PEMAIN TERBAIK FIFA 2018

Modric akhiri dominasi Messi dan Ronaldo

Modric tengah memperlihatkan trofi pemain terbaik dunia 2018 versi FIFA di Royal Festival Hall, London, Inggris, Senin (24/9/2018).
Modric tengah memperlihatkan trofi pemain terbaik dunia 2018 versi FIFA di Royal Festival Hall, London, Inggris, Senin (24/9/2018). | Neil Hall /EPA-EFE

Untuk kali pertama dalam satu dekade terakhir ada pemain lain yang berdiri menerima penghargaan Pemain Terbaik FIFA selain Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Pada tahun ini, gelar tersebut jatuh ke tangan Luka Modric.

Hal itu diketahui pada malam penghargaan FIFA di Royal Festival Hall, London, Inggris, Senin (24/9/2018) waktu setempat. Dengan meraih 29,05 persen dari total suara, pemain Real Madrid itu mengungguli Ronaldo (19,08 persen) dan Mohamed Salah (11,23 persen).

Ini adalah gelar prestisius ketiga Modric dalam sekitar dua bulan terakhir. Sebelumnya, ia mendapat penghargaan pemain terbaik Piala Dunia pada Juli dan Pemain terbaik UEFA sebulan kemudian.

Tentu, bila dibandingkan dengan dua gelar sebelumnya, penghargaan Pemain Terbaik FIFA lebih bergengsi. Pasalnya, pada ajang ini, para pemilik suara (media, pelatih dan kapten tim nasional, serta masyarakat umum) memiliki banyak pilihan untuk menentukan siapa yang terbaik.

"Saya senang karena akhirnya ada pemain lain yang diakui, yang sebelumnya pantas menang (penghargaan) tetapi tidak mendapatkannya," ucap Modric dalam kata sambutannya (H/T Goal).

"Capaian ini sangat penting, khususnya pemain seperti Ronaldo dan Messi masih menjadi bagian di dalamnya. Namun setiap pemain harus diakui ketika dia memiliki tahun yang baik."

Kalimat terakhir ini yang sepertinya menjadi alasan bagi pemiliki suara untuk menjatuhkan pilihan ke kapten timnas Kroasia tersebut. Modric memiliki tahun yang gemilang sepanjang 2018.

Dimulai kala ia menjadi bagian terpenting dari skuat Real Madrid yang menciptakan sejarah dengan menjuarai Liga Champions tiga kali berturut-turut pada Juni 2018.

Sebulan setelahnya, pemain kelahiran Zadar, Kroasia, 33 tahun silam tersebut membawa Kroasia menjadi finalis Piala Dunia 2018 di Rusia, sebelum ditekuk Prancis 4-2. Saat itu, Kroasia bukanlah tim yang diunggulkan untuk melangkah hingga babak final.

Namun, kontribusi Modric dari lapangan tengah mampu membalikkan semua prediksi tersebut. Chris Waddle, analis BBC Radio 5 memuji habis Modric dengan mengatakan bahwa dia adalah tipe pemain yang tak dimiliki Inggris saat terhenti di semifinal Piala Dunia 2018.

"Modric adalah tipe pemain yang hilang dari skuat Gareth Southgate (Manajer timnas Inggris) saat semifinal karena kemampuannya untuk mengatasi sendiri pertandingan dengan pemahaman dan distribusi bolanya," ucap Waddle (H/T BBC).

Itulah alasan mengapa Southgate, kata Waddle, memilih Modric dalam ajang pemain terbaik FIFA.

Meski baru kali ini mendapatkan gelar pemain terbaik FIFA, sejatinya Modric bukanlah pemain kemarin sore. Sejak bermain di Dinamo Zagreb, klub profesional pertamanya, Modric sudah mencuri perhatian banyak klub besar Eropa.

Pada usia 23 tahun, atau musim keempatnya di Dinamo, klub besar seperti Barcelona, Arsenal, dan Chelsea, sudah ngebet ingin mendapatkan tanda tangan Modric. Namun, pilihan Modric justru jatuh ke Tottenham Hotspur pada 2008.

Meski mengawali karier yang buruk di Spurs karena cedera lutut, perlahan tapi pasti ia mulai membangun reputasi sebagai gelandang serang jempolan di tanah Inggris. Di tempat inilah naluri bermain Modric semakin terasah.

Total, selama empat musim membela klub yang bermarkas di London tersebut, pria yang dijuluki sebagai Johan Cruyff-nya Balkan bermain 159 kali dengan total 17 gol. Dia menjadi dirigen lapangan tengah Spurs.

Pada musim 2012/2013, Madrid pun merekrutnya untuk menjadi bagian dari "Skuat Galaksi". Harganya, untuk pemain sekaliber dia tak terlalu mahal. Madrid hanya merogoh kocek sebesar 30 juta pound (sekitar Rp587 miliar).

Madrid-lah klub yang mengkristalkan kemampuan Modric menjadi trofi. Beberapa gelar yang disumbangkan Modric bagi Madrid adalah satu La Liga Spanyol, satu Copa del Rey, dan empat Liga Champions.

Untuk mengetahui kemampuan Modric, pernyataan Zlatko Kranjcar, mantan pelatih Kroasia 2004-2006, bisa menjadi rujukan. "Pemain yang memiliki umpan sangat akurat dan memiliki kemampuan mengorganisasi tim dengan kualitas yang sangat baik," kata Kranjcar dalam Euro Sport.

"Dia mungkin tak akan adu fisik dengan pemain di sekitarnya... Dia mengatasi itu dengan kecepatan kakinya, keseimbangan tubuhnya, dan visinya yang kuat. Dia sangat istimewa."

Meski demikian, Modric bukan lah sosok yang tumbuh di negara dengan sejarah sepak bola yang kuat. Perjuangannya di lapangan, mungkin ia raih dari keteguhan sang ayah yang berjuang dalam medan perang saudara.

Maklum, pada 1985, Kroasia belum lah berdiri sebagai negara independen, melainkan masih berada di wilayah Yugoslavia. Sang ayah, menjadi salah satu pejuang kemerdekaan di tanah Zadar.

Setelah perang usai, sang ayah memasukkan Modric ke akademi sepak bola Dinamo. Tak lama berselang, ia bermain di Liga Bosnia setelah Dinamo meminjamkannya.

Bagi sejumlah pihak, mungkin hijrahnya dia ke Liga Bosnia akan dipandang aneh. Namun, tak demikian dengan Modric. "Sekali Anda bermain di Bosnia, Anda akan dapat bermain di mana saja," ucapnya.

Kini, perkataannya itu terbukti. Dua liga besar Eropa telah ia arungi. Bahkan, bukan hanya itu, pemain yang berasal dari Liga Bosnia pun bisa saja menjadi pemain terbaik dunia. Dan Modric membuktikan hal itu.

Modric, Deschamps, dan Marta tengah menunjukkan trofi terbaik FIFA 2018 masing-masing kategori di
Modric, Deschamps, dan Marta tengah menunjukkan trofi terbaik FIFA 2018 masing-masing kategori di |

Penghargaan FIFA lain:

Pemain Wanita Terbaik: Marta Vieira da Silva

Pelatih Pria Terbaik: Didier Deschamps

Pelatih Wanita Terbaik: Reynald Pedros

Gol Terbaik: Mohamed Salah

Kiper Terbaik: Thibaut Courtois

Pemain paling sportif: Lennart Thy

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR