TRANSFER PEMAIN

Klub Inggris habiskan Rp23 triliun untuk beli pemain

Harry Maguire saat membela timnas Inggris pada Piala Dunia 2018 melawan Swediadi Samara, Rusia (7/7/2018). Maguire menjadi bek termahal di dunia setelah dibeli Manchester United dari leicester City dengan harga 80 juta poundsterling.
Harry Maguire saat membela timnas Inggris pada Piala Dunia 2018 melawan Swediadi Samara, Rusia (7/7/2018). Maguire menjadi bek termahal di dunia setelah dibeli Manchester United dari leicester City dengan harga 80 juta poundsterling. | Felipe Trueba /EPA-EFE

Liga Primer Inggris (EPL) musim 2019/20 telah dimulai sejak Sabtu (10/8/2019). Satu hal yang paling menarik perhatian dari salah satu liga sepak bola terpopuler di dunia ini adalah jual-beli, alias transfer, pemain dari dan keluar klub. Pemain yang tepat bisa membuat klub berprestasi lebih hebat.

Jendela transfer musim panas EPL telah ditutup pada Jumat (9/8/2019) dini hari WIB. Artinya, hingga 1 Januari 2020, klub tak boleh lagi membeli pemain baru.

Nilai total uang yang dikeluarkan 20 klub EPL untuk membeli pemain baru mencapai 1,41 miliar poundsterling (Rp23,85 triliun), sedikit di bawah rekor sepanjang masa yang dicatatkan EPL musim lalu, 1,43 miliar pound. Dengan demikian, untuk empat musim beruntun, angka transfer di liga Inggris itu melebihi 1 miliar pound.

Angka tersebut dihabiskan untuk membeli total 102 pemain, jumlah paling sedikit dalam enam tahun terakhir.

Sebanyak 10 klub melampaui rekor pembelian pemain termahal yang pernah mereka catatkan. Arsenal, misalnya, merekrut striker Nicolas Pepe dengan harga 72 juta pound, jauh melebihi rekor sebelumnya, 55 juta pound, saat The Gunners membeli Pierre Emerick Aubameyang pada 2018.

Arsenal juga menjadi klub yang mengeluarkan uang belanja terbesar, yakni 155 juta pound untuk lima pemain. Juara bertahan Manchester City berada di posisi kedua dengan 150 juta pound, disusul Manchester United (145 pound).

Klub yang baru promosi dari Championship--kasta kedua di sepak bola Inggris-- Aston Villa, berada di posisi keempat dengan belanja pemain 125 juta pound. Mereka jelas ingin memastikan tak langsung terdegradasi pada musim pertama di EPL, setelah tiga musim berkutat di Championship.

Label pemain termahal pada bursa musim panas ini disematkan pada bek Harry Maguire. Manchester United menggelontorkan uang 80 juta pound (Rp1,36 triliun) untuk merekrutnya dari Leicester City. Pemain asli Inggris itupun jadi bek termahal di dunia saat ini.

Apakah perlu uang sebanyak itu mereka gelontorkan? Apakah investasi di EPL semenguntungkan itu?

Dalam wawancara dengan Financial Times, Dan Jones rekanan pada Sports Business Group dalam perusahaan konsultan Deloitte, menyatakan banyak alasan mengapa klub perlu berinvestasi demikian banyak. "Apakah untuk tetap di tingkat teratas, lolos ke kompetisi Eropa, merebut gelar juara, selalu ada alasan untuk terus berinvestasi," katanya.

Orang awam mungkin melihat investasi itu seperti "membakar uang" semata. Akan tetapi, data menunjukkan bahwa klub-klub itu bertindak rasional. Deloitte melaporkan bahwa pada akhir musim lalu (2018/19), total pendapatan 20 klub EPL mencapai 8,3 miliar euro (Rp133,22 triliun), naik 8 persen dari musim sebelumnya dan mencatatkan rekor baru.

West Ham United adalah klub EPL dengan pendapatan terendah musim lalu. Berapa uang yang mereka dapatkan? Sebanyak 197,9 juta euro (Rp3,17 triliun) saja.

Bagaimana West Ham mendapatkan uang sebanyak itu padahal praktis hanya bertanding di liga lokal saja? Hak siar televisi adalah jawabannya. Setiap klub berhak mendapatkan uang dari siaran pertandingan yang melibatkan mereka.

Pengelola EPL, dikutip Associated Press, pada Mei lalu mengumumkan nilai hak siar kompetisi tersebut untuk tiga musim mendatang (2019-2022) naik 8 persen dari sebelumnya, menjadi 9,2 miliar pound. Padahal nilai hak siar di Inggris sendiri turun dari 5,4 miliar pound menjadi 5 miliar pound.

Hal itu menunjukkan popularitas EPL di luar Inggris justru semakin meningkat, sehingga televisi tak segan merogoh kocek lebih dalam.

Selain itu, jika klub berlaga di kompetisi Eropa, dompet mereka akan semakin tebal. Kompetisi paling top di Eropa, Liga Champions UEFA, membagikan total 2,04 miliar euro kepada klub yang berkompetisi. Bahkan, setiap klub yang tersisih pada babak playoff awal Liga Champions, masing-masing dihadiahi uang 5 juta euro.

Juara Liga Champions UEFA musim ini, 2019/20, menurut hitungan situs web Total Sportek bisa mendapatkan sekitar 100 juta euro.

Uang yang beredar itu, tentu saja berpengaruh kepada kesejahteraan pemain. Menurut hitungan Deloitte (h/t BBC), rasio gaji pemain dengan pendapatan klub saat ini diperkirakan mencapai 60 persen.

Pada musim lalu, menurut data Statista, Manchester United adalah klub yang mengeluarkan uang terbanyak untuk mengupah pemain. Gaji pemain Setan Merah mencapai rata-rata 6,53 juta pound, atau Rp111,53 miliar per pemain per musim.

Cardiff menjadi yang paling sedikit, dengan rata-rata 0,96 juta pound (Rp16,39 miliar) per pemain per musim.

Jadi, bisa dibilang, para penggemar Liga Primer Inggris saat ini tengah menyaksikan para miliuner berebut bola di lapangan hijau.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR