LIGA CHAMPIONS

Klopp akhiri ''kutukan final'' bersama Liverpool

Pelatih Liverpool,  Juergen Klopp, mengangkat trofi Liga Champions UEFA di Stadion  Wanda Metropolitano, Madrid, Spanyol (1/6/2019).
Pelatih Liverpool, Juergen Klopp, mengangkat trofi Liga Champions UEFA di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Spanyol (1/6/2019). | Peter Powell /EPA-EFE

Juergen Klopp bisa bernapas lega. Keberhasilan Liverpool menjuarai Liga Champions 2018/19 mematahkan kutukan yang dianggap menghantui kariernya. Sebelumnya, klub yang dilatihnya pernah kalah dalam enam final beruntun, termasuk Liverpool di final Liga Champions musim lalu.

Kemenangan 2-0 Si Merah atas Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, pada Minggu (2/6/2019) dini hari WIB, membuat Klopp memberikan piala pertamanya untuk Liverpool sejak menjadi manajer klub tersebut pada 2015. Ia juga menjadi pelatih asal Jerman pertama yang bisa membawa klub Inggris menjadi juara di Eropa.

Gol penalti pada menit awal dari Mohamed Salah dan satu gol tambahan dari pemain pengganti Divock Origi saat laga tersisa tiga menit tersebut cukup untuk membawa Liverpool mengangkat piala Liga Champions untuk keenam kali dalam sejarah panjang klub tersebut.

Jumlah piala Liga Champions Liverpool hanya kalah dari Real Madrid (13) dan AC Milan (7)

"Ini adalah malam terbaik dalam karier profesional saya," kata Klopp usai pertandingan. “Sejujurnya, saya merasa amat lega. Lega bagi keluarga saya karena pada enam kali liburan kami yang terakhir, selalu dengan medali perak. Itu tidak terasa keren."

Piala tersebut juga memberi hiburan manis bagi Si Merah pada akhir musim ini. Sebelumnya, mereka gagal mengakhiri puasa gelar di Liga Primer Inggris. Kalah dari Manchester City dalam salah satu persaingan terketat sepanjang sejarah kompetisi tersebut.

Pep Guardiola, pelatih City, menurut Klopp telah meneleponnya untuk mengucapkan selamat. Kata Klopp, mereka berdua siap untuk saling sikut lagi di Liga Primer Inggris pada musim depan.

"Ini adalah musim yang sangat berat dengan akhir yang lebih indah dari yang bisa saya bayangkan," kata pelatih berusia 51 tahun itu. (h/t BBC)

Pertandingan final malam itu bisa dibilang membosankan. Para pemain Liverpool lebih banyak berkumpul di belakang dan sesekali melakukan serangan balik, tapi terbukti efektif.

Spurs yang mengandalkan Harry Kane dan Son Heung-min di depan pun gagal memanfaatkan 16 peluang yang mereka dapat. Setengah dari peluang itu memang tepat menuju gawang Liverpool, tetapi kiper Alisson Becker menunjukkan bahwa ia layak dihargai 67 juta poundsterling (Rp1,2 triliun).

Salah dkk. hanya menguasai 35,4 persen bola sepanjang 90 menit. Membuat mereka menjadi tim kedua dengan penguasaan bola lebih rendah dari lawan yang berhasil menjuarai Liga Champions. Tim pertama yang melakukannya adalah Inter Milan saat mengalahkan Bayern Munich pada 2010. Ketika itu Inter dilatih Jose Mourinho.

Tak sedikit penggemar sepak bola di media sosial menyebut bahwa laga final malam itu adalah salah satu yang paling buruk dan membosankan. Mourinho dan mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger, juga berpendapat sama.

Wenger menyebut Liverpool bermain "amat rata-rata", sementara Tottenham dikatakannya "kurang percaya diri" pada final tersebut.

"Pada akhirnya pertandingan itu ditentukan oleh dua set-piece, yakni sebuah penalti dan sepak pojok, seperti banyak laga penting lainnya," kata Wenger kepada beIN Sports (h/t Metro.co.uk).

Mourinho menyatakan bahwa ia sependapat dengan Wenger. Taktik Klopp untuk memasang tiga pemain tengah--Fabinho, Georginio Wijnaldum, dan Jordan Henderson--lebih ke belakang membuat Liverpool memang cenderung bertahan.

Kalau itu adalah pertandingan di liga domestik, menurut mantan pelatih Manchester United tersebut, semua orang akan tegas berkata bahwa itu adalah laga yang buruk. Tetapi, karena itu adalah final Liga Champions maka performa pemenang akan tetap tampak istimewa.

"Karena final Liga Champions punya sisi emosional, semua final Liga Champions menjadi pertandingan spesial," kata Mourinho. "Akan tetapi kualitas pertandingan tidak bagus."

Klopp dan para pemain Liverpool tampaknya takkan terlalu peduli dengan kritik terhadap performa pasukannya pada malam itu. Toh, mereka berhasil mencetak dua gol dan pulang membawa piala.

"Kami takkan mengenangnya sebagai pertandingan yang buruk. Kami akan mengenang bahwa kami menjadi juara Eropa," kata bek Trent Alexander Arnold, dikutip Eurosport.

Klopp juga enggan membahas taktik permainan timnya. "Saya telah duduk di sini beberapa kali untuk menjelaskan mengapa kami kalah. Sekarang saya tak mau menjelaskan mengapa kami menang. Saya hanya ingin menikmati kemenangan kami," tegasnya.

Selain menikmati kemenangan, keberhasilan di final itu juga membuat Liverpool mengantongi uang total 74,35 juta poundsterling (Rp1,34 triliun) yang merupakan jumlah dari semua bonus kemenangan yang mereka dapat sejak babak penyisihan.

Pelatih Tottenham, Mauricio Pochettino, mengatakan timnya tak beruntung dan penalti pada menit-menit awal tersebut amat merugikan mereka.

"Mengawali lagi setelah tertinggal 1-0 amat sulit, kami mengubah rencana kami. Itu adalah situasi yang tak bisa kami perkirakan atau persiapkan. Anda takkan bisa percaya tertinggal 1-0 hanya setelah satu menit. Secara mental itu amat berat," jelasnya.

Akan tetapi, ia menegaskan tetap bangga terhadap performa para pemainnya. "Ini amat menyakitkan tetapi kami harus terus maju. Jelas ini akan sulit, tetapi dalam beberapa jam ke depan kami harus mengubah pikiran dan bersikap positif," tegas Pochettino.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR