BULU TANGKIS

Menegosiasi pensiun Liliyana Natsir

Liliyana Natsir bersimpuh merayakan kemenangannya pada ganda campuran di Blibli Indonesia Open 2018, Minggu (8/7/2018). Pasangannya, Tontowi Ahmad tampak bersujud.
Liliyana Natsir bersimpuh merayakan kemenangannya pada ganda campuran di Blibli Indonesia Open 2018, Minggu (8/7/2018). Pasangannya, Tontowi Ahmad tampak bersujud. | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Seharusnya, acara di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Rabu (11/7/2018) siang, merupakan ajang pemberian bonus dari Djarum Foundation terhadap atlet PB Djarum yang juara di Blibli Indonesia Open 2018.

Hari itu, ketiga pemain mereka, yakni Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, dan Kevin Sanjaya Sukamuljo, mendapatkan apresiasi dengan diguyur sejumlah uang. Masing-masing dari mereka mendapat Rp250 juta dari Djarum Foundation dan Blibli.com.

Pun dengan masing-masing pelatih, yakni Herry Iman Pierngadi dan Aryono Miranat untuk ganda putra, serta Richard Mainaky dan Vita Marissa di ganda campuran. Mereka juga kecipratan bonus dalam bentuk uang dan alat elektronik.

Namun, semua itu menjadi berubah sepanjang acara berlangsung. Dan, Liliyana--biasa dipanggil Butet--menjadi topik yang tiada henti dibahas. Hal ini terkait dengan rencana pensiunnya dari dunia bulu tangkis.

Liliyana memang sudah berulang kali mengutarakan rencana pengunduran dirinya dari dunia yang membesarkan namanya tersebut. Setidaknya, tak lama setelah ia menjuarai Olimpiade 2016 di Brasil, Liliyana sempat berucap ingin pensiun.

Alasannya simpel. Gadis asal Manado, Sulawesi Utara itu, merasa sudah tua dan ingin adanya regenerasi. Maklum, Butet kini sudah berumur 32 tahun.

Rencana itu kemudian berubah, dengan target menyelesaikan misinya membawa bendera Indonesia berkibar di ajang Asian Games 2018. Kondisi pun menjadi dilematis bila melihat capaian dia bersama Tontowi sejak 2016 hingga kini.

Untuk 2018 saja, dari lima turnamen yang mereka ikuti, duet Tontowi/Liliyana berhasil menjadi juara di Indonesia Open dan dua kali masuk final kejuaraan kategori individu. Pada 2017, mereka menjuarai dua kejuaraan, yakni French Open dan Kejuaraan Dunia.

Sekadar catatan saja, karena faktor usia, turnamen yang mereka ikuti dalam setahun terakhir sangat selektif. Hanya turnamen di kelas atas saja mereka ambil bagian. Seperti Indonesia Open, Asia Badminton Championships, All England, atau Indonesia Masters.

Singkatnya, meski usia sudah terbilang tua sebagai seorang atlet, tapi kemampuan Liliyana di atas lapangan belum pudar. Bukti paling sahih lainnya, sejak awal 2018, peringkat Tontowi/Liliyana tak pernah keluar dari tiga besar dunia.

"Salah satu target saya dan Owi juga memenangi Asian Games. Agar melengkapi capaian kami selama ini," ucap Liliyana, Rabu (11/7) lalu, mengenai alasan mengurungkan niatnya untuk pensiun pasca-meraih emas Olimpiade 2016.

Dengan capaian tersebut, wajar jika sejumlah pihak meminta Liliyana untuk memikirkan ulang rencana pensiunnya. Salah satunya diungkapkan Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Yoppy berulang kali mengungkapkan permintaan tersebut pada Rabu siang kemarin. Dalam hitungan Beritagar.id, selama acara yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut, Yoppy sembilan kali menggoda Liliyana untuk mengurungkan niat pensiun tahun ini.

Salah satu caranya, dengan membesarkan hati Liliyana bahwa semakin bertambah usia, cederanya makin cepat sembuh. Maklum, pada Indonesia Open 2017, lutut Liliyana masih dibalut semacam alat penahan otot.

"Sekarang, sudah tidak. Artinya, cedera bukan alasan," ucap Yoppy sembari bercanda. Dalam "merayu" Liliyana itu, ucapan Yoppy memang dibalut dengan canda.

Lain waktu, Yoppy berusaha membujuk ibu Liliyana, Olly Maramis, yang hari itu datang ke acara pemberian hadiah. Bila sang anak mengurungkan niat pensiun dan berhasil masuk final Olimpiade 2020 di Tokyo, sang ibu akan diajak ke Ibu Kota Jepang itu untuk menyaksikan langsung laga tersebut.

Lagi-lagi, ajakan itu disambut tawa oleh sebagian besar orang yang hadir di acara tersebut.

Lantas, apakah ajakan-ajakan Yoppy itu hanya bersifat kelakar saja? Dia tak menjawab pasti. Namun, bila di Asian Games nanti Liliyana dan Tontowi mampu meraih emas, ia dan pihak PB Djarum akan berusaha lebih merayu.

Andai pun tak berhasil merayu, menurut Yoppy, pihaknya memiliki sejumlah opsi untuk Liliyana. "Katanya, dia (Liliyana) gak cocok jadi pelatih. Kalau demikian, kan bisa menjadi penasihat kami atau menjadi lawan tanding di klub (PB Djarum)," kata Yoppy.

Sebenarnya, bukan hanya Yoppy saja yang akan berusaha menahan keinginan pensiun Liliyana. Demikian juga asisten pelatih ganda campuran PBSI, Vita Marissa.

"Nanti, bukan hanya Pak Yoppy saja yang merayu, akan saya coba juga," kata Vita, diiringi tawa orang-orang yang hadir.

Bila usahanya itu tak berhasil, menurut Vita, sektor ganda campuran Indonesia tidak ada masalah. "Tidak ada risiko bila Liliyana benar-benar mundur. Kita tidak mungkin tak ada gelar lagi dari ganda campuran. Harapannya, transisi itu akan berlangsung mepet," ucap Vita kepada Beritagar.id.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR