Mengapa Manor memilih Rio

Mobil F1 Manor Marussia yang dikendarai Roberto Merhi di Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, Uni Emirates Arab, 27 November 2015
Mobil F1 Manor Marussia yang dikendarai Roberto Merhi di Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, Uni Emirates Arab, 27 November 2015 | Ali Haider /EPA

Keberhasilan Rio Haryanto (23) bergabung dengan Manor Racing F1 untuk musim balap 2016 membuat dua pebalap pesaing, Will Stevens dari Inggris dan Alexander Rossi dari Amerika Serikat, tersingkir. Pernyataan resmi Manor, Kamis (18/2/2016), mengungkap dua faktor kunci.

"Rio sosok yang gigih di luar dan dalam trek serta memberi kesan bagus dalam pertarungan di GP2 tahun lalu," ujar pemilik Manor Stephen Fitzpatrick dikutip The Guardian.

Perekrutan Rio oleh Manor memang tak lepas dari perubahan besar di tubuh manajemen tim asal Inggris tersebut. Bermula dengan nama Virgins Racing (2010), kemudian Marussia F1, lalu Manor Marussia, tim ini memastikan nama baru Manor Racing F1 mulai 2016.

Perubahan nama membuat para pimpinan pun berganti. Dave Ryan direkrut dari McLaren dan duduk di kursi racing director sekaligus pimpinan tim. Pat Fry, legenda rancang bangun F1 yang telah berkarir selama 30 tahun, juga bergabung meski saat ini sebatas hanya konsultan teknis.

Fry masuk ke Manor setelah meninggalkan Ferrari. Pria berusia 51 ini juga rekan setim Ryan saat di McLaren. Dari Ferrari juga menyeberang Nicholas Tombazis yang akan menangani desain mobil MRT05 Manor pada 2016.

Pemimpin Mercedes GP, Toto Wolf, menilai tiga sosok di atas adalah orang berkualitas. Itu sebabnya, Toto yakin Manor akan melesat ke papan tengah kendati masih berstatus tim paling kecil di F1.

Wajah baru juga terdapat pada sisi teknis. Antara lain mesin Ferrari diganti mesin pasokan Mercedes, sementara organ suspensi dan gearbox didukung Williams. Itu sebabnya dua pebalap mereka baru.

Manor mengatakan, dua pebalap itu "melengkapi barisan muda dan lapar Manor pada 2016." Selain itu, Manor tak asing pada Rio.

Pebalap kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, ini pernah membela Virgins Racing pada 2010 (GP3) dan Marussia pada 2012 (GP2). Di GP2, balapan level setingkat di bawah F1, Rio menghabiskan waktu empat tahun.

Tiga tim lain yang dibelanya secara beruntun adalah Barwa Addax, EQ8 Caterham, dan pada 2015 bersama Campos Racing yang membuahkan tiga gelar juara seri (Bahrain, Austria, dan Inggris).

Khusus di F1, Rio sudah mencoba mobil ini tiga kali. Yang terakhir adalah pada 1 Desember 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk menguji ban Pirelli untuk kebutuhan musim balap 2016.

Rio Haryanto mencium bendera merah putih pada jumpa pers di Gedung Pertamax, kantor pusat Pertamina, Kamis (18/2/2016)
Rio Haryanto mencium bendera merah putih pada jumpa pers di Gedung Pertamax, kantor pusat Pertamina, Kamis (18/2/2016) | Mast Irham /EPA
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR