LIGA PRIMER INGGRIS

Manchester City juara, Liverpool dihibur rekor

Skuat Manchester City merayakan gelar juara Liga Primer Inggris untuk kedua kalinya di American Express Community Stadium di Brighton, Minggu (12/5/2019).
Skuat Manchester City merayakan gelar juara Liga Primer Inggris untuk kedua kalinya di American Express Community Stadium di Brighton, Minggu (12/5/2019). | Toby Melville /Antara Foto/Reuters

Manchester City berhasil mempertahankan gelar juara Liga Primer Inggris (EPL). City mengumpulkan nilai akhir 98 untuk menghentikan persaingan dengan Liverpool yang berada di posisi kedua dengan nilai 97.

Keberhasilan City ditentukan oleh kemenangan 4-1 atas tuan rumah Brighton & Howe Albion di Stadion American Express Community, Minggu (12/5/2019). Tiga poin bagi City membuat kemenangan 2-0 Liverpool atas Wolverhampton Wanderers di Anfield pada waktu bersamaan tak lagi berpengaruh.

Persaingan City dan Liverpool pada musim ini pun menjadi sebuah rekor. Untuk pertama kalinya, kombinasi poin 195 yang dikumpulkan kedua klub itu terbesar sepanjang sejarah EPL.

Adapun penentuan juara pada pekan pamungkas ini adalah edisi kedelapan. Dan City membuktikan kehebatannya karena berhasil meraih tiga trofi dalam delapan kesempatan itu, masing-masing pada 2011-12, 2013-14, dan 2018-19.

Pelatih City, Pep Guardiola, mengatakan dalam jumpa pers pekan lalu bahwa persaingan sangat ketat pada musim ini ditentukan oleh Liverpool. Pep menyebut pasukan Jurgen Klopp meningkat pesat dibanding musim lalu dan menuntut para rival sangat tinggi.

"Kami menekan, mereka (Liverpool) menekan balik. Saya pun harus menekan para asisten pelatih dan para pemain. Jadi, ini memang musim paling berat yang pernah kami hadapi," ujar Pep dalam konferensi pers usai mengalahkan Brighton.

Satu hal yang berandil sangat penting pada City adalah mental juaranya. Hal itu disampaikan pemain depan Raheem Sterling.

Betapa tidak, menjalani partai penentuan, City justru tertinggal lebih dulu pada menit ke-27 melalui Glenn Murray. Namun, City langsung membalas semenit kemudian melalui Sergio Aguero.

Setelah itu, laju City tak tertahankan. Secara berurutan hadir gol dari Aymeric Laporte (menit ke-38), Riyad Mahrez (63), dan Ilkay Gundogan (72). Pelatih Brighton, Chris Hughton menyebutnya sublim; City menunjukkan kehebatan dalam level tertinggi.

"Hal terpenting dari tim ini adalah langsung bangkit setelah tertinggal. Urusan mental ini peran pelatih, apapun yang terjadi pokoknya menang. Saya senang bisa dilatih olehnya," ujar Sterling dilansir The Guardian.

Kehebatan City untuk menguasai EPL dua musim terakhir, menurut The Economist, adalah kelihaian dalam membeli pemain dalam tiga musim terakhir. Sejumlah klub elite Eropa juga royal dalam membeli pemain, tapi City berbelanja dengan efektif karena nyaris tak ada pemain yang anjlok (flop) usai diborong.

Perekrutan pemain yang tepat juga dilakukan oleh Liverpool pada durasi sama, satu di antaranya adalah Mohammed Salah. Apalagi Liverpool dikenal cukup boros membeli pemain demi mengejar gelar juara EPL pertamanya sejak 1989-90.

Perekrutan kiper Allison Becker juga menjadi kunci. Tottenham Hotspur pun demikian. Bahkan karena pembelian pemain yang tepat guna sejak tiga tahun lalu, performa Spurs menjadi relatif kurang terpengaruh walau mereka tak belanja satu pun pemain pada musim ini.

Spurs pun berhasil lolos ke final Liga Champions dan akan menghadapi Liverpool. Inilah bukti bahwa perekrutan pemain yang tepat bisa memberi hasil.

Kemudian faktor untuk memastikan juara hanya ditentukan oleh detail mikro dari sang pelatih dalam pertandingan demi pertandingan. Klopp, pelatih Liverpool, pun menegaskan bahwa musim kali ini mengalami lonjakan kualitas.

Dalam temu media usai mengalahkan Wolves, pelatih asal Jerman ini mengatakan seluruh statistik timnya pada musim ini sungguh menakjubkan. Apalagi Liverpool pun mencetak rekor baru.

Liverpool menjadi runners-up pertama yang mampu mencapai nilai 97 di 5 kompetisi domestik teratas Eropa. Mereka mengalahkan nilai Real Madrid (96) yang menjadi runners-up La Liga Spanyol pada musim 2009-10 --tiga angka di belakang Barcelona ketika ditangani Pep.

Namun, itu hanya sekadar hiburan bagi Liverpool. Klopp mengatakan pada akhirnya hanya kekecewaan yang mereka rasakan.

"Kami menggunakan dasar musim lalu untuk membuat lompatan besar, luar biasa. Hanya sedikit lagi berhasil. Kami tentu akan berusaha lagi 100 persen, tapi untuk saat ini kami kecewa. Sungguh kecewa," katanya dalam situs resmi Liverpool.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR