Memiliki anak tidak membuat Anda lebih bahagia

Ilustrasi pasangan memiliki anak.
Ilustrasi pasangan memiliki anak.
© Simon Dannhauer /Shutterstock

Menjadi orang tua adalah hal paling membahagiakan dalam hidup sebagai manusia. Banyak yang bilang begitu, namun sains menyatakan tidak demikian halnya.

Sebuah penelitian bertajuk The Origins of Happiness yang dilakukan terhadap orang tua di Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan Australia justru menyajikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya.

Dipresentasikan oleh Profesor Andrew Clark dari Paris School of Economics di sebuah konferensi di London, studi tersebut membuat suatu kesimpulan yang cukup mencengangkan. Sementara menjadi bagian dari hubungan jelas berdampak positif pada seseorang, memiliki anak tidak meningkatkan kesejahteraan subjektif. Setidaknya setelah beberapa saat.

Walau tidak dijelaskan secara detail bagaimana periset mengukur kadar kebahagiaan, penelitian tersebut menganalisis metrik pada ibu dan ayah sebelum dan setelah mereka punya anak. Ini untuk menentukan apakah kebahagiaan mereka benar meningkat.

Menurut periset, mereka memang melihat peningkatan dalam aspek kepuasan hidup. Adaptasi pun menunjukkan pengaruhnya sekitar dua tahun kemudian, mengembalikan tingkat kebahagiaan pada level sebelum punya anak.

"Di ketiga negara--AS tidak masuk dalam metrik ini--ada kebahagiaan menyambut anak, saat anak lahir, lalu adaptasi berakhir dalam dua tahun," jelas Andrew.

Hal tersebut membuatnya dan tim periset menyimpulkan bahwa memiliki anak membawa kepuasan tersendiri, namun tidak banyak. Juga bahwa partisipan riset menganggap, punya anak adalah ide bagus selama 12 bulan pertama.

Pun demikian Andrew mengakui, bagaimanapun tingkat kebahagiaan ini hanya dianalisis hingga anak berusia empat tahun. Bisa jadi ada kebahagiaan lain yang dipicu oleh kehadiran anak-anak pada masa depan. Karena itu studi jangka panjang masih dibutuhkan. "Kami tidak punya bukti 20, 30, atau 40 tahun kemudian, saat kita sudah tua dan perlu dirawat. Semoga hasilnya akan positif pada suatu titik," ujarnya.

Sementara itu, studi lain yang dilakukan Andrew E. Clark dan tim riset pada April 2016 bisa jadi menyimpan semacam petunjuk mengenai hal tersebut. Temuan studi itu menyoroti bahwa, rata-rata hubungan antara anak-anak dan kebahagiaan sangat berbeda pada berbagai negara dan populasi.

Sebuah hubungan berubah dari negatif menjadi positif pada mereka yang berpenghasilan besar, dan menjadi orang tua di usia 30 tahun ke atas juga menunjukkan peningkatan kebahagiaan jika dibandingkan dengan mereka yang menjadi orang tua di usia muda. Jadi kebahagiaan memiliki anak memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Usia, status, dan hubungan pribadi.

Sebelumnya penelitian yang mengaitkan kebahagiaan orang tua dan kepemilikan anak sudah pernah dilakukan. Juli 2016 misalnya, Washington Post melaporkan adanya peningkatan keluarga di Amerika Serikat yang hidup susah setelah punya anak. Berbeda dengan saat belum beranak.

Mereka mengutip sebuah riset Princeton yang menunjukkan biaya membesarkan anak, ditambah dengan kecemasan dan stres menghidupi keluarga dalam lingkungan sosial-ekonomi saat ini sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidakpuasan orang tua.

Anak memang dapat membuat orang tua merasa puas dan bahagia. Namun berbagai penelitian menunjukkan, punya anak bukanlah satu-satunya faktor mencapai kebahagiaan.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.