FORMULA 1

Mercedes kian jauh tinggalkan Ferrari

 Pebalap Lewis Hamilton (kanan) dan Valtteri Bottas (kiri) mengangkat Direktur Mercedes-Benz AMG Dieter Zetsche di atas podium setelah keduanya memenangi Grand Prix F1 Spanyol di Sirkuit Montmelo, Barcelona, Minggu (12/5/2019)
Pebalap Lewis Hamilton (kanan) dan Valtteri Bottas (kiri) mengangkat Direktur Mercedes-Benz AMG Dieter Zetsche di atas podium setelah keduanya memenangi Grand Prix F1 Spanyol di Sirkuit Montmelo, Barcelona, Minggu (12/5/2019) | Enric Foncuberta /EPA-EFE

Lima balapan musim Formula 1 (F1) 2019 sudah berlalu, sejauh itu pula tim Mercedes AMG selalu finis di posisi dua besar. Akibatnya, Mercedes kian jauh meninggalkan Ferrari dalam persaingan klasemen konstruktor.

Kini Mercedes memimpin klasemen dengan nilai 217, sementara Ferrari baru mengumpulkan poin 121. Namun, musim masih jauh dari usai karena masih ada 16 balapan lagi.

Meski begitu, kinerja Ferrari tidak sebaik Mercedes jika menilik pada lima balapan yang sudah berlangsung. Pada Minggu (12/5/2019), Sebastian Vettel sebagai pebalap utama Ferrari tak mampu naik podium karena hanya finis di posisi keempat dalam Grand Prix (GP) Spanyol di Sirkuit Montmelo, Barcelona.

Vettel kalah sekitar 2 detik dari pebalap Red Bull Max Verstappen yang finis di urutan ketiga. Adapun gelar juara direbut kampiun dunia Lewis Hamilton dan posisi kedua oleh Valtteri Bottas.

Mercedes tentu patut bangga karena Hamilton dan Bottas bergantian menempati posisi 1-2. Untuk sementara ini, Hamilton sudah juara tiga kali --masing-masing di Bahrain, Tiongkok, dan Spanyol. Sedangkan Bottas berjaya di Australia dan Azerbaijan.

Bagi Hamilton, ini adalah gelar juara yang ketiga secara beruntun di GP Spanyol. Pebalap asal Inggris hanya kalah sekali dari rekor legenda Michael Schumacher yang merajai GP Spanyol empat kali pada kurun 2000-2004.

"Ini semua berkat tim yang luar biasa. Ini sejarah, kami berhasil finis 1-2 lima kali beruntun. Jadi, saya senang untuk semua orang di dalam tim," ujar peraih lima kali juara dunia itu dilansir CNN.com.

Menurut catatan laman resmi F1, Mercedes sebenarnya sudah pernah menempatkan dua pebalapnya di posisi 1-2 lima kali beruntun seperti pada 2014, 2015, dan 2016, tapi baru kali ini dilakukan pada awal musim.

Adapun keberhasilan Hamilton dalam mencatat hat-trick di Barcelona juga menunjukkan keterampilannya dalam mengendalikan jet daratnya. Maklum, pebalap 34 tahun ini mengaku mobilnya tak selalu prima.

"Ini mobil yang hebat, tapi kami tak selalu akur. Meski begitu saya senang karena ternyata perbedaan itu bisa teratasi dalam balapan," paparnya.

Demikian pula Bottas. Pebalap asal Finlandia ini sebenarnya start dari posisi terdepan, tapi merasakan ada yang aneh pada kopling mobilnya sehingga Hamilton bisa merebut posisi terdepan pada tikungan pertama.

"Ada yang aneh dengan kopling mobil. Saya belum pernah merasakannya. Itu yang bikin saya kalah (dari Hamilton)," tukasnya.

Meski kendaraan tidak 100 persen prima atau sesuai dengan keinginan dua pebalap, Mercedes tetap mobil yang andal dan sulit ditandingi. "Mercedes terlampau cepat," tukas Verstappen.

Seolah menyimpan kekuatan

Satu dari sekian keandalan Mercedes adalah bagaimana mereka menyimpan kekuatan atau membenahi masalah. Ini bisa dilihat dari perbedaan performa mereka saat latihan bebas atau latihan pramusim di Barcelona.

Dalam dua pramusim terakhir di Barcelona, mobil Ferrari selalu tercepat. Namun pada akhirnya, Ferrari justru tak pernah naik podium GP Spanyol sejak 2017.

Dan secara keseluruhan musim ini, performa Ferrari dalam setiap balapan tak pernah menjanjikan. Dalam lima balapan awal, Vettel hanya dua kali naik podium --masing-masing finis di posisi tiga GP Tiongkok dan Azerbaijan.

Akibatnya, Vettel kini tercecer di posisi empat klasemen sementara dan tertinggal 48 angka dari Hamilton di posisi teratas. Sedangkan Charles Leclerc berada di posisi kelima dengan nilai 57.

"Dominasi Mercedes selangkah di atas tim lain," ujar bekas pebalap F1, Paul Di Resta, dalam Fox Sports.

Menurut mantan pebalap F1 lain, Martin Brundle, Ferrari tertinggal dari Mercedes karena kombinasi sebab. Manajemen, pengambilan keputusan, dan masalah teknis mobil adalah beberapa di antaranya.

"Ferrari harus menemukan tenaga (power), daya tekan (downforce), strategi dan bekerja layaknya tim terbaik di dunia," ujar Brundle.

Kekacauan Ferrari, terutama strategi balapan, terlihat nyata dalam GP Spanyol kemarin. Di Resta yang mendengarkan komunikasi radio tim Ferrari dari Ruang Kendali F1 (Race Control) menggambarkan dua tim teknisi yang bingung.

"Teknisi Sebastian dengan sadar menggunakan strategi berbeda, tapi teknisi Leclerc berpikir strategi mereka sama. Mercedes sebenarnya mengalami hal senada, tapi mereka ahli membenahinya saat ini. Mercedes ada pada level berbeda," katanya.

Sementara strategi pemilihan ban keras pada pit stop pertama yang dinilai salah oleh para pengamat, Leclerc menilai sudah tepat tapi akan menganalisisnya bersama tim.

"Saya pikir itu tidak salah karena kami ingin menggunakan ban itu hingga balapan selesai, tapi ternyata tidak berhasil. Kami harus memeriksa dan menganalisisnya," kata pebalap asal Monaco ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR