INDONESIA OPEN 2019

Kento Momota bicara Tokyo 2020 dan riuhnya Istora

Tunggal putra Jepang, Kento Momota, menang 22-20, 21-14 atas Daren Liew dari Malaysia pada babak pertama Blibli Indonesia Open 2019 di Istora, Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (16/7/2019).
Tunggal putra Jepang, Kento Momota, menang 22-20, 21-14 atas Daren Liew dari Malaysia pada babak pertama Blibli Indonesia Open 2019 di Istora, Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (16/7/2019). | Bagus Indahono /EPA-EFE

Tahun depan Ibu Kota Jepang, Tokyo, akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas. Jepang, tentu saja, berharap para atletnya bisa merebut medali emas sebanyak-banyaknya. Salah satu penyandang beban emas tersebut adalah Kento Momota.

Namanya masuk dalam daftar 12 atlet Jepang yang bakal bersinar di Olimpiade 2020 versi Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Tak salah memang. Pebulu tangkis berusia 24 tahun itu kini tengah ada di puncak dunia. Ia menempati peringkat 1 tunggal putra dunia sejak 27 September 2018 dan belum tergoyahkan hingga Blibli Indonesia Open 2019 digelar di Istora, Gelora Bung Karno, Jakarta.

Usai menjadi tunggal putra Jepang pertama yang menjuarai turnamen bulu tangkis paling bergengsi di dunia, All England, pada Maret lalu, Momota memang menyatakan bahwa salah satu impian terbesarnya adalah merebut medali emas Olimpiade. Apalagi di rumah sendiri.

Akan tetapi, saat ditanya kembali mengenai hal itu ketika ditemui usai mengalahkan Darren Liew dari Malaysia pada babak pertama Indonesia Open 2019, Selasa (16/7/2019), Momota merespons dengan diplomatis.

"Saat ini saya ingin fokus pada yang ada di depan dulu (Indonesia Open, red.). Saya belum memikirkan tentang Olimpiade 2020. Apalagi setelah ini juga ada Japan Open," kata Momota melalui penerjemah kepada media, termasuk Beritagar.id, di mixed zone Istora.

"Tetapi saya pasti akan mengikuti Olimpiade," tegas Momota.

Tokyo 2020 akan menjadi Olimpiade pertama bagi atlet kelahiran Kagawa, Jepang, itu. Ia sebenarnya lolos kualifikasi untuk Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, tetapi hukuman dari asosiasi bulu tangkis Jepang (Nippon Badminton Association/NBA) membuatnya gagal berangkat.

Hukuman tersebut diberikan karena Momota dan rekannya, Kenichi Tago, mengunjungi sebuah tempat perjudian ilegal di Jepang. Judi haram bagi atlet Jepang, apalagi di kasino ilegal. Padahal saat itu namanya tengah menanjak setelah menjuarai Indonesia Open dan Superseries Finals pada 2015, serta India Open 2016.

Pada Mei 2016 NBA menjatuhkan hukuman larangan bertanding dan mencoret namanya dari daftar atlet Jepang untuk Olimpiade Rio.

Momota baru kembali ke lapangan pada Juli 2017, mengikuti Canada Open. Ia harus mengawali karier dari bawah lagi dan bekerja keras untuk kembali ke kelompok elit dunia.

Kerja keras, ditunjang bakatnya, membuat Momota tak butuh waktu lama untuk mencapai performa terbaiknya lagi. Dalam dua tahun ia berhasil merebut 16 gelar juara dari 21 turnamen yang diikutinya. Pada 2018 ia menjadi pebulu tangkis putra Jepang pertama yang merebut medali emas Kejuaraan Dunia dan Asia, disusul All England 2019.

Deretan prestasi tersebut memulihkan nama baiknya dan pada awal 2018 ia kembali dipanggil untuk masuk tim nasional bulu tangkis Jepang.

Untuk bisa tampil di Olimpiade, pebulu tangkis harus mengumpulkan nilai yang cukup selama periode kualifikasi. Untuk Tokyo 2020, nilai tersebut dikumpulkan dari turnamen resmi BWF yang diikuti pada 30 April 2019 hingga 30 April 2020.

Saat ini Momota sepertinya masih sulit digusur dari peringkat atas dunia, sehingga kemungkinannya untuk lolos kualifikasi Olimpiade 2020 amat besar.

Selain itu, tuan rumah punya keistimewaan. Mereka punya jatah 1 pemain putra dan putri tanpa memperhitungkan nilai kualifikasi. Kalau tak ada aral melintang, NBA bisa dipastikan akan memberikan satu jatah putra kepada Momota.

"Saya beruntung Olimpiade akan datang ke Tokyo dan saya punya peluang," ujar Momota.

Istora arena favorit

Pada Indonesia Open 2019, Momota adalah unggulan teratas tunggal putra. Ia juga telah dua kali menjuarai satu dari tiga turnamen kelas BWF World Tour Super 1000 ini, yaitu pada 2015 dan 2018.

Dua gelar itu, ditambah riuhnya sorak penonton, membuat Momota tak ragu menyebut Indonesia Open sebagai turnamen favoritnya. Keriuhan penonton, tentu saja sebagian besar mendukung atlet tuan rumah, menurutnya bukanlah masalah. Malah atmosfer itu membuatnya menikmati pertandingan.

Para penonton di Istora pada Selasa (16/7) malam itupun sepertinya banyak yang memfavoritkan pebulu tangkis kelahiran 1 September 1994 itu. Teriakan "Kento...Kento...Kento" bergema setiap kali Momota berhasil mendapat poin saat menghadapi Daren Liew.

"Saya jadi lebih bersemangat," kata Momota, yang menang 22-20, 21-14 atas lawan dari Malaysia tersebut.

Dukungan penonton itupula yang membuatnya optimistis lolos ke final untuk membuka peluang mempertahankan gelar juara di Istora.

"Saat ini saya unggulan pertama dan kesempatan saya besar untuk mendapat gelar, tapi saya tidak mau lengah dan saya akan tetap berusaha," tutur Momota, dalam BadmintonIndonesia.org.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR