ASIAN GAMES 2018

Lampu hijau untuk trek BMX dan velodrom

Atlet pelatnas BMX berlatih di BMX International Center Pulomas, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Pemusatan latihan tersebut sebagai persiapan menghadapi Asian Games 2018.
Atlet pelatnas BMX berlatih di BMX International Center Pulomas, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Pemusatan latihan tersebut sebagai persiapan menghadapi Asian Games 2018. | Wahyu Putro A /Antara Foto

Raja Sapta Oktohari tampak lebih semringah siang itu. Senyum terus menghiasi wajahnya dan meluangkan waktu untuk bergurau dengan para wartawan yang tengah menunggu konferensi pers yang akan dilakukan Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) di Jakarta International Velodrom, Rawamangun, Kamis (20/7/2018).

Apa yang kemudian disampaikan Ketua Umum ISSI tersebut dalam jumpa pers membuka rahasia kebahagiaannya. Asian Cycling Confederation--badan olahraga sepeda Asia--mengacungkan jempol pada lintasan balap di velodrom dan arena BMX.

Kedua arena tersebut dinyatakan telah memenuhi standar internasional dan layak digunakan untuk Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus-2 September.

"Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya dua arena ini," kata Okto. "Kabar gembira lainnya, dengan selesainya dua arena ini sekarang PB ISSI bisa menyelenggarakan semua nomor dalam kejuaraan nasional untuk pertama kali dalam sejarah."

Lampu hijau diberikan oleh ACC setelah Sekretaris Jenderal Onkar Singh melakukan pemeriksaan akhir kedua arena tersebut pada Kamis (20/7) pagi.

Pertama, pada pukul 9.00 WIB ia mendatangi BMX International Center di Pulomas, Jakarta Timur. Selama sekitar satu jam Singh meneliti segala aspek yang ada di arena tersebut, mulai dari lintasan balap hingga tempat duduk penonton.

"Saya harus mengatakan bahwa ini adalah salah satu trek BMX terbaik di dunia. Semua fasilitas baru dan bagus. Semua peserta akan senang berkompetisi di sini. Saya pikir akan hadir beberapa rekor baru nanti," kata Singh.

Trek BMX yang bagus, menurut lelaki asal India tersebut, amat penting bagi ACC karena pengembangan nomor perlombaan ini di Asia tengah menjadi prioritas utama organisasi tersebut. Populernya BMX di kalangan generasi muda, menurut Singh, menjadi salah satu alasannya.

"Kami coba mengembangkan olahraga ini. BMX tidak butuh arena yang luas, menarik untuk ditonton, dan disukai remaja serta anak-anak. Hal itu bagus bagi perkembangan balap sepeda," jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa masih sedikit negara Asia yang mengirimkan atlet mereka untuk berlaga di lintasan BMX pada Asian Games 2018. "Sepertinya baru 12 negara yang akan berkompetisi. Arena yang bagus bisa menarik lebih banyak negara untuk berpartisipasi," sambungnya.

Arena BMX berdiri di tanah seluas total 2 hektare dan pembangunan lintasan balapnya saja memakan biaya Rp8 miliar, belum termasuk biaya pembangunan fasilitas lainnya. Tribunnya bisa menampung 500 penonton.

Biaya desain dan pembangunan lintasan tersebut terbilang mahal karena ISSI menggunakan jasa Tom Ritzenthaler Jr, seorang perancang terkemuka asal Amerika Serikat.

Perusahaannya, Tom Ritz Design, telah merancang berbagai trek BMX kelas dunia, termasuk yang digunakan pada ajang Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro, Brasil.

Manager Venue BMX Asian Games 2018, Toto Sugito, menyatakan Ritz dan timnya menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan sirkuit tersebut dan akan kembali pada awal Agustus nanti untuk melakukan pemeriksaan akhir.

Toto juga menyatakan, walau sudah diacungi jempol oleh Singh, ada satu perbaikan yang harus dilakukan sebelum Asian Games. Mereka mesti memundurkan garis finis sejauh 5 meter, sehingga panjang lintasan bertambah menjadi 435 meter.

Menurutnya, technical delegates ACC meminta pemunduran itu karena adanya gerbang tiang yang berfungsi sebagai tempat meletakkan kamera untuk memantau garis finis.

Namun Toto menyatakan hal itu tidak berpengaruh banyak karena proses pengerjaannya hanya butuh waktu seminggu.

"Mungkin yang akan terpengaruh adalah atlet Indonesia karena mereka telah terbiasa dengan garis finis yang lama. Kini mereka harus beradaptasi lagi," ujarnya.

JIV bisa selenggarakan Kejuaraan Dunia

Beberapa pekerja tampak sedang membenahi halaman depan Jakarta International Velodrome di Rawamangun, Jakarta, Kamis (19/7/2018)
Beberapa pekerja tampak sedang membenahi halaman depan Jakarta International Velodrome di Rawamangun, Jakarta, Kamis (19/7/2018) | Sandy Pramuji /Beritagar.id

Setelah area BMX, Singh beranjak menuju Rawamangun untuk menginspeksi arena balap indoor, Jakarta International Velodrom (JIV).

Sekali lagi Singh mengutarakan kekagumannya, terutama pada kualitas lintasan balap yang menurutnya amat cepat dan memang layak untuk mendapatkan sertifikasi Grade 1 dari organisasi balap sepeda dunia, UCI.

"Setelah memeriksa secara menyeluruh, saya bisa menyatakan bahwa lintasan di velodrom ini adalah salah satu yang terbaik di Asia," kata Singh.

Status tersebut didapat JIV pada Mei sehingga kini tak hanya Asian Games, velodrom tersebut juga sudah memenuhi standar untuk menyelenggarakan Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.

ACC, lanjut Singh, memberikan sertifikat Grade 1 untuk arena yang dibangun dengan biaya mencapai Rp660 miliar tersebut.

Dengan status Grade 1, JIV kini bisa menjadi tuan rumah Olimpiade bahkan Kejuaraan Dunia.

Timnas balap sepeda Indonesia berlatih di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta, Jum'at (13/7/2018).
Timnas balap sepeda Indonesia berlatih di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta, Jum'at (13/7/2018). | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Sirkuit yang dibangun sebuah perusahaan Jerman dan menggunakan kayu cemara dari Siberia tersebut, mengutip Antara Foto, mempunyai panjang lintasan 250 meter, lebar 7,1 meter, kemiringan maksimal 40 derajat.

Ada 2.500 kursi penonton yang bisa ditambah menjadi 3.500 kursi. Jika tribun berdiri dibuka, jumlah penonton bisa membengkak menjadi 5.000 orang.

Kualitas Velodrom ini juga membuat ACC meminta ISSI menyelenggarakan lebih banyak nomor pada cabang balap sepeda di Asian Games. Dari 18 nomor pada Asian Games 2014 menjadi 22 nomor di Indonesia.

ISSI menargetkan untuk bisa merebut empat medali emas di negeri sendiri. Nomor yang diandalkan adalah BMX, downhill, trek, dan road race.

Dua arena sudah siap, tetapi Ketum ISSI menegaskan pekerjaan mereka belum selesai.

"Bisa memiliki fasilitas tingkat dunia adalah satu hal. Hal lain adalah mencetak atlet balap sepeda tingkat dunia," tegas Okto. "Selain berupaya mencapai target di Asian Games 2018, masih ada Kejuaraan Dunia dan Olimpiade yang menjadi target kami."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR