatih ganda putra Pelatnas PBSI, Herry Iman Pierngadi, memuji mental juara yang masih melekat pada juara dunia 2013 dan 2015 itu. Walau Hendra/Ahsan sudah keluar dari pelatnas sejak Januari lalu dan bermain sebagai profesional, mereka meminta Herry untuk tetap mendampingi pada waktu senggang. Sang pelatih tak keberatan.

"Mereka punya mental juara, walaupun kondisinya nggak prima dan ketinggalan di game pertama, memang mental juaranya kelihatan," puji Herry.

"Yang harus ditiru dari Hendra/Ahsan, mereka tidak pernah menyerah. Sebelum poin 21, masih memungkinkan memenangkan pertandingan. Lihat saja, di game pertama kan jauh kalahnya, tapi mereka bisa bangkit, bisa menang, itu memang mental juara. Tapi secara teknik mereka memang lebih di atas, dibanding pemain-pemain di tim ganda putra."

Sementara Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PBSI, Susi Susanti, melihat bahwa pengalaman dan ketenangan Hendra/Ahsan di lapangan menjadi kunci kemenangan. Banyak hal, menurut Susi, yang membuat Duo Daddies harus menjadi panutan bagi para juniornya di Cipayung, Jakarta Timur, markas Pelatnas PBSI.

"Saya katakan kepada adik-adik mereka semua, itu panutan, dari disiplinnya, attitude -nya, sikapnya, pada saat di lapangan, di latihan, benar-benar mencerminkan seorang juara," tegas juara tunggal putri All England tiga kali itu.

Keberhasilan Hendra/Ahsan membuat Indonesia selalu bisa membawa pulang satu gelar juara All England sejak Praveen Jordan/Debby Susanto menang di nomor ganda campuran pada 2016. Dilanjutkan ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gideon pada 2017 dan 2018.

Bedanya, kali ini yang menjadi juara bukanlah atlet dari pelatnas. Walau demikian, Susi menyatakan bahwa ia tetap menganggap Hendra/Ahsan sebagai bagian dari pelatnas, terutama karena keduanya masih ikut berlatih di Cipayung.

Soal pemain asli pelatnas, Susi melihat ada peningkatan karena ada dua wakil yang bisa maju hingga semifinal--Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Tahun lalu hanya satu wakil yang sampai semifinal.

Ia menegaskan, kerja keras harus terus dilakukan oleh atlet semua nomor pertandingan, apalagi persaingan semakin hari semakin ketat.

"Jangan terlena dengan satu kemenangan ini, justru ini menjadi awal untuk kami terus semangat lagi mencapai yang lebih tinggi di olimpiade nanti," kata Susi.

Hasil lengkap final All England 2019

Tunggal putra
Kento Momota (Jepang) menang atas Viktor Axelsen (Denmark), 21-11, 15-21, 21-15

Tunggal putri
Chen Yufei (Tiongkok) menang atas Tai Tzu Ying (Taiwan), 21-17, 21-17

Ganda putra
Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia) menang atas Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), 11-21, 21-14, 21-112

Ganda putri
Chen Qingchen/Jia Yifan (Tiongkok) menang atas Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Jepang), 18-21, 22-20, 21-11

Ganda campuran
Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Tiongkok) menang atas Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang) , 21-17, 22-20

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR