BULU TANGKIS

Maraknya dugaan pengaturan pertandingan pebulu tangkis Malaysia

Zulfadli Zulkiffli saat bertanding melawan Sho Sasak (Jepang) dalam pertandingan Badminton Grand Prix di Mexico City, Mexico, Selasa (18/12/2015). Zulfadli diduga melakukan pengaturan pertandingan bersama Tan Chun Seang.
Zulfadli Zulkiffli saat bertanding melawan Sho Sasak (Jepang) dalam pertandingan Badminton Grand Prix di Mexico City, Mexico, Selasa (18/12/2015). Zulfadli diduga melakukan pengaturan pertandingan bersama Tan Chun Seang. | Alex Cruz /EPA

Karir dua pebulu tangkis asal Malaysia berada di ujung tanduk. Mereka adalah Zulfadli Zulkiffli (25 tahun) dan Tan Chun Seang (31 tahun). Sejak kemarin hingga saat ini, Selasa (27/2/2018), kedua pebulu tangkis itu tengah menghadapi sidang yang diselenggarakan Komite Disiplin Badminton World Federation.

Lokasinya? Di hotel Jen Tanglin, Orchard Road, Singapura. Pada Senin kemarin, sudah empat saksi dari tiga negara yang dipanggil dalam sidang tersebut.

Bukan tanpa alasan wadah bulu tangkis dunia itu menyidangkan kedua pemain--terlebih di lokasi yang cukup jauh dari negara asal. Mereka diduga melakukan praktek kotor dalam dunia olahraga, yakni melakukan pengaturan pertandingan, alias match fixing.

Menurut anggota Badminton Association of Malaysia (BAM/PBSI-nya Malaysia), Jadadish Chandra kepada Bernama (H/T The Sun Daily), salah satu pertandingan yang diatur itu adalah Korean Grand Prix.

"Salah satunya itu. Ada enam (aksi) yang dilakukan mereka," ucap Chandra, yang juga merupakan pengawas dari BAM dalam sidang tersebut, Senin kemarin.

Dalam berita sebelumnya, terungkapnya dua pebulu tangkis tersebut adalah karena gaya hidup mewah salah satu pemain. Namun, kali ini, Chandra menjelaskan informasi lain.

BWF, menurut Chandra, menemukan bukti tentang aktifitas pengaturan skor tersebut setelah dilaporkan oleh seorang pemain. "Itu (pelapor) bukan pemain Malaysia dan itu tak ada hubungannya dengan yang dilakukan pemain Denmark," terang Chandra.

Dia tak menjelaskan maksud pemain Denmark tersebut. Hanya saja, menurut Badminton Planet, dua pebulu tangkis Denmark, Hans-Kristian Vittinghus dan Kim Astrup pernah ditawari oleh seseorang asal Malaysia untuk mengatur pertandingan pada 2014.

Dalam sidang kemarin, menurut Chandra, kedua pemain tak bersuara sama sekali. Semua pertanyaan yang diajukan tim panel BWF untuk mengkonfirmasi keterangan para saksi, dijawab oleh para pengacara.

"BWF memanggil saksi mereka dan mengkonfirmasi silang lewat pengacara (terduga). BWF mengambil kesimpulan dari bukti yang dihadirkan oleh saksi," ucap Chandra, dinukil dari The Star.

Hari ini, rencananya Zulfadli dan Tan akan memberikan kesaksian secara langsung. "Besok (hari ini) adalah saatnya melakukan sanggahan. Hanya itu informasi yang bisa saya berikan," katanya.

"Saya tidak memiliki isu lain untuk dibuat. (Tim) panel sangat independen, sangat adil. Saya berharap keadilan akan berlaku."

Zulfadli dan Tan bukan pemain sembarang. Mereka mempunyai catatan cukup apik di bulu tangkis dunia. Tan, yang lebih senior, pernah menduduki peringkat 32 dunia dan menjadi bagian dari tim Thomas Malaysia pada 2010.

Sedangkan Zulfadli, karirnya lebih mentereng lagi. Dia merupakan juara dunia junior pada 2011, dengan mengalahkan Viktor Axelsen (Denmark). Saat ini, Axelsen merupakan pebulu tangkis peringkat pertama dunia di nomor tunggal putra.

Sebelumnya, BAM mengatakan bahwa dua pemain ini sudah bukan lagi pemain timnas Malaysia di berbagai kejuaraan, alias pemain profesional. Sedangkan menurut pengakuan Chandra aksi Zulfadli dan Tan kebanyakan dilakukan pada 2013.

Mempengaruhi pemain profesional

Sebenarnya, cukup jarang terdengar adanya pengaturan pertandingan di dunia bulu tangkis, tak seperti di sepak bola. Namun ternyata, beberapa pemain Negeri Jiran pernah ditawari sejumlah pihak untuk melakukan pengaturan pertandingan.

Bahkan hal ini pernah menerpa mantan pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei. Tanpa dijelaskan secara detail kapan, di mana, siapa, dan berapa jumlahnya, Chong Wei mengatakan pernah ditawari seseorang untuk melakukan match fixing.

"Uang bukan segalanya bagi saya. Bagi saya, rasa bangga kepada negara dan bertanggung jawab untuk terus mengangkatnya adalah yang utama," ucapnya, yang dikutip dari New Straight Time (H/T Indianexpress).

Sedangkan menurut pemain profesional Malaysia lainnya, Liew Daren, kasus ini mempengaruhi dirinya

"Ini jelas tidak adil untuk menyebut bahwa pemain profesional hanya tertarik dengan uang. Kami bermain karena kami menyukai pertandingan sebagai profesi. Jika meraih hasil bagus, kami mendapat semua uangnya," ucap Liew.

Dia pun berharap, dalam persidangan kali ini Zulfadli dan Tan dapat membuktikan isu yang beredar kalau keduanya tidak melakukan pengaturan pertandingan. "Ini kesempatan bagi mereka untuk menjernihkan nama mereka kalau mereka tidak terlibat," ucapnya.

BACA JUGA