SERIE A ITALIA

Langkah awal Spalletti dan Inter yang mengesankan

Pelatih Inter Milan Luciano Spalletti berpelukan dengan Danilo D'Ambrosio usai pertandingan Serie A melawan Hellas Verona di Stadion Bentegodi, Verona, Italia (30/10/2017). Inter menang 2-1.
Pelatih Inter Milan Luciano Spalletti berpelukan dengan Danilo D'Ambrosio usai pertandingan Serie A melawan Hellas Verona di Stadion Bentegodi, Verona, Italia (30/10/2017). Inter menang 2-1. | Simone Venezia /EPA-EFE

Tujuh musim sudah berlalu sejak terakhir kali Internazionale Milan, alias Inter, menduduki tahta Serie A, kompetisi sepak bola tertinggi di Italia. Setelah mendominasi liga pada periode 2005-2010, nama Inter seperti tenggelam ditelan kebangkitan Juventus, yang menguasai liga sejak 2011.

Berita tentang Inter sejak itu justru didominasi oleh kabar mengenai peralihan saham mayoritas ketimbang prestasi mereka di lapangan. Massimo Moratti kini bukan pemegang saham terbanyak. Setelah sempat dikuasai pengusaha Indonesia, Erick Thohir, saham terbesar Inter kini dipegang perusahaan Tiongkok Suning Holdings Group.

Sejak Jose Mourinho hengkang pada 2010, ketidakstabilan klub ditunjukkan dengan gonta-ganti pelatih sebanyak 12 kali, termasuk dua periode jabatan caretaker oleh Stefano Vecchi.

Prestasi terbaik mereka adalah peringkat kedua pada musim 2010-11. Setelah itu perjalanan Nerazzurri bagaikan roller coaster dan hanya finis di peringkat ke-7 pada musim lalu.

Namun kini ada secercah harapan akan kebangkitan klub yang bermarkas di Guiseppe Meazza tersebut. Untuk pertama kalinya sejak kemenangan di Serie A diganjar tiga poin, Inter berhasil mengumpulkan 29 poin hanya dalam 11 pertandingan.

Tiga poin terakhir didapat pada Selasa (30/10/2017) dini hari WIB, ketika mereka menang 2-1 atas tuan rumah Hellas Verona. Gol Ivan Parisic pada menit 67 menjadi penentu kemenangan. Sebelumnya, gol dari Borja Valero pada menit 36 disamakan oleh pemain Verona, Giampaolo Pazzini, dari titik putih pada menit 59.

Pemain Inter Ivan Perisic (tengah) merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Hellas Verona.
Pemain Inter Ivan Perisic (tengah) merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Hellas Verona. | Simone Venezia /EPA-EFE

Itu adalah kemenangan kesembilan. Nerazzurri belum terkalahkan musim ini, menempati peringkat kedua, dan hanya tertinggal dua poin dari pemimpin klasemen Napoli.

Tak hanya dari klub-klub kecil dan semenjana, sepanjang musim ini mereka telah menaklukkan Roma (3-1), AC Milan (3-2), dan Sampdoria (3-2), serta menahan Napoli tanpa gol.

Tokoh di belakang kebangkitan Inter adalah sang pelatih Luciano Spalletti. Pelatih berusia 58 tahun ini sempat dipandang sinis. Ia dianggap hanya pilihan ketiga setelah Inter gagal mendapatkan Antonio Conte dan Diego Simeone.

Sempat diragukan ketika ditunjuk menggantikan Stefano Pioli pada awal musim, mantan pelatih AS Roma itu membuktikan formula strateginya ternyata cocok untuk skuat yang saat ini dimiliki Inter.

Eduardo Dalmonte dari ESPN FC menganalisis bahwa secara perlahan, Spalletti berhasil membangun sebuah tim yang berkarakter, memiliki identitas, dengan sistem permainan yang telah diperhitungkan secara matang.

"Saat Mancini (Roberto Mancini mantan pelatih Inter, red.) terus mengganti pemain, Spalletti hanya memilih 14 pemain yang selalu jadi starter sejak awal musim, mencoba agar mereka belajar bermain satu sama lain, dengan cara yang dia inginkan," tulis Dalmonte.

Selain itu, walau dikenal sebagai pelatih berfilosofi menyerang, Spalletti ternyata amat memperhatikan para pemain bertahan. Ia memberi mereka latihan keras untuk bisa membangun tembok yang kuat di depan kiper Samir Handanovic.

Roberto Gagliardini dan Matias Vecino berhasil dibinanya untuk menjadi poros di lapangan tengah, sementara di usia senjanya, Antonio Candreva, diasah untuk bisa mengancam pertahanan lawan dari sayap kanan.

Sementara Yuto Nagamoto dan Danilo D'Ambrosio lebih kokoh menjaga kedua sisi pertahanan Inter.

Striker Mauro Icardi pun membuktikan ketajamannya dengan 11 gol yang telah dicetaknya musim ini dan kini tampak lebih rela untuk membantu tim bertahan saat kehilangan bola. Jika Icardi kesulitan, masih ada Perisic yang tak kalah tajamnya.

Spalletti pun yakin scudetto bukanlah sebuah impian dengan skuat yang dimilikinya saat ini.

"Kami sekarang menyadari kalau kami memiliki sumber daya untuk mencapai tujuan kami. Jika kami melihat ada orang lain yang dibutuhkan, kami akan membahasnya pada Januari. Namun tak ada gunanya menyebut nama. Saya bahagia dengan para pemain saya," kata Spalletti kepada Goal.com.

Walau memiliki keyakinan, sang pelatih sadar bahwa masih panjang perjalanan yang mesti mereka tempuh untuk mencapai tujuan itu: merebut trofi Serie A.

Mencatatkan rekor poin dari 11 pertandingan awal pada era tiga poin adalah catatan yang lebih baik dibandingkan era Mourinho dan Mancini, tetapi hal itu, menurut Spalletti, tak membuat perbedaan untuknya.

"Kami harus beranjak dari dasar lubang, sebuah lubang yang panjang hingga Juni nanti. Jadi, kami belum mau berbicara mengenai scudetto," ujarnya, dikutip Gazzetta Dello Sport.

"Kami juga tak mau membicarakan tim lain. Mereka semua ada di sana: Roma, Lazio, Milan, semua memiliki kelengkapan untuk menjadi juara. Kami harus menang melawan mereka semua, tetapi itu berat."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR