BULU TANGKIS

Jojo vs. Ginting di final Australian Open 2019

Jonatan Christie (kiri) dan Anthony Sinisuka Ginting saat mengikuti latihan di Nanning, China, Senin (20/5/2019). Dua tunggal putra terbaik Indonesia itu akan berhadapan di final Australia Open 2019.
Jonatan Christie (kiri) dan Anthony Sinisuka Ginting saat mengikuti latihan di Nanning, China, Senin (20/5/2019). Dua tunggal putra terbaik Indonesia itu akan berhadapan di final Australia Open 2019. | Wahyu Putro A

Untuk kedua kalinya, dua tunggal putra terbaik Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan "Jojo" Christie, akan berhadapan pada final turnamen tingkat internasional. Kali ini mereka akan berebut gelar juara Australian Open 2019 di Quaycentre, Sydney Olympic Park, Minggu (9/6).

Pertarungan final yang pernah mereka lakoni sebelumnya terjadi di Korea Open 2017 dan Anthony keluar sebagai pemenang.

Secara keseluruhan mereka telah empat kali bertemu dalam turnamen resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) dengan rekor imbang 2-2. Selain di Korea, Anthony pernah mengalahkan Jojo di babak kedua China Open 2018. Sementara Jojo menang di babak pertama Malaysia Open 2017 dan babak kedua Hong Kong Open 2018.

Kedua pemain ini bisa dikatakan memiliki kemampuan yang seimbang. Peringkat BWF mereka pun berdekatan. Anthony di posisi ke-7, sementara Jojo satu tingkat di bawahnya.

Akan tetapi, jika melihat hasil pertandingan belakangan ini, Jojo tampak lebih unggul. Ia baru saja menjuara New Zealand Open 2019 pada 5 Mei, mengakhiri rentetan 15 turnamen tanpa gelar sejak merebut medali emas Asian Games 2018 di Jakarta.

Selain itu, Jojo juga telah menaklukkan lawan-lawan yang relatif berat di Sydney. Ia menyingkirkan juara bertahan Lu Guangzu dari Tiongkok, kemudian pada perempat final menundukkan legenda Tiongkok Lin Dan, dan mengalahkan peringkat keempat dunia dan unggulan teratas, Chou Tien Chen dari Taiwan, untuk mencapai final.

Sementara Anthony--yang juga akrab disapa Ginting--telah melalui 14 turnamen tanpa merebut satupun piala sejak menjuarai China Open tahun lalu. Sejauh ini, hasil terbaiknya sepanjang 2019 adalah menjadi runner up Singapore Open.

Lawan-lawan yang dihadapi Ginting di Sydney memang tak seberat Jojo. Akan tetapi bisa jadi itu malah menguntungkannya, karena tenaganya tak terlalu banyak terkuras pada babak-babak awal. Pada semifinal ia menang 21-17, 21-14 atas Wang Tzu Wei dari Taiwan hanya dalam 43 menit di Quaycentre.

Selain tunggal putra, Indonesia berpeluang membawa pulang satu gelar lagi dari Australian Open, yaitu dari nomor ganda campuran. Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti akan berhadapan dengan unggulan pertama, Wang Yilyu/Huang Dongping dari Tiongkok pada final.

Untuk mencapai laga pemungkas, Praveen/Melati secara mengejutkan menang 21-13, 12-21, 21-17 atas unggulan kedua dari Jepang, Yuta Yuta Watanabe/Arisa Higashino, yang juga juara All England 2018 itu.

Ini menjadi kesempatan emas ketiga ganda campuran Indonesia tersebut untuk bisa merebut gelar. Sebelumnya mereka berhasil mencapai final India Open dan New Zealand Open, tetapi gagal merebut trofi.

Walau demikian, final di Quaycentre nanti jelas takkan mudah bagi Praveen/Melati. Mereka belum pernah menang atas Wang/Huang dalam empat pertemuan sebelumnya, termasuk pada final India Open 2019.

Wang/Huang maju ke final setelah menaklukkan pasangan Hong Kong, Tang Chun Man/Tse Ying Suet, 21-13, 21-10 di babak empat besar.

"Wang/Huang mainnya rapi, mereka kuat dan jarang membuat kesalahan sendiri. Yang penting itu dari penampilan kami, main semaksimal mungkin dan all out, kan kami sudah beberapa kali juga ketemu mereka, kami akan berusaha menikmati permainan," ujar Melati dalam Badmintonindonesia.org.

Praveen/Melati memang sebaiknya bermain all out untuk bisa kembali mengangkat piala di sebuah turnamen BWF. Sejak memenangi Korea Open 2017, mereka belum pernah lagi menjadi juara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR