ASIAN GAMES 2018

Indonesia pecahkan rekor emas

Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengibarkan bendera merah putih setelah mengalahkan Amir Mahdi Zadeh dari Iran pada final kumite putra -60 kg Asian Games 2018 di JCC-Plenary Hall Senayan, Jakarta, Minggu (26/08/2018).
Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid mengibarkan bendera merah putih setelah mengalahkan Amir Mahdi Zadeh dari Iran pada final kumite putra -60 kg Asian Games 2018 di JCC-Plenary Hall Senayan, Jakarta, Minggu (26/08/2018). | Yudhi Ginanjar /Antara Foto/Inasgoc

Atlet Indonesia mencatatkan rekor prestasi baru sepanjang sejarah keikutsertaan pada Asian Games. Hingga pukul 18.00 WIB, Minggu (26/8/2018), kontingen Merah Putih telah mendulang 12 medali emas, 12 perak, dan 19 perunggu, pada Asian Games 2018.

Jumlah emas yang didapat tersebut melebih rekor terbanyak yang pernah didapat Indonesia sebelumnya, 11 emas, ketika menjadi tuan rumah pertama kali pada 1962.

Hal ini menggembirakan karena upaya para pemangku kepentingan olahraga di Indonesia untuk tak sekadar menjadi tuan rumah yang baik, tampak membuahkan hasil. Strategi pemilihan cabang non-Olimpiade yang menjadi hak istimewa tuan rumah pun bisa memberi hasil optimal.

Asian Games 2018 baru berakhir pada 2 September, sehingga harapan untuk terus menambah jumlah emas, juga medali lainnya, seperti dari cabang bulu tangkis nomor perorangan, masih amat terbuka.

Medali emas pertama pada Minggu (26/8), atau yang ke-11 untuk Indonesia, dipersembahkan oleh karateka Rifki Ardiansyah Arrosyiid. Ia mengalahkan atlet Iran, Amir Mahdi Zadeh, pada final kumite -60 kg putra di Jakarta Convention Center (JCC), Gelora Bung Karno, dengan skor 9-7.

Rifki menjadi karateka putra ketiga Indonesia yang berhasil merebut emas dalam sejarah Asian Games, setelah Arif Taufan Syamsuddin (-60 kg) di Bangkok 1998, dan Mohamad Hasan Basri (-65 kg) pada 2002 di Busan, Korea Selatan.

"Semua lawan yang saya hadapi sangat sulit. Tapi saya yakin bisa dilalui. Saya pernah bermimpi menjadi juara Asian Games dan juara dunia. Saat ini sebagian dari mimpi itu telah terwujud," kata Rifki saat ditemui media usai pengalungan medali emas.

Menjadi juara Asia dan dunia, menurut lelaki berusia 20 tahun ini, merupakan impiannya sejak pertama kali berlatih karate pada kelas 3 sekolah dasar.

Prajurit TNI Angkatan Darat yang kini berpangkat sersan dua itu menyatakan target berikutnya adalah menjadi juara pada Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Keberhasilan merebut medali emas tersebut juga bakal mempertebal dompet lelaki asal Surabaya itu. Selain hadiah uang Rp1,5 miliar yang dijanjikan pemerintah untuk perebut medali emas, Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki), Gatot Nurmantyo, menjanjikan tambahan bonus Rp1 miliar.

Tambahan bonus itu, menurut Gatot kepada Bola.com, berasal dari PB Forki, pemerintah daerah, dan pemerintah provinsi.

"Ini adalah hasil pembinaan. Prestasi yang diraih Rifki dipersembahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia," kata mantan Panglima TNI itu.

Selain emas, pada hari yang sama karateka Indonesia juga menambah dua medali perunggu yang didapat Cokorda Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg putri) dan Jintar Simanjuntak (kumite -67 kg putra).

Bagi Jintar, itu adalah medali keduanya di Asian Games 2018 setelah ikut merebut perunggu pada nomor kata beregu putra.

Pejetski Indonesia Aqsa Sutan Aswar merebut medali emas kelas Endurance Runabout Open Asian Games 2018 di Jetski Indonesia Academy, Ancol, Jakarta, Minggu (26/8).
Pejetski Indonesia Aqsa Sutan Aswar merebut medali emas kelas Endurance Runabout Open Asian Games 2018 di Jetski Indonesia Academy, Ancol, Jakarta, Minggu (26/8). | Bram Selo Agung /Antara Foto/Inasgoc

Medali emas pemecah rekor, yang ke-12, direbut dari cabang olahraga jetski. Atlet putra Indonesia Aqsa Sutan Aswar menjuarai nomor endurance runabout open, memimpin klasemen dengan perolehan total 768 poin.

Medali tersebut juga menjadi yang ke-400 bagi Indonesia sejak mengikuti kompetisi multi-cabang olahraga ini sejak 1951 di New Delhi, India.

Bagi Aqsa (21), itu adalah medali keduanya pada Asian Games ke-18 ini. Sebelumnya ia mendapatkan perunggu pada nomor runabout limited, Jumat (24/8).

Perak endurance runabout open dibawa pulang oleh pejetski Uni Emirat Arab, Ali Allanjawi, sementara perunggu didapat Suphathat Footrakul dari Thailand.

Medali lain yang diperoleh atlet Indonesia hingga pukul 18.45 WIB adalah perunggu dari cabang pencak silat nomor tarung 70-75 kg putra yang didapat Amri Rusdana.

Kemudian, tim kano/kayak sprint putra beranggotakan 15 atlet mendapatkan medali perunggu nomor 500 meter traditional boat racing. Emas nomor tersebut didapat Taiwan, sementara perak direbut Tiongkok.

Saat berita ini ditulis, kontingen Indonesia telah mengumpulkan total 43 medali, masih terpaut delapan buah dari rekor total 51 medali yang didapat pada Asian Games 1962.

Catatan redaksi: nama karateka perebut medali perunggu kumite -67 kg putra adalah Jintar Simanjuntak. Bukan Jinter seperti tertulis sebelumnya.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR