Milla puas meski timnas Indonesia gagal juara

Penyerang timnas Indonesia, Ilija Spasojevic (tengah), mengejar bola saat kalah 0-1 dari Kyrgyzstan pada Aceh World Solidarity Tsunami Cup di Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/12/2017).
Penyerang timnas Indonesia, Ilija Spasojevic (tengah), mengejar bola saat kalah 0-1 dari Kyrgyzstan pada Aceh World Solidarity Tsunami Cup di Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/12/2017).
© Irwansyah Putra /Antara Foto

Tim nasional (timnas) Indonesia masih kesulitan untuk juara, bahkan sekelas turnamen nonresmi. Terbaru, Rabu (6/12/2017), Indonesia gagal menjuarai Aceh World Solidarity Tsunami Cup di Banda Aceh, Aceh, setelah menyerah 0-1 pada Kyrgyzstan.

Gol tunggal Kyrgyzstan di Stadion Harapan Bangsa itu diciptakan pemain belakang Saliev Askarbek pada menit 20 sehingga melahirkan gelar juara. Kekalahan dari Kyrgyzstan merupakan satu-satunya yang diderita Indonesia setelah menang atas Brunei Darussalam dan Mongolia.

Kekalahan Indonesia sebenarnya sedikit banyak bisa diduga. Kelas permainan Indonesia ada di atas tim semacam Brunei dan Mongolia, tapi Evan Dimas dkk tak cukup kuat untuk bersaing dengan tim seperti Kyrgyzstan ini --indikasinya ya soal hasil tadi.

Meski demikian, penampilan Indonesia di turnamen untuk korban bencana tsunami di Aceh pada 2004 ini sulit untuk dinilai karena lapangan permainan pun sangat buruk. Bahkan permainan bola pendek Indonesia relatif tak lancar dalam tiga laga.

Namun pelatih Luis Milla Aspas memuji permainan bola pendek Indonesia. Para pemain dinilai tak mudah menyerah kendati bola pendek mereka sering mandek akibat lapangan yang becek seperti ketika mengalahkan Mongolia 3-2.

"Saya tentu senang dengan kerja keras, perkembangan, dan sikap para pemain di lapangan," kata pelatih asal Spanyol ini (h/t Jawa Pos).

Secara umum Milla pun puas penampilan anak-anak asuhnya yang dipersiapkan tampil di Asian Games 2018 ini. Pertama, ini hanya turnamen tidak resmi dan menjadi bahan eksperimennya sehingga soal hasil bukan yang utama.

Kedua, Milla mendapatkan bahan evaluasi yang cukup. Seperti dilansir laman PSSI, pelatih 51 tahun ini mendapat gambaran besar kekuatan dan kelemahan timnya.

Milla menekankan sejumlah poin yang harus dibenahi menuju Asian Games 2018. Antara lain, pemain belum bisa mengambil keputusan dan solusi dengan cepat ketika tertekan seperti saat dikalahkan Kyrgyzstan.

Lantas, para pemain Indonesia harus mencari cara bagaimana menghadapi lawan yang berpostur tinggi seperti Kyrgyzstan. Kebetulan calon lawan di Asian Games 2018 berpostur relatif serupa


 Timnas Kyrgyzstan merayakan gelar juara turnamen Aceh World Solidarity 2017 di Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/12/2017).
Timnas Kyrgyzstan merayakan gelar juara turnamen Aceh World Solidarity 2017 di Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/12/2017).
© Irwansyah Putra /Antara Foto

Para pemain Indonesia juga kerap tidak lancar dalam menyerang. Setiap upaya ofensif justru lebih banyak berputar-putar di tengah dan jarang mencapai daerah akhir pertahanan lawan.

Artinya, meski mulai terbiasa mengendalikan permainan --saat menghadapi Kyrgyzstan mencapai 55 persen), Indonesia tak cukup efektif. "Ada beberapa momen kita menyerang tapi hasilnya tidak baik, dan ini pembelajaran melawan tim-tim yang memiliki postur tinggi dan besar," imbuh Milla

Satu pekerjaan rumah lain yang hingga kini tak kunjung dipecahkan adalah emosi para pemain Indonesia. Seperti pada partai-partai terdahulu, para pemain Indonesia masih kerap emosional ketika menghadapi permainan keras.

Perlu diketahui, menurut catatan statistik Labbola, Indonesia total menjadi korban pelanggaran 44 kali dalam dua laga terakhir --Mongolia 17 kali dan Kyrgyzstan 27 kali. Artinya, lawan cukup kerepotan menghadapi Indonesia tapi jadi tidak cukup berguna ketika emosi justru mengacaukan permainan tim.

Melawan Islandia

Untuk beberapa saat setelah ini, timnas Indonesia tak punya agenda. "Tim Garuda" baru kembali ke lapangan dan bertanding pada 11 Januari 2018.

Menurut agenda yang diungkapkan PSSI dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, Islandia akan menjadi lawan dalam dua pertandingan. Indonesia menyiapkan Indonesia Selection dan timnas senior (14/1).

Namun Islandia bisa dipastikan bakal hadir tanpa para pemain utamanya yang turut mengantar negeri dari Skandinavia itu ke Piala Dunia 2018. Penyebabnya adalah pertemuan dengan Islandia bukan masa kalender FIFA sehingga klub tidak wajib melepas para pemainnya.

Meski begitu Managing Director Mediapro Asia, Lars Heidenreich, yang turut hadir dalam jumpa pers kemarin mengatakan akan membawa tim utama timnas Islandia. Namun Heidenreich tidak menjelaskan siapa saja yang akan diboyong ke Jakarta.

Apapun, bagi Milla dan timnas Indonesia, Islandia akan menjadi calon lawan berharga. "...ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi tim karena kita akan bermain dengan lawan yang memiliki level permainan sangat tinggi," pungkasnya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.