ANGKAT BESI

Jalan Eko Yuli ke Olimpiade 2020 diawali emas dan rekor

Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan melakukan angkatan "clean and jerk" pada nomor angkat besi putra 62 kg Group A, Asian Games ke-18 2018 di JiExpo, Jakarta, Selasa (21/8/2018).
Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan melakukan angkatan "clean and jerk" pada nomor angkat besi putra 62 kg Group A, Asian Games ke-18 2018 di JiExpo, Jakarta, Selasa (21/8/2018). | Fanny Octavianus /Antara Foto/Inasgoc

Perjalanan Eko Yuli Irawan menuju Olimpiade 2020 Tokyo Jepang dimulai dengan sangat apik. Ia berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Asghabat, Turkmenistan, Sabtu (3/11/2018) malam waktu setempat.

Atlet berusia 29 tahun yang turun di kelas 61 kg putra itu juga memecahkan rekor dunia International Weightlifting Federation (IWF) dengan total angkatan 317 kg. Eko mengangkat 174 kg pada clean and jerk--rekor baru juga--dan 143 kg untuk snatch.

Sebagai catatan, 61 kg merupakan nomor baru yang telah ditetapkan oleh IWF untuk dipertandingkan di SEA Games 2019 dan Olimpiade 2020. Sedangkan nomor andalan Eko Yuli selama ini adalah 62 kg.

Dengan hasil ini, tentu Eko Yuli senang. Pasalnya, ini adalah kali pertama ia berhasil meraih emas di Kejuaraan Dunia. "Saya sangat senang dengan kemenangan pertama di Kejuaraan Dunia. Penampilan ini adalah apa yang saya harapkan," ucap Eko dalam laman resmi IWF.

Sebenarnya, persiapan waktu turun di kelas 61 kg tadi terhitung mepet. Setelah berhasil meraih emas di Asian Games 2018 untuk nomor 62 kg, Eko Yuli seperti disibukkan dengan kegiatan di luar angkat besi, seperti tes Pegawai Negeri Sipil.

Oleh karena itu, pada pertengahan September kemarin, Eko mengatakan bahwa latihan di nomor 61 kg dimulai sekitar Oktober. Meski demikian, sejak awal dia merasa tak ada masalah bertarung di nomor baru 61 kg.

Musababnya, menurut Eko, selama ini dia terbiasa latihan dengan nomor-nomor di atasnya. Misalnya, kala masih berada di nomor 62 kg, saat latihan dia mengangkat beban untuk nomor 65 kg.

Sedangkan latihan untuk nomor 61 kg, Eko Yuli mengaku porsi latihannya untuk nomor 64-65 kg. "Persiapan normal seperti biasanya, tinggal pulihkan angkatan saya saat di Asian Games. Paling beda di dietnya, berat badan harus lebih turun lagi satu kilo," kata Eko Yuli, dilansir Suara.com.

Kini, Eko Yuli sudah memiliki modal apik untuk ambil bagian di Olimpiade. Maklum, meski masih berlangsung dua tahun mendatang, sistem kualifikasi pesta olahraga terbesar di dunia tersebut sudah dimulai saat ini.

Setidaknya, masih ada delapan kejuaraan lagi sebagai ajang kualifikasi--enam di antaranya berlangsung pada 2019. Untuk bisa tampil di Olimpiade, hitung-hitungan Eko Yuli, setidaknya tiap kejuaraan tersebut ia masuk delapan besar.

"Kan kita ada beberapa pertandingan. Tiap kejuaraan harus masuk delapan besar. Jika minimal tiga kali masuk delapan besar, ya kita (saya) masuk Olimpiade," ucap Eko Yuli dalam Tribunnews.com.

Bukan hanya Eko Yuli saja yang bahagia atas hasil ini. Pun demikian dengan federasi angkat besi Indonesia, Persatuan Angkat Berat, Binaraga, Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABBSI).

Hal itu setidaknya diungkap oleh manajer tim yang bertolak ke Turkmenistan, Sony Kasiran. Meski bahagia, tapi Sony mengingatkan bahwa ini merupakan permulaan bagi Eko Yuli.

"Masih ada delapan seri lagi dan enam diantarnya berlangsung sepanjang tahun 2019 dan dua kualifikasi lagi pada tahun 2020 atau menjelang Olimpiade berlangsung," kata dia dalam laman resmi PABBSI (H/T Tempo.co).

Pada Kejuaraan Dunia nomor 61 kg, medali perak dan perunggu diborong oleh lifter Tiongkok, yaitu Fabin Li dengan total angkatan 310 kg dan berikutnya adalah Fulin Qin dengan total angkatan 308 kg.

Lifter Indonesia yang turun di Turkmenistan tidak hanya Eko Yuli. Demikian pula dengan Deni kelas 67 kg, Triyatno dan Rahmat Erwin Abdullah (73 kg), Sri Wahyuni (49 kg), Yolanda Putri (49 kg), Sarah Anggraeni (55 kg), Acchedya Jagadditha (59kg), dan Nurul Akmal (87kg).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR