Kemenangan emosional Rafael Nadal

Rafael Nadal mengangkat kedua tangannya merayakan kemenangan atas Kevin Anderson di final tunggal putra AS Terbuka 2017, Sabtu (10/9/2017), di New York, AS.
Rafael Nadal mengangkat kedua tangannya merayakan kemenangan atas Kevin Anderson di final tunggal putra AS Terbuka 2017, Sabtu (10/9/2017), di New York, AS. | Jason Szenes /EPA-EFE

Rafael Nadal tersenyum sembari mengangkat kedua tangannya ketika serve and volley yang dilakukannya mengakhiri perlawanan Kevin Anderson di final tunggal putra Amerika Serikat Terbuka 2017.

Nadal menang 6-3, 6-3, 6-4 di Stadion Arthur Ashe, New York, Minggu (10/9/2017) untuk mengangkat trofi Grand Slam kedua dia tahun ini dan yang ke-16 sepanjang karier gemilangnya.

Untuk pertama kalinya sejak 2013, petenis asal Spanyol itu kembali mengakhiri musim dengan dua trofi turnamen tenis tertinggi. Sebelumnya, ia juga menjuarai Prancis Terbuka 2017.

Trofi ketiganya di AS Terbuka--ditambah 10 piala Prancis Terbuka, 2 Wimbledon, dan 1 Australia Terbuka-- membuatnya mendekati rekor perolehan Grand Slam, 19 buah, yang kini dipegang oleh musuh bebuyutannya Roger Federer.

Federer juga menjuarai dua Grand Slam tahun ini--Australia dan Wimbledon--, namun tersingkir pada perempatfinal AS Terbuka 2017.

Tahun 2017 menjadi tahun yang baik bagi petenis berusia 31 tahun tersebut. Dua piala Grand Slam menjadi bukti berhasilnya perjuangan keras untuk sembuh dari cedera yang sempat mengganggunya.

Cedera pergelangan tangan kiri membuatnya memutuskan untuk mengakhiri musim 2016 usai Olimpiade Rio de Janeiro dan istirahat hingga awal musim 2017.

Kini petenis kelahiran, Manacor, Spanyol, itu tampak sudah kembali ke performa terbaiknya.

"Sungguh sulit untuk dipercaya apa yang telah terjadi tahun ini. Setelah beberapa tahun mengalami masalah, cedera, kadang bermain jelek--sejak awal musim semua terasa amat, amat emosional," kata Nadal usai menaklukkan Anderson, seperti dikutip BBC.

Dalam kesempatan itu Nadal juga menghaturkan rasa terima kasihnya kepada sang paman, sekaligus pelatih utamanya sejak berusia 3 tahun, Toni Nadal.

Toni telah mengumumkan bahwa tahun ini akan menjadi tahun terakhirnya melatih sang keponakan secara penuh. Ia akan digantikan oleh mantan petenis No. 1 dunia asal Spanyol, Carlos Moya, yang telah bergabung dengan tim pelatih Nadal sejak Desember 2016.

"Takkan pernah cukup rasa terima kasih saya untuk semua hal yang pernah dilakukannya (Toni, red.) untuk saya," kata Nadal. "Mungkin, tanpa dia, saya takkan pernah bermain tenis."

"Sungguh hebat memiliki seseorang seperti dia yang terus mendorong saya ... saya bisa melewati semua masalah dalam karier saya dalam artian cedera."

Kepada The New York Times, Toni menyatakan ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama istri dan anak-anaknya, serta lebih fokus pada akademi tenis yang dikelolanya. Namun, ia menyatakan siap untuk dipanggil Nadal setiap saat jika dibutuhkan.

"Begini, tahun depan, jika Rafael meminta saya untuk ke Monte Carlo untuk menemaninya di turnamen itu karena, katakanlah, Carlos Moya tak bisa hadir, saya akan dengan senang hati melakukannya," tutur Toni.

Kemenangan di AS Terbuka tersebut membuat Nadal kembali ke posisi puncak tenis putra dunia. Ia juga diuntungkan dengan cederanya tiga anggota "Big Five" tunggal putra--Andy Murray, Novak Djokovic, dan Stan Wawrinka--yang absen dari AS Terbuka tahun ini.

Untuk pertama kali dalam final Grand Slam yang pernah dimainkannya, Nadal tidak melawan salah satu dari anggota Big Five tersebut.

Anderson, peringkat ke-27, adalah petenis berperingkat terendah yang pernah maju hingga final AS Terbuka sejak sistem peringkat ATP diperkenalkan pada 1973.

Petenis asal Afrika Selatan berusia 31 tahun itu nyaris tak berkutik menghadapi Nadal, teman baiknya sejak masa junior, di final AS Terbuka, final Grand Slam pertama yang pernah dimainkan sepanjang kariernya.

"Saya tahu usia kita sama, tetapi saya merasa selalu memperhatikanmu sepanjang hidup saya," kata Anderson kepada Nadal. "Anda telah menjadi seorang idola bagi saya. Sulit untuk melawan Anda. Anda telah membuktikannya lagi malam ini. Anda adalah salah satu duta terbaik olahraga kita ini."

Kemenangan di New York membuat kocek Nadal bertambah US $3,7 juta (Rp48,7 miliar), sementara Anderson mendapat US $1,83 juta.

Menurut data ATP World Tour, sejak mengawali karier profesional pada 2001, Nadal telah mengumpulkan total US $89,98 juta (Rp1,18 triliun) hadiah uang dari turnamen-turnamen yang diikutinya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR