PIALA ASIA

Korea Selatan dan kutukan medali emas

Para pemain Korea Selatan berkumpul sebelum pertandingan Grup C Piala Asia 2019 melawan Kirgistan di Al Ain, Uni Emirat Arab (11/1/2019).
Para pemain Korea Selatan berkumpul sebelum pertandingan Grup C Piala Asia 2019 melawan Kirgistan di Al Ain, Uni Emirat Arab (11/1/2019). | Mahmoud Khaled /EPA-EFE

Menjelang dimulainya Piala Asia 2019 di Uni Emirat Arab, asosiasi sepak bola Korea Selatan (KFA) ternyata memberikan medali emas kepada anggota keluarga empat pemain tim nasional yang menjuarai turnamen tersebut pada 1960.

Medali emas tersebut rupanya pengganti dari medali yang mereka terima sesaat setelah menjuarai putaran final turnamen yang ketika itu diselenggarakan di Seoul, ibu kota Korea Selatan.

Pemberian itu disebut-sebut sebagai upaya untuk mengakhiri "kutukan medali emas" yang dipercaya telah menghantui timnas sepak bola Korsel selama lebih dari setengah abad.

Mengapa demikian?

Sejak menjuarai dua edisi awal Piala Asia pada 1956 dan 1960, Korea Selatan belum pernah lagi mengangkat trofi tersebut walau empat kali masuk final. Padahal sepak bola di negara tersebut telah amat berkembang dan beberapa pemain mereka menjadi andalan di klub-klub besar Eropa.

Taeguk Warrior--julukan timnas Korsel--telah sembilan kali beruntun masuk putaran final Piala Dunia sejak 1986, bahkan mencapai semifinal pada 2002. Mereka juga merebut medali perunggu Olimpiade 2012.

Ada kepercayaan bahwa kegagalan selama 59 tahun tersebut merupakan "kutukan" dari para pemain timnas Korsel yang menjuarai Piala Asia 1960.

Saat itu, putaran final Piala Asia dilakukan dengan sistem setengah kompetisi. Sang juara adalah peraih poin terbanyak.

Pada putaran final yang berlangsung di Seoul itu, Korsel mengangkat trofi setelah menang 5-1 atas Vietnam Selatan (sekarang Vietnam), 3-0 atas Israel, dan 1-0 atas Republik China (sekarang Taiwan).

Sebagai hadiah kemenangan, para anggota tim mendapatkan medali emas. Kemudian ternyata diketahui bahwa medali tersebut palsu.

"Medali emas yang kami terima palsu. Mereka dilapisi emas murah dan lapisan itu mudah copot," kata Park Kyung-hwa, salah satu anggota timnas Korsel 1960, kepada Yonhap, kantor berita Korsel.

Park, yang saat ini berusia 80 tahun, adalah anggota termuda tim tersebut. Ia menyatakan bahan dasar medali yang diterimanya saat itu adalah timah.

Para pemain timnas, setelah mengetahui buruknya kualitas medali, melancarkan protes kepada KFA dan mengembalikan semuanya. Mereka menuntut agar diberikan medali emas asli sebagai pengganti.

Tuntutan tersebut akhirnya dipenuhi 54 tahun kemudian. Pada 2014, KFA merestorasi medali dengan bantuan kolektor memorabilia bernama Lee Jae-hyung.

Karena masalah administrasi dan kesulitan melacak jejak para anggota timnas 1960, saat itu baru enam pemain yang medalinya diganti. Tiga dari enam pemain itu--Yoo Pan-soon, Lee Soon-myung, dan Yoon Kwang-joon--telah wafat sehingga diberikan kepada anggota keluarga mereka.

KFA sudah membuat 23 medali emas pengganti, tetapi kemudian diketahui anggota tim saat itu hanya 18 pemain.

"Para anggota tim lama itu meminta medali emas baru, tetapi karena perubahan manajerial di dalam KFA dan isu-isu lainnya, kami baru bisa memberi medali emas baru pada 2014," kata Kim Se-in, salah satu pejabat KFA.

"Tak ada informasi kontak para pemain atau keluarga mereka, jadi ini adalah pekerjaan yang sulit."

Entah berkaitan atau tidak, setelah enam medali pengganti itu diberikan, peruntungan Taeguk Warriors membaik. Mereka berhasil mencapai final Piala Asia 2015, meski kemudian dikalahkan Australia, 1-2 lewat perpanjangan waktu.

Pada awal bulan ini, menjelang Piala Asia 2019 di Uni Emirat Arab, KFA kembali memberikan medali emas pengganti kepada empat pemain yang berhasil dilacak.

Dengan demikian, sudah 10 medali pengganti diberikan dan KFA masih mencari delapan orang lagi. Menurut Kim Se-in, KFA telah menerima telepon dari banyak orang yang mengaku anggota keluarga pemain timnas 1960.

Salah satu dari empat penerima terkini adalah bek Kim Hong-bok. Ia telah wafat sehingga medali diterima oleh anak perempuannya, Kim Hwa-soon.

"Meski dia (ayahnya) tidak berbicara mengenai itu (soal medali palsu), saya yakin saat itu dia pasti sedih," kata Kim, dikutip AFP. "Saya berharap para pemain bisa menjuarai Piala Asia tahun ini. Saya yakin ayah saya juga ingin menyaksikan itu."

Korea Selatan saat ini menempati peringkat kedua Grup C Piala Asia 2019 setelah menang atas Filipina dan Kirgistan pada dua laga awal. Pasukan Paulo Bento itu hanya kalah selisih gol dari pemimpin grup, Tiongkok. Kedua tim akan bertarung untuk memperebutkan posisi teratas pada Rabu (16/1).

Menjelang pertandingan penting itu, Taeguk Warriors mendapat tambahan amunisi dengan datangnya pemain andal Son Heong-min, yang baru diizinkan pergi oleh klubnya, Tottenham Hotspur.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR