MOTOGP

Menanti Marquez cs adu cepat di Mandalika

Pebalap MotoGP Marc Marquez memainkan angklung saat kunjungan di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/2/2019). Marc Marquez dikenalkan dan bermain alat musik tradisional angklung yang terbuat dari bambu tersebut.
Pebalap MotoGP Marc Marquez memainkan angklung saat kunjungan di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/2/2019). Marc Marquez dikenalkan dan bermain alat musik tradisional angklung yang terbuat dari bambu tersebut. | M Agung Rajasa /Antara Foto

Dalam dua tahun mendatang, para penggemar balap motor MotoGP di Indonesia mungkin bisa melihat Marc Marquez berkompetisi di arena balap, tak sekadar bermain angklung dalam kunjungan promosi tim Repsol Honda seperti tampak pada foto di atas.

Pada Kamis (21/2/2019), media-media lokal dan internasional ramai memberitakan soal telah ditandatanganinya kesepakatan antara PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero), atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), dengan Dorna Sports, promotor dan pemegang hak komersial penyelenggaraan MotoGP.

Direktur Utama ITDC, Abdulbar M. Mansoer, menyatakan Dorna telah memberi hak penyelenggaraan MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Nusa Tenggara Barat, untuk durasi tiga tahun, mulai 2021. Kontrak tersebut, menurutnya, telah ditandatangani pada 21 Januari 2019 di markas besar Dorna di Madrid, Spanyol.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar dari Dorna. Akan tetapi, kepada detikcom, Abdulbar menyatakan keputusan tersebut akan resmi diumumkan Dorna pada hari ini, Jumat (22/2).

November tahun lalu, situs Autosport mengabarkan bahwa CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta, telah bertemu dengan perwakilan ITDC dan mengunjungi Mandalika pada Oktober 2018. Ketika itu Ezpeleta memang telah mengisyaratkan bakal berlangsungnya MotoGP pertama di sebuah street circuit.

Bos Dorna itu juga menyatakan hingga 2021 jumlah balapan takkan melebihi 20 Grand Prix--saat ini ada 19 GP. "Setelahnya, kita lihat nanti," ujarnya.

Sirkuit jalanan

Balapan di Mandalika, tutur Abdulbar dalam CNN Indonesia dan Republika.co.id, akan menjadi MotoGP pertama yang diselenggarakan di sebuah sirkuit jalan raya (street circuit).

"Bukan sirkuit tertutup yang akan kami bangun, tapi Street Race Circuit seperti di Singapura dan Monaco. Indonesia menjadi venue ke-21 (pada) rangkaian balap MotoGP dalam setahun, dan satu-satunya yang berkonsep Street Race Circuit. Sebelumnya, kami berkompetisi dengan calon penyelenggara dari Brasil," kata Abdulbar kepada CNN Indonesia.

Rencana pembangunan sirkuit jalan raya di Mandalika, satu dari 11 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia, telah diutarakan sejak awal 2017 dan perusahaan asal Prancis, Vinci Construction Grand Project (VCGP), dipilih sebagai konstruktornya.

Peta rencana pembangunan KEK Mandalika.
Peta rencana pembangunan KEK Mandalika. | ITDC

Nota kesepahaman (MoU) pembangunan sirkuit dan sarana pendukungnya telah ditandatangani pada 29 Maret 2017. Pada 9 Agustus 2018 diumumkan VCGP bakal berinvestasi sebesar 1 miliar dolar AS (Rp14,05 triliun) untuk proyek pada lahan seluas 131 hektare tersebut selama 15 tahun.

Direktur VCGP, Michel Oliveres, memaparkan bahwa maksimal 70 juta dolar dari nilai investasi tersebut akan digunakan untuk membangun sirkuit, sementara sisanya untuk pembangunan sarana pendukung seperti hotel dan taman hiburan.

Sebagai awal, untuk mengejar penyelenggaraan MotoGP pada 2021, selain sirkuit, akan dibangun 10 hotel dengan total 2.500 kamar. Semuanya dijadwalkan selesai pada awal 2021.

Direktur Konstruksi dan Operasi ITDC, Ngurah Wirawan, menyatakan, kontrak kerja sama pembangunan kawasan tersebut dengan VCGP baru diteken pada 29 Januari 2019. Pembangunan, lanjutnya, baru dimulai pada Oktober tahun ini.

Lebih jauh Ngurah menjelaskan, karena akan menjadi sirkuit jalan raya, ITDC tetap bertanggung jawab untuk membangun jalan umumnya lebih dulu. Pembangunannya akan dilakukan menggunakan investasi Rp2,5 triliun dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang cair tahun ini.

Setelah itu, baru VCGP bekerja untuk membangun kelengkapan sirkuit dan melapis jalanan agar sesuai dengan standar sirkuit internasional. Abdulbar memaparkan, sirkuit akan dibangun sepanjang 4,32 km dengan 18 tikungan. Desainnya, klaim Dirut ITDC itu, sudah disetujui oleh Dorna.

"Setelah sirkuit selesai dibangun, akan ada rangkaian trial run oleh Dorna atau event lain untuk uji coba sirkuit," jelas Abdulbar.

Jika balapan itu terwujud, Indonesia akan kembali menjadi tuan rumah kompetisi otomotif roda dua kelas atas setelah sempat menyelenggarakan GP 500--kelas tertinggi saat itu--pada 1996 dan 1997 di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Pengelola Sentul sebenarnya telah berupaya kembali menjadi tuan rumah sejak 2015, tetapi menemui jalan buntu. Selain itu, Palembang, Sumatra Selatan, juga tengah bersiap membangun sirkuit untuk bertarung menyelenggarakan MotoGP.

Kini Sentul dan Palembang sepertinya harus menunda impian mereka terlebih dulu. Namun ada peluang bagi sebuah negara untuk menjadi menyelenggarakan lebih dari satu GP dalam satu musim, seperti Spanyol, yang tahun ini menjadi tuan rumah empat GP di Jerez, Barcelona, Aragon, dan Valencia.

Apalagi, pada 2018, Indonesia (6,38 juta unit) masuk tiga besar pasar motor di dunia, hanya kalah dari India (21,9 juta unit) dan Tiongkok (15,57 juta unit).

Itulah sebabnya nyaris setiap tahun tim besar MotoGP, seperti Honda dan Yamaha, meluncurkan motor balap terbaru di sini dan membawa pebalap top mereka ke berbagai kota di Indonesia.

Dua tahun lagi, Marquez, pebalap Honda yang lima kali menjuarai MotoGP, baru berusia 28 tahun. Jika semua berjalan lancar, impian penggemar balap motor untuk menyaksikan langsung pebalap Spanyol itu berlaga di sirkuit Tanah Air bakal terwujud.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR