LIGA 2 INDONESIA

Mencuatnya dugaan pengaturan skor di Liga 2

Ilustrasi orang bermain sepak bola.
Ilustrasi orang bermain sepak bola. | Billion Photos /Shutterstock

Kabar negatif kembali menerpa sepak bola Indonesia. Datangnya dari lanjutan babak delapan besar Liga 2 Indonesia. Empat tim yang tergabung di Grup A diduga terlibat dalam pengaturan skor.

Semen Padang vs. Kalteng Putra dan Aceh United vs. PS Mojokerto Putra (PSMP) diduga menjadi aktornya. Sebelum laga berlangsung Senin (19/11/2018) pukul 16.00 WIB, Kalteng Putra memimpin grup dengan poin 10, diikuti PSMP (9), Semen Padang (7), dan Aceh (2).

Pada prosesnya, justru Semen Padang dan Kalteng Putra yang lolos ke babak semifinal, karena keduanya memiliki poin sama, 10. Hasil itu tak lepas dari kemenangan 3-1 Semen Padang atas Kalteng Putra, dan kekalahan 2-3 PSMP dari Aceh United.

Masalahnya bukan hasil akhir tersebut. Melainkan prosesnya. Sejatinya, kedua laga penentuan itu berlangsung pada waktu yang bersamaan. Kenyataannya, laga Aceh United vs. PSMP di Stadion Cot Gopu, Bireuen, Aceh, tertunda 10 menit.

Hasilnya, baik Aceh United maupun PSMP sudah mengetahui hasil akhir laga Semen Padang vs. Kalteng Putra. Dari sisi ini, jelas PSMP memiliki keuntungan. Karena mereka masih berpeluang lolos, maka hasil di pertandingan lainnya akan menjadi penting.

Setelah peluit akhir laga Semen Padang vs. Kalteng Putra berbunyi, maka PSMP hanya perlu bermain imbang melawan Aceh United. Sebagai catatan, saat itu PSMP tengah tertinggal 2-3.

Namun, pada menit 88, PSMP mampu meraih keuntungan. Sebab, wasit menunjuk titik putih. Dengan hanya butuh hasil imbang, tentu putusan wasit ini menguntungkan PSMP untuk lolos ke babak semifinal.

Alih-alih menceploskan si kulit bundar ke dalam jala, sang eksekutor, Krisna Adi Darma, justru menyia-nyiakan kesempatan. Sepakannya melebar sangat jauh dari mistar gawang. Di sinilah kemudian sejumlah pihak menilai ada main mata dalam laga tersebut.

Save Our Soccer (SOS), sebuah lembaga nirlaba spesialis sepak bola, merupakan salah satu pihak yang mencurigai kegagalan eksekusi tersebut merupakan kesengajaan. Hal itu diungkapkan oleh sang koordinator, Akmal Marhali.

Menurut Akmal, banyak kejadian di laga Aceh United vs. PSMP yang seperti dagelan. "PSSI lewat Komite Fair Play dan Kepatuhan serta Departemen Intelegent harus mengusut tuntas. Ini semua merusak citra kompetisi," ucap Akmal dalam keterangan tertulis yang diterima Beritagar.id.

Mengenai tudingan tersebut, pemain PSMP, Samsul Pelu, menyatakan bahwa hal itu tidaklah benar. Menurut Samsul, semua pemain PSMP ingin timnya masuk ke babak semifinal, tak terkecuali Krisna yang gagal mengeksekusi penalti.

"Pengaturan skor tidak (betul). Kita berpikir yang baik saja. Orang yang di luar mungkin tidak tahu bagaimana, (tapi) kita berpikir yang baik saja. Tidak usah ke sana ke mari bicara yang (tidak-tidak)," kata Samsul kepada CNNIndonesia.com.

Apapun pembelaan PSMP, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, sepertinya telah bersikap. Menurut Dwi Irianto, anggora Komisi Disiplin PSSI, pihaknya akan segera memanggil pemain yang bersangkutan.

"Saya sudah lihat tayangan videonya karena sudah viral. Yang jelas kami punya agenda mau memanggil pemain yang bersangkutan. Minggu ini banyak juga yang dipanggil, mungkin minggu depan," kata Dwi.

Sedangkan, menurut Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, lembaganya tak akan memberi ampun jika pengaturan skor benar-benar terjadi. Namun, ia meminta bahwa semua pihak yang mengetahui kejadian tersebut melaporkannya ke PSSI dengan membawa bukti.

"Jangan hanya mencaci-maki, tapi laporkan untuk sepak bola Indonesia yang baik. Jangan hanya katanya. Mana buktinya, silahkan lapor," ucap Tisha dalam Bolalob.com.

Juga terjadi di pertandingan lain

Dugaan terjadinya pengaturan skor bukan hanya menimpa Aceh United vs. PSMP. Pun demikian dengan Semen Padang vs. Kalteng Putra. Ada dua setidaknya, menurut Akmal, yang menjadi dasar dugaannya.

Pertama adalah penolakan tim Kalteng Putra terhadap pemilihan wasit yang diberikan oleh PT Liga Indonesia Baru. Mereka menolak pertandingan dipimpin oleh Syahrial Panggabean (Sumatra Utara), Asri (Riau), Rorim Situmerang (Sumatra Utara).

PSSI pun, segera mengganti ketiga wasit tersebut dengan Ahmad Tuharea (Sulawesi Selatan), didampingi Fajar Sigit Prasetiyo (Jawa Tengah) dan Arsyad Najamudin (Kalimantan Timur).

Meski pada pertandingan tersebut laga kembali dipimpin oleh trio Syahrial, Asri, Rorim, menurut Akmal, permintaan pergantian wasit sudah mengindikasikan ada yang tidak benar.

"Saya langsung menyatakan ini 'kode'. Dua tim akan lolos dengan 'kesepakatan'. Sangat naif ada gonjang-ganjing soal wasit di laga krusial," kata Akmal.

Sedangkan dasar kedua adalah diberikannya dua penalti kepada Semen Padang. Dua penalti itu diberikan saat skor kedua tim tengah imbang 1-1. "Ini penyakit bola kita yang harusnya tidak terus berulang."

Kata "berulang" tadi sepertinya bukan kiasan. Dalam waktu yang relatif berdekatan, di Liga 1 Indonesia, empat pemain Persib Bandung juga diduga mengatur pertandingan kala mereka berhadapan dengan PSIS Semarang.

Namun, Manajemen Persib sudah membantah soal hal ini. "Intinya adalah yang akhir-akhir ini berkembang (isu pengaturan skor Liga 1 Indonesia) sesungguhnya tidak benar," ujar Kuswara S Taryono, komisaris PT Persib Bandung Bermartabat, Rabu lalu (21/11) dalam Tribunnews.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR