Mengapa Juventus gagal lagi merajai Eropa

Seorang suporter menatap sedih kegagalan Juventus pada final Liga Champions di Cardiff, Wales, Sabtu (3/6/2017).
Seorang suporter menatap sedih kegagalan Juventus pada final Liga Champions di Cardiff, Wales, Sabtu (3/6/2017). | Alessandro Di Marco /ANSA via AP Photo

Bila mencari klub paling sukses di Italia, Juventus adalah jawabannya. Mereka punya 33 trofi juara Serie A, bahkan enam gelar belakangan direbut secara beruntun alias menjadi rekor baru.

Namun bila bicara soal panggung Eropa, terutama Liga Champions, pencapaian Juve justru berbeda. Juve baru dua kali juara (1985 dan 1996), kalah dari pencapaian AC Milan (5 kali juara) sekaligus tim kedua dengan gelar Liga Champions terbanyak setelah Real Madrid.

Pada final terbaru, Sabtu lalu (3/6/2017), Juve kembali gagal. Madrid menundukkan mereka 4-1 sehingga klub Spanyol itu mencatat rekor 12 kali juara dan menjadi klub pertama yang berhasil mempertahankan gelar pada kompetisi ini.

Bagi Juve, ini adalah kegagalan ketujuh pada final Liga Champions. Tak ada klub lain dengan jumlah kegagalan terbanyak dibanding "Si Nyonya Tua". Bahkan kekalahan pada partai puncak belakangan terjadi dalam durasi pendek; 2015 dan 2017.

Boleh jadi ini bakal sulit dicerna. Bagaimana mungkin klub paling sukses di domestik Italia tak berdaya di Eropa.

Apalagi Juve menghadiri laga final di Stadion Nasional Wales di Cardiff itu dengan modal cukup positif. Juve hanya kebobolan tiga gol dan belum terkalahkan dalam 12 laga di Eropa.

Itu pula yang mendasari alasan 38 dari 50 orang wartawan di dunia untuk mengunggulkan Juve untuk juara. Meski Madrid adalah tim tertajam 32 gol, mereka percaya diri Juve mampu menahan.

Kalah di lapangan

Namun yang terjadi di lapangan justru berbeda. Juve hanya mampu memberi perlawanan sepadan pada babak pertama walau Madrid terlihat lebih berbahaya, terutama dengan serangan baliknya.

Kendati Cristiano Ronaldo membawa Madrid memimpin lebih dulu, Juve masih percaya diri karena Mario Mandzukic menyamakan kedudukan lewat gol dengan tendangan akrobatik.

Pelatih Madrid Zinedine Zidane justru kelihatan punya strategi cadangan lebih kuat dibanding Massimiliano Allegri di sisi Juve. Misalnya tiga pemain depan Juve tak lagi bisa membuat ancaman karena selalu dikurung oleh para pemain belakang Madrid pada babak kedua.

Tentu saja Zidane bisa mengeluarkan antidot jitu. Orang Prancis ini mengenal sepak bola Italia dengan fasih karena pernah lima tahun memperkuat Juve (1996-2001). Forbes menulis Zidane punya "sentuhan Midas."

Contoh lain, Zidane meningkatkan akselerasi para pemainnya pada 25 menit terakhir. Titik awalnya adalah pada menit 60 yang kemudian melahirkan dua gol susulan Madrid untuk keunggulan 3-1 melalui Casemiro (menit 61) dan Ronaldo (64).

Kontras di sisi Juve. Keputusan Allegri memainkan Juan Cuadrado mulai menit 66 justru tak berdaya guna, terlepas dari keputusan kontroversial wasit.

Pemain dari Kolombia ini menuai dua kartu kuning sehingga Juve bermain dengan 10 pemain mulai menit 84 dan Madrid bisa meraih gol tambahan melalui Marco Asensio pada menit pamungkas.

Beban mental

Allegri menilai timnya kalah karena tidak punya ketahanan psikologis. Pelatih 49 tahun ini merujuk pada mental para pemainnya setelah kemasukan gol kedua.

Para pemain Juve disebut terpukul akibat gol Casemiro dan membuat pertahanan Juve yang biasanya kokoh menjadi berantakan. Ditambah lagi Madrid tak berhenti menekan.

"Seharusnya kami beraksi (positif) tanpa jika, tetapi, dan seharusnya. Kami semestinya tetap bertahan dengan kokoh, tapi ini adalah langkah untuk belajar dari kegagalan dan tumbuh menjadi matang," tukas Allegri kepada Mediaset Premium (h/t ESPN FC).

Kapten Juventus Gianluigi Buffon (kiri) termenung setelah kalah 1-4 dari Real Madrid dalam laga final Liga Champions di Cardiff, Wales, Sabtu (3/6/2017).
Kapten Juventus Gianluigi Buffon (kiri) termenung setelah kalah 1-4 dari Real Madrid dalam laga final Liga Champions di Cardiff, Wales, Sabtu (3/6/2017). | Kirsty Wigglesworth /AP Photo

Kelihatan bahwa para pemain Juve menyandang beban mental. Kegagalan berulang pada final Liga Champions menjadi batu sandungan cukup besar.

Sedikit banyak pengalaman Andik Vermansyah, gelandang nasional Indonesia, bisa jadi acuan. Indonesia berulang kali gagal pada final Piala AFF (lima kali). "Ada perasaan minder (ketika masuk final lagi)," katanya pada Desember 2016.

Tidak heran Allegri pun menilai Juve harus belajar dan meningkatkan segalanya agar bisa kembali masuk final pada musim depan. Kapten Gianluigi Buffon dalam laman The Daily Mail mengatakan apa yang dibutuhkan untuk menjuarai partai final Liga Champions.

"Madrid menunjukkan kelas dan sikap yang dibutuhkan untuk melakoni pertandingan seperti ini," kata pemain 39 tahun dari Italia ini.

Sementara bek sayap Daniel Alves menunjukkan bagaimana Juve gagal menandingi Madrid. "...Jika kami gagal menjaga konsentrasi dan intensitas permainan, Madrid langsung melukai Anda dengan segala bakat yang ada," kata pemain dari Brasil ini (h/t Tribal Football).

Atau bila berkaca pada Madrid, mereka justru hanya bermodal ingin menang tanpa ada filosofi atau sistem apapun. New York Times menunjukkan bagaimana klub dari ibukota Spanyol itu meraih kesuksesannya.

"Mereka mengejar kemenangan bukan untuk sebuah kepercayaan atau sistem. Hanya ada kemenangan untuk Real Madrid dan hanya itu kepedulian mereka," tulis media tersebut.

Madrid melakukannya hanya berdasarkan kekayaaan, kekuatan, dan sejarahnya. Ini yang tak dimiliki Juve; Madrid masuk final 15 kali tapi hanya gagal tiga kali.

12 kali juara membuat kepercayaan diri dan mental Madrid makin kuat. Ini berlaku ketika Juve melakoni Serie A, tapi tidak demikian di Eropa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR