ULASAN

Jangan main terbuka lawan Manchester City

Dua penyerang Manchester City, Sergio Aguero (kiri) dan Raheem Sterling (dua kiri), merayakan gol dalam kemenangan 6-0 atas Chelsea di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Minggu (10/2/2019).
Dua penyerang Manchester City, Sergio Aguero (kiri) dan Raheem Sterling (dua kiri), merayakan gol dalam kemenangan 6-0 atas Chelsea di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Minggu (10/2/2019). | Nigel Roddis /EPA-EFE

Ungkapan "jangan main terbuka lawan Manchester City" ini patut dialamatkan kepada Chelsea, terutama untuk pertandingan Liga Primer Inggris (EPL) tadi malam, Minggu (10/2/2019). Sebabnya, Chelsea babak belur dihajar 0-6.

Mengapa Chelsea bisa kalah sedemikian telak? Padahal dalam pertemuan pertama musim ini di Stamford Bridge, London, The Blues mengalahkan The Citizen 2-0.

Pertama, perpindahan momentum. Jadi, Chelsea tetap memainkan Sarriball --gaya permainan gerak cepat dengan pressing tinggi ala pelatih Maurizio Sarri-- seperti halnya saat menang di London.

Namun di Stadion Etihad, Manchester, pendekatan itu tak berjalan sesuai rencana. City kali ini memegang momentum karena tampil di depan publiknya. Momentum itu juga terlihat dari gol pertama melalui sayap kiri Raheem Sterling pada menit keempat.

Para pelatih kerap mengatakan bahwa gol saat pertandingan baru berlangsung seumur jagung bisa memukul mental pemain. Apalagi hanya dalam 25 menit awal, City memastikan keunggulan 4-0 berkat tambahan dua gol dari Sergio Aguero dan satu gol dari Ilkay Gundogan.

Para pemain Chelsea sebenarnya berusaha bangkit. Kelihatan bahwa mereka terpukul tapi berusaha tegar.

Buktinya adalah 20 menit pamungkas babak pertama. Mereka terus menekan City dan mencari ruang untuk menyerang hingga turun minum.

"Untuk pertama kalinya kami harus bertahan sangat dalam," ujar pelatih City, Pep Guardiola, dalam jumpa pers soal permainan Chelsea setelah skor berubah 4-0.

Sebab kedua, City memang sedang luar biasa. Pada awal jumpa pers, Pep mengonfirmasi bahwa ini adalah penampilan terbaik City di kandangnya sejak ia hadir pada 2016.

Pep mengatakan bahwa kali ini para pemainnya tampil sangat hebat. Mereka bereaksi sedemikian tepat setelah 1-2 dari Newcastle United (30/1).

Pep menyatakan setelah kalah dari Newcastle, para pemainnya menghadapi dua tim hebat dalam sepekan; Arsenal dan Everton --seluruhnya berhasil dikalahkan.

"Kami menjalani pekan yang berat karena bertemu tiga lawan tangguh. Dan sekarang kami bertemu tim yang lebih tangguh lagi. Jadi, saya tak bisa meminta lebih dari para pemain, saya ucapkan terima kasih kepada mereka," kata pelatih dari Spanyol ini.

Lebih lanjut, Pep menjelaskan bagaimana para pemainnya berhasil menemukan ruang dan momen yang tepat untuk melancarkan serangan akhir adalah luar biasa.

Para pemain City begitu jeli mengisi lubang-lubang yang muncul di zona pertahanan atau ruang antara gelandang dan bek Chelsea. Lihatlah bagaimana Sterling menyambut bola silang mendatar Bernardo Silva untuk mencetak gol pertama.

Atau bagaimana Aguero begitu "setia" untuk berada di jantung pertahanan Chelsea. Aguero tetap berada di depan gawang Chelsea untuk meneruskan bola blunder backpass Ross Barkley demi gol ketiga timnya.

Ketiga, taktik mikro Pep. Pendekatan taktik City secara makro relatif sama seperti saat kalah di Stamford Bridge.

Namun, Pep kali ini memberi detail taktik mikro yang berbeda. Bernardo Silva diparkir di dekat garis tepi lapangan, begitu pula Sterling di sayap kiri.

Mereka berdua nyaris tak pernah keluar lebih dari lima meter di dalam garis horizontal saat kehilangan bola. Lantas, mereka berdua menjadi katalisator taktik mikro Pep yang lain; memindahkan bidang permainan secepat mungkin.

Bola dari kaki Silva atau Sterling bisa dengan cepat berpindah menyilang dari kiri ke kanan lapangan saat sudah mencapai garis akhir pertahanan Chelsea. Dan ini dilakukan dengan akselerasi sedemikian cepat.

Kecepatan para pemain City benar-benar meningkat pada musim ini. Indikator paling mudah adalah perbandingan dengan Liverpool.

City begitu kewalahan menghadapi kecepatan para pemain Liverpool. Itu perbedaan saat Liverpool berhasil memenangi empat dari tiga pertemuan dengan City sepanjang 2018.

Namun pada 4 Januari, City berubah punya kecepatan yang sama dengan Liverpool. Itu sebabnya City mampu menghadirkan kekalahan pertama bagi Liverpool musim ini, 2-1.

Satu taktik kecil lain, yang boleh jadi dipelajari Pep setelah kalah 0-2 di London, adalah penerapan man to man marking di depan alias defensive forward dalam beberapa kesempatan. Jadi, satu pemain Chelsea menekan satu pemain City.

Sarri tidak merespon ini dengan baik. Garis pertahanannya tetap rendah sehingga ketika City mampu merebut bola dari Chelsea, mereka begitu cepat mengancam gawang Kepa Arrizabalaga. Ditambah lagi, kolektivitas pertahanan Chelsea kali ini sangatlah buruk.

Pertahanan Chelsea (sisi kanan) yang sungguh berantakan sebelum Ilkay Gundogan mencetak gol keempat untuk Manchester City pada menit ke-24.
Pertahanan Chelsea (sisi kanan) yang sungguh berantakan sebelum Ilkay Gundogan mencetak gol keempat untuk Manchester City pada menit ke-24. | Tangkapan layar /BeIN Sports

Dan sejak awal Sarri memang memilih permainan terbuka, satu hal yang wajar karena pada pertemuan pertama berhasil keluar sebagai pemenang. Namun di kandang City, hal itu (bermain terbuka) tak berlaku.

Pelatih Chelsea sebelum Sarri, Antonio Conte, punya pengalaman. Bermain di Etihad pada tahun lalu, Chelsea tampil defensif alias menutup rapat pertahanan.

Chelsea tetap kalah, tapi dengan skor yang tidak memalukan --0-1. "Saya bukanlah orang bodoh dengan memainkan sepak bola terbuka melawan City dan akan kalah 0-3 atau 0-4," ucap Conte kepada Sky Sports ketika itu (h/t Mirror.co.uk).

City kini sedang menuju jalan menuju Barcelona ala Pep. Barcelona yang dibesut Pep pada kurun 2008-2012 meraih 14 trofi juara bergengsi dan disebut sebagai tim terbaik di dunia serta sulit dikalahkan.

Pep menyebut City masih jauh dari kehebatan Barcelona yang memang sedang dirintisnya. "Masih jauh, tapi kami menuju ke sana," katanya.

Nah, di sinilah makna "jangan bermain terbuka" berlaku. Melawan tim yang begitu ofensif seperti Barcelona dan kini City, lawan layak berhitung.

Seperti halnya Conte, bekas pelatih Chelsea serta Manchester United Jose Mourinho punya pengalaman menyisihkan Barcelona dari semifinal Liga Champions 2010 bersama Inter Milan. Ketika itu Mourinho yang sedang berada pada masa keemasan kariernya menerapkan strategi bermain bertahan.

Namun, dalam bahasa Mourinho, Inter bukan bertahan.

"Kami tidak (aktif) menguasai bola, sebab jika Barcelona berhasil merebutnya dan menekan, kami kehilangan posisi. Saya tak mau kami kehilangan posisi, lebih baik kehilangan bola," katanya.

Pelajaran dari Conte dan Mourinho layak dicamkan Sarri atau para pelatih lain yang akan menghadapi City. Bermain pasif bukanlah aib, jika didasari pada perhitungan.

Dan Chelsea masih punya peluang untuk itu karena akan menghadapi City lagi pada final Piala Liga Inggris (Piala Carabao) pada 23 Februari nanti.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR