Ricko Andrean jadi korban rivalitas kelewat batas

The Jak menyalakan kembang Api saat Persija melawan Persib di Stadion Manahan, Solo pada 2016.
The Jak menyalakan kembang Api saat Persija melawan Persib di Stadion Manahan, Solo pada 2016.
© Maulana Surya /Antara Foto

Seharusnya, Sabtu (22/7) pekan lalu, adalah hari yang biasa saja bagi Ricko Andrean. Saat itu, seharusnya pemuda asal Cicadas, Bandung, Jawa Barat tersebut, tengah mencari-cari info pekerjaan. Namun, semua itu berubah akibat sebuah pesan dari temannya.

Ricko pun keluar siang menjelang sore. Tujuannya, Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GLBA), kandang Persib Bandung. Hari itu, tim kebanggaan kota Bandung dan sekitarnya tersebut memang tengah bertanding melawan musuh bebuyutannya, Persija Jakarta.

Sebagai seorang Bobotoh--julukan suporter Persib--ia pun tak ingin kelewatan pertandingan tersebut. Sayang, itu adalah hari terakhir baginya menyaksikan Persib Bandung.

Pasalnya, di tengah pertandingan, ia dipukuli oleh sejumlah oknum bobotoh sendiri. Ia disangka Jakmania--sebutan untuk pendukung Persija Jakarta. Begitu kronologis yang diceritakan Abubakar, paman Ricko, seperti yang disadur dari Detik.com.

Ricko memang diketahui anak yatim-piatu.

"Lagi istirahat pertandingan, dia (Ricko) makan. Baru dua suap, dia segera ke (tribun) atas, mungkin karena ada keributan," cerita Abubakar. Cerita tersebut, Abubakar dapat dari teman-teman Ricko yang datang bareng ke GLBA.

Tetapi, ketika teman-temannya sudah turun, Ricko tak jua kembali ke tempat duduknya. Merasa heran, akhirnya mereka kembali ke atas dan mendapati Ricko sudah babak belur.

"Baru selesai dipukul setelah Ricko mengeluarkan kartu anggota Viking (suporter Persib)," ucap Abubakar. Akibat insiden itu, Ricko mengalami memar di wajah depan dan bagian belakang kepala. Selain itu, terdapat juga luka memar di dada kiri.

Sempat mendapat perawatan selama lima hari di Rumah Sakit Santo Yusup, Jalan Cikutra, Bandung, Ricko tidak kuat menahan sakitnya dan menghembuskan nafas terakhir pada Kamis (27/7).

"Dia merasa sakit jam lima pagi tadi, ada pendarahan di dada dan kepala bagian belakangnya," kata Abubakar.

Saat dirawat, sejumlah pihak datang menjenguk Ricko yang tak sadarkan diri. Di antaranya, Manajer Persib Umuh Muchtar, Fery Indrasjafrie (Ketum Jakmania), hingga Walikota Bandung--Ridwan Kamil. Bahkan, nama terakhir itu geram.

Kini, Polrestabes Bandung berjanji bakal mengusut kasus pengeroyokan tersebut. Menurut Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo, sampai kemarin keluarga Ricko memang belum membuat laporan.

"Kita mengambil langkah membuat laporan. (Dan) Kita akan cek TKP dan olah TKP kembali," ujar Hendro.

Sebenarnya, pihak kepolisian sudah melarang The Jak untuk datang ke Bandung. Meski demikian, tetap ada saja The Jak yang nekat datang. Seperti yang dilakukan Boboy Ilham Hafifi. Toh, Boboy pada akhirnya ketahuan dan dipukuli.

Rivalitas kelewat batas

Kejadian seperti ini harus disesalkan. Pasalnya, rivalitas yang berakhir kerusuhan antar kedua suporter itu, bukan kali ini saja terjadi. Tidak perlu berpikir jauh ke belakang, pada Mei kemarin saja sudah ada korban terkait hal tersebut.

Adalah Agen Astava, Jakmania asal Cikarang, Jawa Barat yang dikeroyok oleh sejumlah orang yang diduga Viking--julukan lain bobotoh. Agen, yang baru saja pulang dari pertandingan Persija vs Bali United, diserang dengan menggunakan senjata tajam hingga tewas di daerah Cibitung, Cikarang Barat, Jawa Barat.

Sedikit mundur ke belakang, pada November 2016. Salah satu anggota The Jak, Harun Al Rasyid Lestaluhu tewas saat pulang dari Solo, Jawa Tengah, ke Jakarta setelah pertandingan Persija vs Persib karena hal serupa.

Menurut rilis Pengurus Pusat The Jakmania, yang diterbitkan Fourfourtwo.com, serangan tersebut dilakukan oleh bobotoh.

Pada 2012, Rangga Cipta Nugraha (bobotoh) tewas dikroyok The Jakmania di GBK kala pertandingan Persija vs Persib.

Menurut Anky Rakhmansyah, pendiri Viking Frontliner--salah satu kelompok pendukung Persib, apa yang terjadi pada Ricko maupun korban lainnya adalah sebuah rivalitas kelewat batas.

Ia mengatakan, apa yang terjadi dewasa ini adalah sebuah kebencian yang dipupuk oleh sekelompok orang dewasa kepada anak-anak kecil yang tidak tau apa-apa. "Ini sudah bukan masalah suporter, bukan pula sepak bola. Tapi masalah sosial," tulisnya, yang dikutip dari Simamaung.com.

Ia merasa bingung sikap anak-anak kecil yang menyambut bobotoh di sepanjang jalan dari stadion Si Jalak Harupat-Cimahi dengan teriakan "The Jak a....g The Jak a.....g". "Tau apa kalian tentang Jakmania? Tau apa kalian tentang rivalitas? Ini masalah besar!" ucapnya.

54 orang meninggal sejak 1993

Fanatisme yang buta seperti beberapa kejadian di atas, bukan hanya milik Persib-Persija. Banyak tim di Indonesia yang memiliki basis suporter fanatik. Hal itu hampir dimiliki semua--atau bahkan semua--klub.

Akibatnya, bila satu tim bertemu dengan tim lainnya, terutama yang memiliki akar sejarah panjang seperti Persija-Persib atau Aremania (Arema)-Bonek (Persebaya), akan berakhir dengan keributan. Pada akhir 2015, dua Aremania tewas setelah dikeroyok Bonek.

Menurut catatan lembaga Save Our Soccer (#SOS), sejak Liga Indonesia digelar pada 1993/1994 hingga pertengahan 2016, sudah 54 nyawa pendukung klub bola jadi korban. Angka tersebut, sangat mungkin bertambah. (Klik untuk melihat nama korban)

Menurut Akmal Mahari, kordinator #SOS, sikap fanatik suporter itu sebenarnya bisa dibenahi dengan adanya komunikasi atau pembinaan antar suporter.

"Itu yang pernah sukses dilakukan Bonek (supporter Persebaya Surabaya) dengan Pasoepati (supporter Persis Solo). Mereka dulu juga sering bentrok," ujar Akmal, seperti yang dikutip dari Tempo.com.

Sayangnya, sampai saat ini, suporter hanya dijadikan objek dan tak pernah dikelola secara optimal. "Jika tiap perseteruan tak diselesaikan secara tuntas dan jelas, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terus terulang," katanya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.