BULU TANGKIS

Melihat kawah candradimuka atlet bulu tangkis Indonesia

Tampak depan GOR dan Asrama PB Djarum di Jati, Kudus, Jawa Tengah.
Tampak depan GOR dan Asrama PB Djarum di Jati, Kudus, Jawa Tengah. | PB Djarum

"Aku kan orangnya tertib. Kalau di sini, ada yang ga tertib, kayak handuk dilempar di mana saja atau makan sembarangan," ucap Marvella Angeline Wibowo. "Jadi kadang suka berantem sama teman. Tapi, cuma sesaat aja kok."

Vella, begitu ia biasa disapa, bercerita mengenai sekelumit kehidupannya di asrama bulu tangkis milik PB Djarum di Jati, Kudus, Jawa Tengah. Bocah berusia 12 tahun itu adalah satu dari sekitar 80 atlet cilik yang tinggal dan berlatih di sana sedari usia dini.

"Awal-awal tinggal di sini aku sempat nangis. Tapi lama-lama terbiasa. Aku sudah dua tahun di sini," ucap Vella polos, Jumat (7/9/2018) siang. "Kalau bosan, biasanya main hand phone. Atau main sama teman-teman."

Menilik kehidupan di asrama milik PB Djarum, seolah memasuki tempat untuk menempa sikap disiplin sejak kecil. Maklum, mayoritas penghuni asrama itu berusia di bawah 19 tahun, bahkan ada yang 10 tahun.

Mereka dididik untuk hidup teratur. Sehari dua kali latihan, pagi dan sore. Di sela-sela waktu tersebut, mereka harus berangkat ke sekolah. Rutinitas itu mereka lakukan saban hari, dari Senin sampai Jumat, tanpa orang tua di sisinya.

Bukan hanya itu, mereka pun memiliki jam malam. Begitu jarum jam menunjukkan pukul 21.00, para atlet cilik tadi harus masuk ke kamar dan meninggalkan telepon pintar mereka ke penjaga.

Meski memiliki segudang peraturan yang harus dijalani, tapi salah satu klub bulu tangkis tersukses di Indonesia itu memberikan "kompensasi" yang tak main-main. Kompensasi itu berupa fasilitas kelas satu.

Misalnya, di tiap kamar asrama, baik putra maupun putri, memiliki pendingin udara. Begitu juga dengan ketersediaan wi-fi selama 24 jam. Bila ingin melepas penat, sebuah ruang hiburan dengan luas sekitar 3x6 meter dan memiliki televisi berukuran besar tersedia di sudut bangunan.

Gedung asrama putri PB Djarum di Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (7/9/2018) siang.
Gedung asrama putri PB Djarum di Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (7/9/2018) siang. | Andya Dhyaksa /Beritagar.id

Sebuah GOR dengan 12 lapangan bulu tangkis juga tersedia di bagian depan asrama tersebut. Termasuk dengan perlengkapan kebugaran dan klinik sendiri.

Pun dengan makan sehari-sehari, semua telah disediakan oleh pihak PB Djarum. "Atlet tidak boleh jajan di luar. Kami sudah menyediakan makan sendiri dengan pengawasan ahli gizi," ucap Fung Permadi, pelatih senior.

Menurut salah seorang narasumber Beritagar.id, dalam sehari biaya untuk konsumsi saja mencapai Rp11 juta.

Itu baru fasilitas bangunan dan kesehatan. Belum perlengkapan pertandingan. Sepatu, shuttlecock, maupun raket, sudah disediakan pihak klub. "Raket, tiap anak harus punya empat. Rusak satu, akan diganti," ucap Fung.

Di asrama yang berdiri di atas lahan dengan luas mencapai hampir 3 hektare itu, segala kebutuhan atlet memang dipenuhi. Sebagai balasannya, hanya sedikit yang diminta PB Djarum dari puluhan atlet tadi: belajar yang rajin dan berlatih dengan tekun.

Bila dua hal itu tak dipenuhi, khususnya yang terakhir, maka konsekuensinya adalah atlet harus siap bila terpental dari PB Djarum dan tak menjadi bagian dari mereka lagi.

"Tiap tahun (Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis) kami menerima sekitar 30 atlet. Yang keluar sekitar 20-an atlet," ucap pemain tepok bulu di era 1990-an. "Mereka harus meningkatkan kemampuan bila tak ingin keluar dari PB Djarum."

Dengan fasilitas dan cara mendidik seperti itu, tak salah bila PB Djarum disebut sebagai kawah candradimuka atlet bulu tangkis Indonesia. Bahkan beberapa atlet luar, seperti Michelle Li (Kanada/peringkat ke-15 dunia tunggal putri), sudah beberapa kali menimba ilmu di sana.

Sudut-sudut juara

Bila Anda memiliki kesempatan berkunjung ke asrama milik PB Djarum di daerah Jati, Kudus, maka tak perlu heran bila di sana-sini terdapat potongan informasi mengenai rangking para atlet PB Djarum, mulai dari Kevin Sanjaya hingga Sultan Faiq Al Rizki.

Untuk nama pertama, mungkin Anda sudah Mafhum. Bagaimana dengan nama terakhir? Tentu tak banyak masyarakat umum yang tahu. Dia adalah atlet putra PB Djarum yang berusia di bawah 15 tahun dengan peringkat 77 nasional.

Dibanding dengan Kevin, tentu Sultan belum apa-apa. Namun, pihak klub tetap menempelkan nama Sultan di salah satu sudut ruangan. Selain sebagai informasi bagi PB Djarum, informasi tersebut berguna untuk memacu semangat atlet muda agar berprestasi.

Bukan hanya itu, di asrama tersebut juga terdapat sejumlah taman dengan tema masing-masing, seperti Plaza Thomas, Plaza Uber, atau Plaza World Champions. Tak begitu jauh dari taman World Champions, terdapat "wall of fame" ala-ala Hollywood.

Nama-nama seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Hariyanto Arbi, hingga Christian Hadinata, ada di wall of fame tadi, yang sebenarnya terletak di lantai.

"Ini untuk memacu atlet, agar mereka dapat berprestasi dan nama mereka terukir di sini," ucap Carve Sando, salah satu pengurus PB Djarum.

"Wall of fame" atlet PB Djarum yang berhasil menjuarai sejumlah kejuaraan bulu tangkis level tertinggi di dunia. "Wall of fame" itu terdapat di bagian samping GOR Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (7/9/2018).
"Wall of fame" atlet PB Djarum yang berhasil menjuarai sejumlah kejuaraan bulu tangkis level tertinggi di dunia. "Wall of fame" itu terdapat di bagian samping GOR Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (7/9/2018). | Andya Dhyaksa /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR