BULU TANGKIS

Merajut cita-cita lewat bulu tangkis

Para peraih Super Tiket Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 yang mengikuti audisi lokal di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (6/9/2018).
Para peraih Super Tiket Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018 yang mengikuti audisi lokal di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (6/9/2018). | PB Djarum

Bulu tangkis sepertinya sudah menjadi jalan hidup Fardhan Zaky Wibisono. Sudah sejak TK B, ia mulai mengayunkan raketnya. Seiring berjalannya waktu bocah asal Surabaya, Jawa Timur, itu makin mahir.

"Ia sudah ditawari beasiswa di salah satu klub di Surabaya bernama Sakura," ucap sang ayah, Arif Wibisono kepada Beritagar.id, Kamis (6/9/2018) siang di Kudus, Jawa Tengah.

Namun, sepertinya, tawaran itu belum mau ia terima. Sebab, sejak tahun lalu, Bocah berusia 11 tahun tersebut tengah mengikuti Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2018.

Hari itu, ia bersama puluhan atlet cilik lainnya, sedang berburu Super Tiket agar bisa menimba ilmu di salah satu klub bulu tangkis terbesar di Indonesia, Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum.

"Ini sudah kedua kalinya. Tahun lalu, di babak karantina dia gagal karena cedera," ucap Arif. Menurut bapak dari tiga orang anak itu, Fardhan mengidolai pebulu tangkis Lee Chong Wei (Malaysia) dan Lin Dan (Tiongkok) sejak lama.

Para atlet itulah yang menjadi alasan bagi Fardhan untuk menekuni olahraga tepok bulu tersebut. Dan, untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pebulu tangkis kelas dunia, Fardhan rela ke sana-ke mari untuk mendapat Super Tiket.

"Tahun lalu, dia ikut audisi di Surabaya dan Kudus, tapi dapatnya di Kudus. Tahun ini, dia sempat ikut di kota Balikpapan, Surabaya, dan Kudus. Tapi kudus sepertinya menjadi hoki Fardhan," ucap Arif sembari tertawa.

Arif sebenarnya merasa kasihan melihat anaknya yang masih bocah harus mondar-mandir untuk mencapai cita-citanya. Namun, ia mengaku rela demi memenuhi cita-cita sang anak. "Dia memang memilih untuk menjadi seorang pebulu tangkis," kata Arif sembari tertawa.

Perasaan kasihan bukan hanya dialami Arif. Demikian pula dengan Siti Mahmudah. Ibu dari Amalia Latifa ini meneteskan air matanya saat sang buah hati mendapatkan Tiket Super.

Ini bukan kali pertama Amalia ikut Audisi Umum. Tahun lalu, dia juga ikut kontes serupa, tapi gagal. "Tahun lalu, ayahnya yang mendampingi, tahun ini giliran saya," ucap Siti dengan genangan air terlihat di matanya.

Amalia, yang sudah sejak kecil menyukai bulu tangkis berharap kelak akan seperti pebulu tangkis dari Thailand, Ratchanok Intanon. "Saya ingin seperti Intanon," katanya.

Fardhan dan Amalia hanya dua dari ribuan anak yang berusaha meraih mimpinya menjadi pebulu tangkis dunia via jalur PB Djarum. Nama terakhir ini memang seolah menjadi magnet bagi para atlet cilik.

Saban tahun, para peserta Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis meningkat. Sebagai contoh, pada 2017, pesertanya mencapai 4.058. Kini, peserta yang mendaftar mencapai 5.957 bibit pebulu tangkis. Mereka dibagi pada enam kelas, U15, U13, dan U11 putra-putri.

Jumlah tersebut adalah angka total peserta pencarian bakat yang dilaksanakan sejak Maret di delapan kota di Indonesia.

Kota-kota itu adalah, Pekanbaru, Riau (Maret); Balikpapan, Kalimantan Timur (April); Manado, Sulawesi Utara (Mei); Purwekerto, Jawa Tengah, dan Surabaya, Jawa Timur (Juli); Cirebon, Jawa Barat, dan Solo Raya (Agustus); terakhir Kudus (September).

Meningkatnya animo peserta Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis membuat bangga Djarum Foundation. Menurut Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation, Budi Darmawan, pada tahun ini, peningkatan jumlah peserta terjadi di semua kota audisi.

Bahkan, peserta audisi di Kudus saja mencapai 1.073 atlet muda. "Hingga rangkaian akhir Audisi Umum tahun ini, Kudus mencatat rekor jumlah peserta terbanyak. Tren positif tersebut juga terjadi di kota-kota lain tahun ini," jelas Budi.

Bukan hanya Budi yang senang. Demikian juga dengan Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin.

Menurut Yoppy, hal ini menunjukkan bahwa usaha PB Djarum untuk menggairahkan bulu tangkis di Indonesia berhasil. "Ini menunjukkan bahwa niat kami menggerakkan para orang tua dan atlet muda untuk berlatih bulu tangkis berhasil," ucapanya.

Memperebutkan tiket karantina

Kini, dari 5.957 bibit tersebut, telah terjaring 221 atlet yang bakal memperebutkan tiket tahap karantina. Dalam tahapan ini, para atlet muda ini akan berpisah dengan orang tuanya dan menjalani keseharian di asrama PB Djarum.

Setelah lolos Tahap Karantina, mereka yang lolos dinyatakan bergabung bersama PB Djarum akan segera memasuki asrama. Selain mendapat pelatihan dari PB Djarum, mereka juga akan mendapat fasilitas terbaik dalam program beasiswa bulu tangkis ini.

Termasuk di dalamnya adalah kesempatan bertanding di turnamen nasional dan internasional maupun pendidikan yang terjamin. Hal ini lah yang menjadi dasar dari Arif tadi ingin Fardhan masuk ke PB Djarum.

"Di sini terjamin untuk pendidikan dan pelatihannya. Semoga saja Fardhan kali ini bisa lolos dari tahap karantina," ucap Arif.

Memang, PB Djarum seperti menjadi kawah candradimuka para pebulu tangkis muda. Contohnya adalah, Devira Angelica Vascoal, jebolan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2017.

Setelah berlatih intensif di PB Djarum selama setahun terakhir, Devira mampu menjuarai dua turnamen Sirkuit Nasional kategori umur, yakni di Yogyakarta dan Bali. "Kalau yang di Bandung peringkat dua," kata Devira.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR