HONG KONG OPEN

Kevin/Marcus dekati rekor baru

Ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gideon menjadi satu-satunya wakil Indonesia di final Hong Kong Open 2018.
Ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gideon menjadi satu-satunya wakil Indonesia di final Hong Kong Open 2018. |

Kevin Sanjaya/Marcus Gideon mendekati rekor baru dalam karier mereka, yakni delapan trofi turnamen seri HSBC BWF World Tour dalam satu musim. Rekor sebelumnya adalah tujuh gelar juara yang didapat mereka pada musim 2017.

Gelar kedelapan bisa didapat hari ini, Minggu (18/11/2018), di Hong Kong Open 2018. Ganda putra yang akrab disapa The Minions itu akan tampil di final menghadapi seteru bebuyutan, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dari Jepang.

Sejak 2016, dua ganda tersebut telah 10 kali bertarung pada turnamen internasional. Kevin/Marcus menang enam kali, termasuk dua pertemuan terakhir di Asian Games 2018 dan final Danisa Denmark Open 2018.

Walau rekor pertemuan mengunggulkan mereka, Kevin/Marcus tak mau jemawa. Kamura/Sonoda, unggulan keempat di Hong Kong Open 2018, adalah lawan yang tak mudah ditaklukkan.

"Kami harus konsentrasi dari awal permainan, karena lawan juga kuat, mereka pertahanannya rapat. Kami harus siap capek kalau melawan mereka," tutur Kevin kepada Badmintonindonesia.org.

Sejak awal tahun 2018, Kevin/Marcus telah delapan kali ke final BWF World Tour dan hanya sekali kalah, yaitu di French Open dari ganda Tiongkok, Han Chengkai/Zhou Haodong, pada 28 Oktober. Itu menjadi kekalahan pertama dalam final turnamen yang mereka capai sejak November 2017.

Mereka berhasil menjadi juara di Indonesia Masters, India Open, All England, Indonesia Open, Japan Open, Denmark Open, dan Fuzhou China Open. Ditambah medali emas Asian Games 2018, The Minions sebenarnya sudah mengumpulkan delapan trofi sepanjang tahun.

Kevin/Marcus maju ke final setelah memenangi pertarungan seru melawan senior mereka di Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) Cipayung, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pada semifinal, Sabtu (17/11).

Butuh tiga gim bagi The Minions untuk menang 21-14, 18-21, 21-9 pada pertandingan di Hong Kong Coliseum yang berlangsung selama 45 menit.

"Hari ini kami main cukup baik di game pertama, di game kedua kami terlalu buru-buru ingin mematikan lawan dan mereka bisa melakukan block dengan baik, jadi kami harus ganti strategi lagi di game ketiga," kata Marcus setelah pertandingan.

Sementara Kamura/Sonoda memupus mimpi penggemar bulu tangkis untuk menyaksikan all-Indonesians final di Hong Kong. Andalan Jepang itu menundukkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dua gim langsung, 24-22, 21-15.

Kemenangan game pertama sudah di depan mata saat Fajar/Rian memimpin dalam kedudukan game point 20-18. Akan tetapi, kesalahan demi kesalahan dilakukan pasangan rangking 10 dunia tersebut. Kamura/Sonoda semakin percaya diri, mereka akhirnya mengendalikan permainan dan menang.

"Di game pertama itu momen yang seharusnya tidak kalah, kami tidak bisa memanfaatkan kesempatan. Mungkin kurang tenang dan kurang pintar. Memang harus diakui, di level seperti ini, di poin-poin kritis tidak boleh lengah, kalau lengah ya pasti nggak bisa. Ke depannya kami tidak boleh seperti ini," kata Fajar.

Ganda nomor dua Indonesia ini hanya tiga kali masuk final sepanjang 2018 dan sekali menjadi juara, yaitu di Malaysia Masters.

"...seharusnya penampilan kami bisa lebih baik dari ini. Pertemuan sebelumnya saja bisa menang kok, kenapa hari ini kalah?" tambah Fajar.

Usai mengikuti Hong Kong Open 2018, Fajar/Rian dijadwalkan berkompetisi pada turnamen SyedModi International Badminton Championships 2018 di Lucknow, India, dan Korea Masters 2018 di Gwangju, Korea Selatan.

Sementara bagi Kevin/Marcus, Hong Kong Open adalah seri terakhir World Tour yang mereka ikuti sebelum tampil pada turnamen penutup tahun HSBC BWF World Tour Finals di Guangzhou, Tiongkok, 12-16 Desember 2018.

Pada ganda putri, perjuangan Apriyani Rahayu/Greysia Polii terhenti di semifinal. Unggulan keempat itu ditundukkan favorit juara turnamen ini, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dari Jepang.

Apriyani/Greysia sempat memberikan perlawanan selama 105 menit sebelum akhirnya kalah 22-20, 9-21, 12-21.

"Kami sudah melakukan yang terbaik, sudah belajar dari kesalahan yang lalu, tapi kenyataannya kami kalah dan kami terima kekalahan in," tutur Greysia.

"Di game pertama kami sudah bisa mengontrol permainan tapi konsentrasi saya terganggu dan mental saya turun, setelah saya terjatuh di game pertama dan ini menyebabkan bagian badan saya terasa sakit."

Rasa sakit tersebut sempat membuat Greysia mempertimbangkan untuk mundur dari pertandingan, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk terus bertanding hingga akhir.

Kejutan besar terjadi di tunggal putra dan putri Hong Kong Open 2018. Unggulan teratas dua nomor tersebut harus pulang lebih awal.

Tunggal putra top dunia saat ini, Kento Momota, disingkirkan di semifinal oleh Son Wan Ho dari Korea Selatan. Son menang 18-21, 21-16, 21-19 dalam laga yang berlangsung 90 menit tersebut.

Sementara peringkat pertama tunggal putri dunia, Tai Tzu Ying, gagal menyelesaikan pertandingan semifinal melawan Nozomi Okuhara dari Jepang. Tai kalah 21-12 pada gim pertama dan mundur saat kedudukan 1-3 pada gim kedua.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR