Menjadi tuan rumah Piala Dunia lebih banyak buntungnya

Foto ilustrasi. Warga berjalan melewati maskot PIala Dunia 2018 di Zabivaka, Rostov-on-Don, Rusia, Rabu (30/5/2018).
Foto ilustrasi. Warga berjalan melewati maskot PIala Dunia 2018 di Zabivaka, Rostov-on-Don, Rusia, Rabu (30/5/2018). | Sergey Pivovarov /Antara Foto/Reuters

Perhelatan Piala Dunia bak gula, baik menjadi peserta maupun tuan rumah. Setiap FIFA menggelar proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia, setidaknya belasan negara mengirim proposal.

Tentu saja, yang terpilih kemudian adalah dari kalangan negara mapan. FIFA sebenarnya sempat berusaha menggelar Piala Dunia di negara yang kurang mapan, misalnya di Afrika Selatan pada 2010. Alasannya, demi pemerataan fasilitas dan infrastruktur sepak bola kelas atas.

Namun, menggelar Piala Dunia di sana ternyata tak cukup sesuai dengan ekspektasi FIFA. Persoalan menjelang putaran final tidaklah mudah, termasuk saat Piala Dunia 2014 digelar di Brasil. Misalnya soal pembangunan infrastruktur dan politik.

FIFA juga sempat menunjuk Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Ini adalah kesempatan pertama dan satu-satunya karena FIFA menyesali keputusan untuk menggelar Piala Dunia lagi di dua negara berbeda. Perbedaan karakter kedua negara dan kesulitan koordinasi menjadi salah satu hambatan.

Namun sudut pandang FIFA itu tak lagi ideal bagi sejumlah negara. Menggelar perhelatan macam Piala Dunia membutuhkan dana yang tak sedikit, misalnya di Rusia mencapai AS $12 miliar (Rp167 triliun).

Tidak heran sejumlah negara bertetangga kembali mengusung wacana tuan rumah bersama. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berniat menggelar Piala Dunia 2026, lalu Indonesia dan Thailand pun mengincar edisi 2034.

Profesor Simon Chadwick dari Salford Business School, Manchester, Inggris, mengatakan sudah selayaknya turnamen besar macam Piala Dunia digelar secara keroyokan. Penyebabnya ya itu tadi, biaya yang terlampau besar.

"Efisiensi biaya tentu menjadi keuntungan tersendiri. Menggelar turnamen besar seperti Piala Dunia, Piala Eropa, dan Olimpiade selalu menghadirkan persoalan finansial," tutur Chadwick dalam BBC, Jumat (1/6/2018).

Lembaga akuntan publik Pricewaterhouse Coopers (PWC) dalam studi World Cup Index (Juni 2014) pun menyebutkan bahwa mengeluarkan uang banyak untuk menggelar Piala Dunia memang tak dijamin bisa sukses pula. Lebih banyak berakhir buntung, ketimbang untung.

"Bahkan terlihat, negara kaya pun tak lebih baik dari negara yang lebih miskin," tulis PWC dalam kajian ilmiahnya (berkas PDF).

Juara Piala Dunia hanya milik negara Amerika Selatan dan Eropa.
Juara Piala Dunia hanya milik negara Amerika Selatan dan Eropa. | Lokadata /Beritagar.id

Menjadi tuan rumah Piala Dunia memang sebuah prestise. Ada jaminan jutaan orang turis yang akan datang. Belum lagi sorotan besar dunia terhadap negara tersebut.

Namun selain dana yang perlu dipersiapkan sangat besar, proses menuju pemilihan tuan rumah Piala Dunia pada masa lalu juga dicurigai "penuh konspirasi". Apalagi dengan skandal korupsi yang kemudian turut menurunkan Sepp Blatter dari kursi Ketua FIFA dan Michel Platini dari kursi Ketua UEFA.

Praktik masa lalu FIFA yang tidak transparan ini berakhir pada penunjukkan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan Qatar pada 2022. Rusia relatif sepi dari skandal, tapi tidak demikian dengan Qatar yang masih diliputi isu pelanggaran hak asasi manusia.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia juga tak menjamin kehadiran prestasi. Brasil adalah contoh nyata. Menjadi tuan rumah edisi 2014, Brasil justru dipermalukan Jerman dengan kekalahan telak 1-7 di depan publik sendiri.

Jadi, menjabat tuan rumah tidak menjamin bisa juara. Bahkan sudah 20 kali edisi Piala Dunia, baru enam negara yang sukses menjadi tuan rumah dan juara.

Menurut data Piala Dunia sejak 1930 hingga 2014 yang dipelajari Lokadata Beritagar.id, enam negara itu adalah; Uruguay, Italia, Inggris, Jerman (Barat), Argentina, dan Prancis. Sementara Meksiko adalah contoh buruk karena meski dua kali menjadi tuan rumah (1970 dan 1986), tak sekalipun masuk empat besar atau semifinal.

Selain Meksiko, negara yang dua kali menjadi tuan rumah adalah Brasil, Italia, Jerman, dan Prancis. Selain Brasil yang tak pernah juara di dalam negaranya, sisanya berhasil menjadi juara (Italia, Jerman, dan Prancis).

Daftar tuan rumah Piala Dunia 1930-2014 dan prestasinya.
Daftar tuan rumah Piala Dunia 1930-2014 dan prestasinya. | Lokadata /Beritagar.id

Seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa kegagalan tuan rumah meraih prestasi puncak bisa dibayar oleh penyelenggara dengan memberi penghargaan lain. Tentu saja, ini juga bukan murni sekadar "balas budi", tapi juga karena penampilan si pemain cukup pantas diganjar dengan penghargaan.

Itu pun tak semua tuan rumah Piala Dunia mendapatkannya. Padahal FIFA memiliki tujuh penghargaan individu pada setiap Piala Dunia.

Sepatu Emas atau penghargaan untuk top scorer, misalnya; hanya pernah diperoleh Brasil, Cile, Argentina, Italia, dan Jerman. Bahkan penghargaan pemain muda terbaik hanya diraih satu pemain tuan rumah, yakni Jerman.

Demikian pula penghargaan tim fair play yang juga tiga kali diraih tuan rumah. Begitu pun Bola Emas, hanya Italia yang pernah meraihnya saat menjadi tuan rumah.

Prancis paling sering meraih penghargaan individu. Selain fair play, Prancis juga pernah meraih penghargaan tim berpenampilan menarik dan kiper terbaik (Fabien Barthez).

Rekapitulasi pengharaan untuk tuan rumah.
Rekapitulasi pengharaan untuk tuan rumah. | Lokadata /Beritagar.id

Melihat situasi ini, tidak heran The Economist menyarankan negara-negara peserta Piala Dunia--terutama kalangan negara yang sepak bolanya cukup mapan--lebih fokus untuk menjuarai turnamen bergengsi itu ketimbang menjadi tuan rumah.

Faktor yang bisa mendorong sebuah negara menjadi juara, menurut The Economist, adalah iklim sepak bola, metode pembinaan pemain, dan jumlah pelatih lokal (yang berkualitas). Sementara menurut PWC, jumlah total pemain dan minat sebuah negara terhadap sepak bola akan memengaruhi kansnya menjadi juara Piala Dunia.

Malangnya, tradisi masih menjadi faktor kunci. Namun, PWC juga menemukan fakta bahwa penampilan bagus (recent forms) secara berkala bisa menjadi katalisator menuju prestasi Piala Dunia.

"Kami menyelisik peringkat FIFA dan pencapaian para peserta Piala Dunia 2010. Ada kaitan erat antardua faktor itu. Tim-tim dari 50 besar FIFA berpeluang melangkah maju satu fase dalam ajang putaran final Piala Dunia," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR