LA LIGA SPANYOL

Kembalinya Zidane diawali dengan kemenangan

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane (kanan), memberi instruksi kepada Karim Benzema pada pertandingan La Liga Spanyol melawan Celta Vigo di Santiago Bernabeu, Madrid (16/3/2019).
Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane (kanan), memberi instruksi kepada Karim Benzema pada pertandingan La Liga Spanyol melawan Celta Vigo di Santiago Bernabeu, Madrid (16/3/2019). | Rodrigo Jimenez /EPA-EFE

Setelah tiga kekalahan di kandang dan tersingkir dari dua kejuaraan dalam jangka waktu sepekan, Real Madrid bisa sedikit bernapas lega. Mereka menang 2-0 pada pertandingan La Liga Spanyol melawan Celta Vigo di Santiago Bernabeu, Madrid, Sabtu (16/3/2019).

Madrid kembali hidup dan para pendukung pun tampak lebih bersemangat, walau stadion berkapasitas 81.000 penonton tampak lebih kosong karena hanya 65.000 kursi terisi. Bukan saja karena tiga poin yang berhasil didapat, mereka juga menyambut kembalinya sang legenda, Zinedine Zidane, di pinggir lapangan.

Malam itu adalah malam pertama kembalinya Zidane setelah pada 11 Maret manajemen Real Madrid menunjuknya menggantikan Santiago Solari. Ini menjadi periode kedua Zizou--sapaan akrab Zidane--setelah kesuksesan yang dicapainya bersama Madrid pada periode awal 2016-2018.

Zidane meninggalkan Madrid, hanya lima hari setelah menjadi pelatih pertama yang merebut tiga trofi Liga Champions UEFA beruntun, karena menurutnya klub tersebut "butuh perubahan, suara lain, metodologi lain". Tetapi perubahan yang kemudian terjadi ternyata menuju pada kejatuhan.

Julen Lopetegui, orang yang ditunjuk menggantikan Zidane, hanya bertahan 4,5 bulan. Lima kekalahan dalam enam pertandingan, termasuk dilumat 1-5 oleh Barcelona, membuatnya dipecat pada Oktober 2018.

Solari kemudian diangkat sebagai pelatih sementara (interim). Empat kemenangan beruntun yang kemudian didapat membuatnya didapuk sebagai pelatih tetap.

Tetapi tuah pria asal Argentina itu tak bertahan lama. Dua kekalahan beruntun dari Barcelona di Bernabeu--pada liga dan Copa del Rey--disusul tersingkirnya Madrid dari Liga Champions setelah dibantai 1-4 oleh Ajax Amsterdam, menyudahi era Solari.

Sempat dikabarkan mendekati Jose Mourinho, manajemen Madrid ternyata lebih memilih untuk mengembalikan Zidane ke kursi lamanya. Pertandingan melawan Celta itupun menjadi awal.

Dalam situasi biasa, kemenangan itu mungkin takkan disambut amat meriah. Celta adalah klub papan bawah yang sebelum malam itu tak pernah menang dan empat kali kalah dalam lima pertandingan beruntun.

Namun Madrid tengah mengalami masa yang tak biasa. Oleh karena itu kemenangan tersebut bisa dipandang sebagai awal yang baik bagi Madrid dan Zidane. Lagu "Zizou" yang mengambil nada lagu "Hey Jude" karya The Beatles, terdengar di Bernabeu.

Sang pelatih pun seperti menegaskan kehadirannya dengan menurunkan skuat yang amat berbeda. Salah satunya adalah memainkan Isco sebagai pemain utama. Gelandang Spanyol itu tak pernah diturunkan Solari sebagai pemain inti karena dipandang kelebihan berat badan, tak profesional, dan kerap mengecewakan tim.

Isco menjawab kepercayaan Zidane dengan mencetak gol pertama saat laga memasuki menit ke-62. Gareth Bale--pemain yang kencang digosipkan segera hengkang--memastikan kemenangan melalui golnya sekitar 15 menit kemudian.

Kemenangan ini memang belum bisa dijadikan indikasi kebangkitan Madrid, tapi setidaknya ini awal yang positif.

"Terasa baik; kami menang dan itulah yang kami inginkan," kata Zidane, dikutip The Guardian.

Walau berstatus sebagai seorang legenda, Zidane tetap harus membuktikan kehebatannya meracik tim untuk bisa mengembalikan kejayaan Real Madrid. Ia juga mesti mampu membungkam suara skeptis yang muncul mengiringi penunjukannya kembali.

Meski berhasil membawa Madrid menjuarai Liga Champions tiga kali, tak sedikit orang yang masih meragukan kemampuan taktik pelatih asal Prancis itu, termasuk para suporter Real Madrid.

Dalam sebuah survei yang dilakukan pekan lalu oleh harian ternama Spanyol, AS (h/t BBC), 55 persen responden menyatakan para pemainlah yang lebih bertanggung jawab pada keberhasilan Real merebut tiga trofi Liga Champions di era Zidane. Sebanyak 36 persen memilih Cristiano Ronaldo sebagai faktor utama dan hanya 9 persen yang yakin itu terjadi karena kehebatan Zidane.

Oleh karena itu, kembalinya Zidane dipandang belum menjamin Real Madrid bakal segera kembali ke performa terbaik mereka. Kerja keras diperlukan Zidane untuk membalikkan peruntungan tim yang sepanjang musim ini telah 14 kali kalah, termasuk 8 kali di La Liga.

Hanya 11 pertandingan tersisa musim ini sehingga nyaris tak mungkin untuk mengejar selisih 9 poin dari pemimpin klasemen Barcelona. Tampaknya Zidane akan menjadikan laga tersisa itu sebagai ajang untuk membentuk tim dan menentukan pemain mana saja yang akan dipertahankannya musim depan.

"Akan ada perubahan pada musim panas, tapi saya tak bisa menjelaskan lebih lanjut. Saya takkan ada di sini dalam setiap 10 pertandingan dengan pikiran 'ia bermain bagus jadi ia bertahan' atau 'ia main jelek jadi harus keluar'," tegas Zidane, dikutip ESPN.

"Kita tak sedang memilih tim di taman bermain."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR