KUALIFIKASI THOMAS UBER

Indonesia juara setelah mengalahkan negara-negara kuat Asia

Tim putra Indonesia tengah merayakan kemenangannya di final BATC 2018, Minggu (11/2/2018) malam WIB. Perjalanan Indonesia hingga menjadi juara dilalui dengan menundukkan negara-negara kuat di Asia.
Tim putra Indonesia tengah merayakan kemenangannya di final BATC 2018, Minggu (11/2/2018) malam WIB. Perjalanan Indonesia hingga menjadi juara dilalui dengan menundukkan negara-negara kuat di Asia. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Bulu tangkis sepertinya belum mau berhenti memberikan kado awal tahun bagi Indonesia. Setelah selalu mendapat gelar juara di tiga turnamen besar awal tahun--Malaysia Masters, Indonesia Masters, dan India Open--kini olahraga tepok bulu itu kembali menjuarai salah satu turnamen penting tahun ini.

Pada ajang Badminton Asia Team Championships (BATC) 2018 yang digelar di Stadium Sultan Abdul Halim, Alor Star, Malaysia, Minggu (11/2/2018) malam WIB, Indonesia kembali meraih prestasi.

Bertanding di partai puncak melawan Tiongkok, skuat Merah-Putih berhasil menang dengan skor akhir 3-1. Hasil inipun mengulang raihan Indonesia di kejuaraan yang sama dua tahun lalu di Hyderabad, India.

Adalah Jonatan Christie yang membuka jalan juara bagi Indonesia di turnamen kualfikasi Piala Thomas dan Uber itu. Pemuda berusia 20 tahun tersebut mampu meredam salah satu andalan Negeri Tirai Bambu yang juga peringkat tujuh dunia, Shi Yuqi.

Lewat pertarungan panjang, sekira 1 jam 12 menit, Jonatan menang 16-21, 21-17, 21-18.

Di pertandingan kedua, Indonesia mampu mencuri poin lewat pasangan "gado-gado", Mohammad Ahsan/Angga Pratama. Ahsan/Angga menjinakkan He Jiting/Tan Qiang dalam dua gim langsung, 21-19, 21-18.

Tiongkok berhasil merebut angka pertama di pertandingan ketiga. Anthony Sinisuka Ginting harus mengakui keunggulan Qiao Bin dengan skor 12-21, 21-11, 14-21. Menurut Susi Susanti, Kabidbinpres PBSI, kondisi Anthony saat itu sedang tak fit.

Engkel kanan juara India Open tersebut agak bermasalah setelah mengalahkan Kazumasa Sakai (Jepang) di perempat final.

Hal ini juga lah yang mungkin membuatnya tak turun di babak semifinal melawan Korea Selatan, Sabtu (10/2/2018). Tapi, "Ini tidak bisa saya jadikan alasan," ucap Anthony kepada Badmintonindonesia.org.

Indonesia pun mengunci gelar juara lewat pertarungan keempat, yang lagi-lagi menurunkan ganda "gado-gado", Hendra Setiawan/Rian Agung Saputro. Hendra/Rian menang cukup nyaman atas Han Chengkai/Zhou Haodong dengan skor 21-14, 21-19.

Dengan kemenangan ini, wakil kelima pun tak perlu dimainkan.

Hal ini tentu membahagiakan Indonesia, khususnya PBSI. Sebab, capaian mereka di BATC 2018, berhasil memenuhi target--bahkan lebih. Di tim putri, yang ditargetkan lolos ke babak utama Piala Uber (artinya perempat final BATC), ternyata mampu melangkah sampai semifinal.

Setali tiga uang dengan tim putri, tim putra melebihi target Federasi--meski tak terlalu mengejutkan. Mereka yang dituntut minimal hingga final, akan tetapi berhasil juara.

"Terima kasih buat tim dan ofisial yang sudah kerja keras sehingga kita bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia ... Target (tim putra) kami lolos dulu ke putaran final di Bangkok, ternyata hasilnya bisa maksimal," ucap Susi.

Langkah tim putra ini bisa dibilang mengesankan. Sebab, dalam perjalanan juaranya, mereka mampu mengalahkan tim-tim kuat di Asia--minus Malaysia. Di babak grup, anak-anak Cipayung--sebutan lain markas PBSI--mengalahkan India dengan skor 3-2.

Mereka bukan negara sembarangan. Tiga pemain tunggal putra mereka berada di 20 besar dunia, Kidambi Srikanth, Prannoy H. S., dan Sai Pranneth.

Di babak perempat final, Jonatan dkk. berhasil mempecundangi salah satu unggulan kejuaraan, Jepang, dengan skor 3-0. Kemenangan cukup mudah ini mengejutkan sejumlah pihak. Tak terkecuali Susi.

"Kami tidak memprediksi menang langsung 3-0. Lawan Jepang itu tidak mudah, para pemainnya ulet dan ngotot," ucap Susi yang berulang tahun ke-47 pada Minggu (11/2/2018).

Di babak semifinal, giliran Korea Selatan yang dihajar Indonesia lewat pertarungan dramatis. Butuh perjuangan panjang dan menegangkan bagi Indonesia pada pertarungan kal ini. Sedangkan babak pamungkas, giliran Tiongkok yang dikalahkan dengan skor 3-1.

Secara tim, empat negara itu yang memiliki kekuatan cukup baik di Asia--dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

India dan Korsel misalnya, mereka baik di tunggal tapi lemah di ganda. Sedangkan Jepang kebalikannya, cukup kuat di ganda dan agak lemah di nomor tunggal. Indikator untuk hal ini adalah, tak adanya pemain di urutan 10 besar dunia.

Yang cukup komplet adalah Tiongkok. Namun, mereka tak menurunkan kekuatan penuh dalam kejuaraan kali ini. Di nomor tunggal, Chen Long (peringkat 3 dunia) dan Lin Dan (6 dunia) tak dibawa. Sedangkan di nomor ganda, Li Junhui/Liu Yuchen (3 dunia) dan Liu Cheng/Zhang Nan (4 dunia) juga tak ikut serta.

Apapun itu, Indonesia kini bisa menatap Piala Thomas dengan lebih baik. "Ini modal positif untuk mengikuti Thomas dan Uber di Thailand," ucap Susi, yang diwartakan Antara.

Di nomor putri, juara direbut oleh Jepang. Di babak final, tim Matahari Terbit mengalahkan Tiongkok dengan skor 3-0. Artinya, meski berhasil mengirim putra-putri mereka ke final, Tiongkok pulang dengan tangan hampa.

Catatan redaksi: terdapat penambahan video melalui media sosial Twitter setelah paragraf ke-10.
BACA JUGA