INDONESIA MASTERS 2019

Liliyana Natsir yang menikmati pertandingan terakhirnya

Foto ilustrasi. Ganda campuran Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) merayakan kemenangannya di ajang Blibli Indonesia Open 2018 pada Minggu (8/7/2018).
Foto ilustrasi. Ganda campuran Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) merayakan kemenangannya di ajang Blibli Indonesia Open 2018 pada Minggu (8/7/2018). | Bagus Indahono /EPA-EFE

Berakhir sudah perjalanan karier Liliyana "Butet" Natsir di dunia bulu tangkis. Partai final Indonesia Masters 2019, Minggu (27/1/2019) sore WIB, menjadi babak pamungkas dari lembaran karier profesionalnya.

Namun dalam partai terakhirnya tersebut, Butet harus menerima hasil tidak menyenangkan. Bersama tandem sejatinya, Tontowi "Owi" Ahmad, Butet kalah 21-19, 19-21, 16-21, dari Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Tiongkok).

Namun, hasil akhir sepertinya tak terlalu penting dalam laga tersebut. Pasalnya, ia terlihat begitu menikmati momen-momen terakhirnya di lapangan. Butet bermain lepas, cukup sering tersenyum, dan --terpenting-- jarang sekali menegur Owi.

Untuk hal yang terakhir disebut, jangan harap dapat terjadi kala keduanya masih menjalani tahun-tahun aktif bermain. Teriakan "Wi (Owi)!" dengan tatapan serius, selalu terpasang di wajah Butet saat sang tandemnya melakukan kesalahan dalam bermain.

Dan sore kemarin, Butet tak bersikap demikian meski Owi berulang kali membuat kesalahan, khususnya pada gim kedua. Salah satu kesalahan fatal Owi adalah memukul shuttlecock sembarangan kala mereka telah unggul 18-14.

Kesalahan inilah yang menjadi titik balik permainan Zheng/Huang hingga mereka dapat mempertahankan gelarnya dalam ajang Indonesia Masters. "Saya ingin semua happy-happy saja pada akhir karier sebagai pemain," kata Butet soal kesalahan Owi itu.

"Saya tidak ingin keras. Namun, ternyata Owi memang harus ditegur biar bermain baik," tambahnya sembari tertawa.

Toh, Butet mengaku puas atas pencapaiannya di Indonesia Masters. Ia tak menyangka mampu melangkah hingga ke babak final. Pun, di partai puncak, ia berhasil membuat repot Zheng/Huang, ganda campuran terbaik dunia saat ini.

"Saya puas pada penampilan terakhir. Bisa mengeluarkan semua kemampuan dan menyusahkan pasangan nomor satu dunia saat usia saya tidak muda lagi," kata Butet.

Kini, tongkat estafet ganda campuran Indonesia sudah berpindah. Owi, yang merupakan pemain Indonesia paling senior pada nomor tersebut, menjadi penerima tongkat tersebut. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Butet yang telah membimbingnya.

"Terima kasih kepada cik Butet. Sampai pertandingan terakhir pun dia masih memotivasi saya, memberi saya banyak pelajaran. Pada saat terakhir dia main saja nggak pantang menyerah. Ini menjadi motivasi buat saya," ucap Owi.

Sudah 16 tahun Butet menjalani kariernya di pelatihan nasional (pelatnas). Dalam jangka waktu tersebut, sudah berulang kali ia menorehkan prestasi yang membanggakan Indonesia di ajang internasional.

Antara lain satu medali emas Olimpiade Rio de Jenerio 2016, tiga kali beruntun juara All England (2012-2014), dan empat kali juara dunia (2005, 2007, 2013, lalu 2017). Jumlah ini belum termasuk 24 gelar kejuaraan bergengsi BWF World Tour Super -- dulu disebut superseries.

Dengan deretan prestasi tersebut, maka keputusan Butet untuk pensiun pun menjadi momen khusus bagi dunia bulu tangkis Indonesia, bahkan dunia. Di media sosial Twitter, tagar #ThankYouButet sempat menjadi trending topic dunia.

Tiga Juara bertahan

Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya Sukomuljo menunjukkan medali seusai mengalahkan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan pada pertandingan final Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Pasangan Marcus/Kevin menjuarai Indonesia Master setelah menang dengan skor 21-17, 21-11.
Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya Sukomuljo menunjukkan medali seusai mengalahkan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan pada pertandingan final Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Pasangan Marcus/Kevin menjuarai Indonesia Master setelah menang dengan skor 21-17, 21-11. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Bukan hanya Zhen/Huang saja yang mampu mempertahankan gelar dalam turnamen berkategori BWF World Tour 500 tersebut. Selain mereka, ada dua pemain lain yang mampu mempertahankan trofinya pada 2018 lalu.

Mereka adalah ganda putri Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang) yang mengalahkan pemain Korea Selatan, Kim So Yeong/Kong Hee Yong, 21-19, 21-15.

Satu lagi adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang menundukkan senior mereka, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, 21-17, 21-11. Ini adalah kemenangan kedelapan Kevin/Marcus dari 10 perjumpaan dengan Hendra/Ahsan .

Meski sangat dominan atas rekor tersebut, menurut Kevin, tak mudah untuk mengalahkan seniornya tersebut. "Mereka bermain sangat tenang, sangat baik, khususnya pada gim pertama, mereka bisa cepat mendapatkan poin," ucap Kevin.

Di sisi lain, Hendra/Ahsan mengakui bahwa juniornya itu memang lebih baik dari mereka saat ini. Permainan cepat yang dikembangkan Kevin/Marcus, menurut Hendra, tak mampu diredam oleh dirinya dan Ahsan.

"Kami kalah kecepatan, pertahanan kami pun kurang rapat. Mereka terus menurunkan bola, dan posisi kami susah karena kena serang terus," ucap Hendra.

Pada nomor tunggal putra, akhirnya ada pemain Eropa terbaru yang berhasil menaklukkan Kento Momota (Jepang). Dia adalah Anders Antonesen (Denmark). Anders berhasil memenangi laga final atas Momota dengan skor 21-16, 14-21, 21-16.

Terakhir pemain Eropa yang berhasil mengalahkan Momota adalah Jan O Jorgensen (Denmark) dalam Japan Open pada 11 Juni 2014. Artinya, setelah 1.691 hari, baru ada lagi pemain Eropa yang mengalahkan Momota.

Sedangkan pada tunggal putri, Saina Nehwal (India) keluar sebagai juara setelah sang lawan, Carolina Marin (Spanyol), tak dapat menuntaskan laga karena cedera pergelangan kaki pada gim pertama. Saat itu, Marin sudah unggul 10-4.

Liliyana Natsir yang menikmati pertandingan terakhirnya

Foto ilustrasi. Ganda campuran Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) merayakan kemenangannya di ajang Blibli Indonesia Open 2018 pada Minggu (8/7/2018).
Foto ilustrasi. Ganda campuran Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) merayakan kemenangannya di ajang Blibli Indonesia Open 2018 pada Minggu (8/7/2018). | Bagus Indahono /EPA-EFE

Ganda campuran Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) merayakan kemenangannya di ajang Blibli Indonesia Open 2018 pada Minggu (8/7/2018).Berakhir sudah perjalanan karier Liliyana "Butet" Natsir di dunia bulu tangkis.

Bersama tandem sejatinya, Tontowi "Owi" Ahmad, Butet kalah 21-19, 19-21, 16-21, dari Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Tiongkok).Namun, hasil akhir sepertinya tak terlalu penting dalam laga tersebut.

Salah satu kesalahan fatal Owi adalah memukul shuttlecock sembarangan kala mereka telah unggul 18-14.Kesalahan inilah yang menjadi titik balik permainan Zheng/Huang hingga mereka dapat mempertahankan gelarnya dalam ajang Indonesia Masters.

Pun, di partai puncak, ia berhasil membuat repot Zheng/Huang, ganda campuran terbaik dunia saat ini."Saya puas pada penampilan terakhir.

Pasangan Marcus/Kevin menjuarai Indonesia Master setelah menang dengan skor 21-17, 21-11.Bukan hanya Zhen/Huang saja yang mampu mempertahankan gelar dalam turnamen berkategori BWF World Tour 500 tersebut.

Anders berhasil memenangi laga final atas Momota dengan skor 21-16, 14-21, 21-16.Terakhir pemain Eropa yang berhasil mengalahkan Momota adalah Jan O Jorgensen (Denmark) dalam Japan Open pada 11 Juni 2014.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR