KUALIFIKASI THOMAS UBER

Kemenangan dramatis putra dan hasil maksimal putri

Jonatan saat mengikuti China Open Sueprseries, Kamis (16/11/2017). Pada BATC 2018 ini, Jonatan selalu tampil apik di pertandingan pembuka. Terakhir, di babak semifinal melawan Korsel, Sabtu (10/2/2018), dia menang melawan Son.
Jonatan saat mengikuti China Open Sueprseries, Kamis (16/11/2017). Pada BATC 2018 ini, Jonatan selalu tampil apik di pertandingan pembuka. Terakhir, di babak semifinal melawan Korsel, Sabtu (10/2/2018), dia menang melawan Son. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Keberhasilan tim putra Indonesia melangkah ke final Kejuaraan Beregu Bulu Tangkis Asia (BATC) 2018 dilalui dengan tak mudah. Menghadapi Korea Selatan di babak semifinal, Sabtu (10/2/2018) malam WIB, tim Merah-Putih harus menunggu hingga detik terakhir.

Gambaran pada kalimat terakhir itu bukan kiasan. Namun benar-benar terjadi. Indonesia memastikan ke partai puncak setelah wakil terakhir mereka, alias pertarungan kelima, Firman Abdul Kholik, menang lewat tiga gim dengan bermain setting point (dulu disebut deuce).

Hasil itu harus terjadi setelah Indonesia-Korsel bermain sama kuat, di empat pertandingan awal, 2-2. Wakil pertama Indonesia, Jonatan Christie, secara mengejutkan menundukkan Son Wan Ho, dalam dua gim langsung dengan skor 21-18, 21-14.

Beda peringkat kedua pemain itu cukup jauh. Jonatan ke-13 dunia, sedangkan Son 4 dunia. Rekor pertemuan pun, sebelum pertandingan kemarin, Son unggul 2-1. Namun, Jonatan, yang pada BATC kali ini tak pernah kalah dari lawan-lawannya, bermain sangat apik.

"Lagi dan lagi, terima kasih Tuhan, saya diberi kemenangan lagi dan bisa menyumbang angka untuk tim Indonesia," ucap Jonatan usai pertandingan kepada Badmintonindonesia.org.

Pada pertandingan kedua, wakil--yang lagi-lagi dadakan--Mohammad Ahsan/Angga Pratama mengalahkan Chung Eui Seok/Seo Seung Jae dua gim langsung, 21-8, 21-10. Ini adalah kali pertama Ahsan/Angga bermain bersama di laga resmi. Biasanya, hanya di latihan saja.

Ini bukan kali pertama Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra Indonesia, mengacak-acak ganda Indonesia di turnamen yang dijadikan sebagai kualifikasi Piala Thomas-Uber tersebut. Sebelumnya, Ahsan diduetkan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo sejak babak kedua hingga perempat final.

Hasilnya, tak buruk. Meski kalah di babak kedua, tetapi Ahsan/Kevin menang di perempat final kala menghadapi Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Duet disebut terakhir ini bukan lawan sembarangan. Mereka peringkat lima dunia saat ini.

Menurut Ahsan, tak ada rahasianya bisa bertanding baik dengan banyak pasangan berbeda. "Di latihan kami sering diacak-acak pelatih. Kami sering latihan tanding dengan bergiliran ganti partner. Jadi sudah terbiasa," kata Ahsan.

Pada pertandingan ketiga dan keempat, Korsel mampu mencuri poin. Tunggal putra kedua, atau wakil ketiga Indonesia, Ihsan Maulana Musftofa, harus mengakui keunggulan Jeon Hyeok Jin dalam dua gim langsung, 17-21, 16-21.

Sedangkan wakil keempat Indonesia--yang kembali duet dadakan--Hendra Setiawan/Rian Agung Saputro--kalah lewat rubber game. Mereka tunduk di tangan Choi Solgyu/Kim Dukyoung 21-11, 18-21, 19-21.

Sebenarnya, bukan hanya Indonesia saja yang merotasi pemain gandanya. Juga demikian dengan Korsel. Chung Eui Seok sebenarnya biasa bermain dengan Choi Solgyu.

Pada pertandingan terakhirlah, Firman menunjukkan penampilan impresif, bahkan sangat impresif, dengan menundukkan Lee Dong Keun. Setelah menang di gim pertama lewat setting point, 22-20, Firman kalah di gim kedua, 11-21.

Pada gim pamungkas, asa Indonesia pun hampir pupus, karena Firman tertinggal 14-20. Di sinilah pertunjukkan impresif dimulai. Firman berhasil meraih 8 poin berturut-turut. Sedangkan Lee, tak mampu meraih sebiji poin pun.

Firman akhirnya menutup pertandingan dengan skor 22-20. "Tadi saya nggak mikir lawan sudah 20 dan saya 14. Pokoknya saya mikir bagaimana dapatkan satu demi satu poin dan usaha banget untuk fokus," kata Firman.

Ekspresi Firman setelah mengalahkan Lee secara dramatis. Firman bermain hebat dengan melakukan aksi impresif di gim ketiga.
Ekspresi Firman setelah mengalahkan Lee secara dramatis. Firman bermain hebat dengan melakukan aksi impresif di gim ketiga. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Dalam pertarungan final nanti, Indonesia akan bertemu Tiongkok. Ini menjadi final ideal, mengingat Indonesia dan Tiongkok adalah kiblat bulu tangkis dunia dengan sejarah yang panjang.

Penampilan tim putra ini sangat diapresiasi Susi Susanti, Kabidbinpres PBSI. "Para pemain tampil luar biasa, terutama Firman yang bisa membalikkan keadaan dan mampu keluar dari saat-saat kritis," ucap Susi.

Menurut Susi, hasil ini di luar dugaan. Sebab, Indonesia sebelumnya mengandalkan nomor ganda untuk meraih poin. "Ternyata tunggal putra bisa menyumbang dua poin. Ini pengalaman berharga untuk Firman," katanya.

Menghadapi Tiongkok di partai puncak, menurut Susi, Indonesia akan bermain tanpa beban. Maklum, target yang diberikan oleh PBSI adalah lolos babak final BATC 2018 dan masuk ke Piala Thomas dan Uber.

Selain itu, Indonesia juga tak akan diperkuat ganda terkuatnya, Kevin dan Marcus Fernaldi Gideon. Mereka sudah pulang ke Indonesia untuk pemulihan cedera dan persiapan All England.

"Untuk final besok, main dulu saja. Dengan tim yang ada saat ini, kami mau memberikan yang terbaik untuk Indonesia," ucap Susi.

Tim putri terhenti

Sayangnya, keberhasilan tim putra ke babak final tak diikuti tim putri. Para srikandi Indonesia harus puas melangkah hingga babak semifinal, sebelum ditaklukkan Jepang dengan skor 3-0.

Wakil pertama Indonesia, Fitriani kala dari Akane Yamaguchi dengan skor 21-17, 13-21, 17-21. Di partai kedua, Greysia Polii/Apriyani Rahayu dijinakkan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dengan skor 22-20, 19-21, 18-21.

Di partai penentuan, Gregoria Mariska kalah dari Tunjung Nozomi Okuhara dengan kedudukan 21-5, 19-21, 21-15.

Bila melihat skor dari tiga partai tersebut, Indonesia kalah bukan tanpa perlawanan. Semuanya telah berjuang maksimal hingga terjadi rubber game. Maka, kekalahan ini pun menjadi hasil yang tak buruk bagi para pemain putri Indonesia.

Toh, sejak awal, tim putri memang ditargetkan "hanya" menembus putaran final Piala Uber. Tiket itu sudah dipastikan sejak mereka lolos ke babak perempat final.

"Perjuangan mereka sudah maksimal. Lolos ke putaran final di Piala Uber jadi target utama dan sudah terpenuhi. Meskipun kalah tapi kita lihat perjuangannya, ada progress," ucap Susi.

"Hasil ini jadi modal untuk Piala Uber, percaya dirinya dapat, keyakinan dapat, pengalaman dapat."

BACA JUGA