ALL ENGLAND 2018

Jadi juara, Kevin/Marcus ukir sejumlah rekor

Reaksi Kevin/Marcus saat berhasil mencuri poin dari Boe/Mogensen di final All England 2018, Senin (19/3/2018) dini hari WIB. Kevin/Marcus berhasil mempertahankan gelar ganda putra  di turnamen tertua tersebut.
Reaksi Kevin/Marcus saat berhasil mencuri poin dari Boe/Mogensen di final All England 2018, Senin (19/3/2018) dini hari WIB. Kevin/Marcus berhasil mempertahankan gelar ganda putra di turnamen tertua tersebut. | ANTARA FOTO/Humas PBSI

Ucapan Mathias Boe pada Minggu (18/3/2018) dini hari WIB itu tak terbukti. Rekan Carsten Mogensen di nomor ganda putra sesumbar bahwa mereka sudah memiliki cara untuk mengalahkan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan memenangi All England 2018.

Nyatanya, di laga final kejuaraan bulu tangkis tertua di dunia tersebut, Senin (19/3) dini hari WIB, Boe/Mogensen kembali takluk dari The Minions. Dalam durasi sekitar 42 menit, Kevin/Marcus menghajar musuh bebuyutannya itu dalam dua gim saja, 21-18, 21-17.

Dengan hasil itu, Kevin/Marcus pun mampu mempertahankan gelar ganda putra All England, yang mereka raih tahun lalu. Selain itu, kemenangan tersebut juga membuat rekor pertemuan antara mereka imbang 4-4.

"Tentunya senang bisa mempertahankan gelar, apalagi gelar yang bergengsi," ucap Kevin, pascalaga dalam keterangan resmi PBSI (H/T Antaranews).

Ini adalah kali pertama sejak 22 tahun, ada ganda putra mampu mempertahankan gelar di All England. Ganda putra terakhir yang melakukannya juga dari Indonesia, Ricky Subagdja/Rexy Mainaky, pada 1995-1996.

Pertarungan final itu merupakan laga puncak ideal dari lima nomor yang dipertandingkan. Bukan soal peringkat pemain saja yang mendasari hal itu--di mana mereka berada di posisi satu dan dua--pun demikian dengan sejarah pertemuan.

Delapan kali pertemuan, dengan enam di antaranya dimulai sejak pertengahan 2017, menjadi bukti bahwa keduanya merupakan yang terbaik setahun terakhir. Tetapi, akhir-akhir ini sepertinya pertemuan kedua wakil tersebut terasa berat sebelah.

Bila di awal-awal perjumpaan Kevin/Marcus kerap kalah, justru di tiga perjumpaan terakhir mereka selalu menang--All England 2018, China Open 2017, dan Japan Open 2017. Skornya pun bisa dibilang tak terlalu ketat, kelar dalam dua gim saja.

Apakah hal ini membuktikan bahwa Kevin/Marcus semakin kuat dan matang? Atau justru kemampuan Boe/Mogensen yang memudar? Tidak diketahui pasti, kecuali bahwa umur mereka terpaut cukup jauh.

"Hari ini mereka mainnya bagus. Nggak seperti kemarin sewaktu ketemu di China (Open), kami menang lebih gampang. Hari ini cari poinnya lebih susah dan mereka kayaknya lebih siap," jelas Marcus, seperti dikutip dari Kumparan.com.

Ucapan Marcus memang tak salah, khususnya di gim kedua. Perolehan skor kedua wakil sangat ketat. Tak pernah selisih kedua wakil lebih dari tiga poin di gim tersebut. Beda sewaktu di China Open 2017, di mana Kevin/Marcus menang cukup mudah, 21-19, 21-11.

"Kunci kemenangan, kami enjoy bertanding, happy, dan nggak ada tekanan. Jadi, tiap main fokus satu-satu dan lakukan yang terbaik," ucap Marcus.

Harus diakui, sejak pertengahan 2017 hingga saat ini, Kevin/Marcus seolah tak tersentuh oleh lawan-lawannya di nomor ganda putra. Dari sembilan kejuaraan--yang tentunya tertinggi di hirarki kejuaraan bulu tangkis--mereka selalu masuk final.

Rinciannya, tujuh kali juara dan dua sebagai runner-up. Dua kekalahan itu terjadi di Korea Open 2017 (melawan Boe/Mogensen) dan Denmark Open 2017 (Liu Cheng/Zhang Nan). Setelahnya, mereka tak terkalahkan, termasuk di tiga turnamen awal tahun.

Total, mereka tak terkalahkan di 19 pertandingan terakhir yang diikuti.

Capaian prestasi tadi semakin dikukuhkan di All England 2018. Dari lima pertandingan yang dilakoni sepanjang turnamen, mereka hanya kehilangan satu gim saja, yakni di babak kedua melawan Ong Yew Sin/Teo Ee Yi (Malaysia).

Kini, Kevin/Marcus di ambang menciptakan rekor--hanya tinggal menunggu waktu saja, karena pasti terjadi. Yakni soal perolehan poin. Kevin/Marcus akan menjadi ganda putra pertama yang berhasil mengumpulkan poin lebih dari 100.000.

Dengan kekalahan ini, Boe jelas kecewa. Menurut pemain berusia 37 tahun itu, mereka sudah sangat dekat memenangi gim kedua, dan dapat menyudahi laga dengan kemenangan. Hanya kesalahan kecil dan kurangnya keburuntungan menjadi jurang.

"Tapi, kami kalah dari pasangan terbaik dan benar bahwa mereka sedang dalam masa terbaiknya," ucap Boe, seperti dinukil dari Badmintoneurope.com.

Dalam pertandingan tersebut, menurut Boe, apa yang dilakukan lawannya itu--khususnya Kevin--adalah sesuatu yang ajaib. "Ada bola yang mestinya tak bisa dikembalikan, tapi Kevin bisa mengembalikan. Itu ajaib," kata Boe, kepada BBC Indonesia.

Pada turnamen berkategori BWF World Tour Super 1000 itu, kejutan datang dari ganda campuran Jepang, Yuta Watanabe/Arisa Higashino. Mereka menjadi ganda campuran Jepang pertama yang menjuarai All England dengan menundukkan Zheng Siwei/Huang Yaqiong, 15-21, 22-20, 21-16.

Tiga nomor lain terdistribusi merata oleh tiga negara. Di nomor ganda putri, duo Denmark, Kamilla Rhytter Jhul/Christinna Pedersen, mengalahkan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang)21-19, 21/18.

Di tunggal putri, Tai Tzu Ying (Taiwan) mengandaskan perlawanan Akane Yamaguchi (Jepang) dengan skor 22-20, 21-13. Sedangkan di nomor tunggal putra, Lin Dan (Tiongkok) dikalahkan juniornya, Shi Yuqi, 19-21, 21-16, 9-21.

BACA JUGA