BADMINTON ASIA CHAMPIONSHIPS

Monoton, penyebab Owi/Butet ulangi catatan 2016

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berpose  sesaat setelah menerima medali perak. Pada babak final BAC, Minggu (29/4/2018) siang WIB, Owi/Butet dikalahkan Wang/Huang dengan skor 17-21, 17-21.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berpose sesaat setelah menerima medali perak. Pada babak final BAC, Minggu (29/4/2018) siang WIB, Owi/Butet dikalahkan Wang/Huang dengan skor 17-21, 17-21. | Badmintonindonesia.org /PBSI

Indonesia harus pulang dengan tangan hampa dari Badminton Asia Championships (BAC) 2018. Musababnya, satu-satunya wakil Indonesia di partai final, Tontowi "Owi" Ahmad/Liliyana "Butet" Natsir, takluk di tangan Wang Yilyu/Huang Dongping (Tiongkok).

Bertanding di partai pertama babak final di lapangan 1 Sports Center Development Zone, Wuhan, Tiongkok, Minggu (29/4/2018), Owi/Butet kalah dengan skor 17-21, 17-21. Dengan hasil ini, maka dari empat perjumpaannya dengan Wang/Huang, Owi/Butet hanya sekali menang.

Capaian Owi/Butet kali ini, seperti mengulang apa yang terjadi dua tahun lalu. Pada 2016, mereka juga hanya meraih medali perak. Sebab, di babak final, Owi/Butet takluk dari Zhang Nan/Zhao Yunlei dengan skor 21-16, 9-21, 17-21.

Pada partai final BAC kali ini, sebenarnya Owi/Butet memulai dengan cukup baik. Di interval gim pertama, mereka sempat unggul 11-8. Kondisi tersebut tak berubah hingga angka 13-10.

Sayangnya, sejak angka tersebut, pertahanan Wang/Huang semakin rapat. Bola buangan ganda campuran andalan Indonesia itu selalu dimentahkan. Satu hal lainnya, pola permainan Owi/Butet cukup monoton kali ini.

"Mungkin karena kami terlalu fokus, jadi mainnya monoton dan tidak mengubah ritme," jelas Butet kepada Badmintonindonesia.org. "Sebetulnya di awal sudah benar, tapi ada sedikit kesalahan yang membuat mereka bangkit."

Kesalahan itu, menurut Butet, ia dan Owi tak kuasa mengadang laju perolehan angka Wang/Huang. Setelah angka 13-13 di gim pertama, Wang/Huang benar-benar mendominasi permainan. Pun, terkadang Owi/Butet membuat kesalahan sendiri.

Misalnya, di poin kritis 17-20, bola servis Butet justru tersangkut di net. Alhasil, Wang/Huang dapat menutup gim pertama tanpa susah payah.

Masuk di gim kedua, kondisi Owi/Butet justru tak sebaik gim pertama. Kejar-mengejar angka hanya terjadi di awal-awal pertandingan. Selepas 7-7, perolehan poin juara Olimpiade 2016 tak pernah melampaui, bahkan menyamakan, Wang/Huang.

"Lawan hari ini tidak mudah dimatikan, beda dengan yang kemarin. Kami kurang sabar kali ini," ucap Owi. Butet sependapat dengan hal itu. Kesulitan menembus pertahanan Wang/Huang itu berakibat pada kondisi mental mereka.

"Hal itu membuat kami ada keraguan," kata Butet. "Memang, yang penting itu dari pikirannya. Dapat poinnya memang susah, (jadi) harus (main) lebih sabar."

Owi/Butet memang seperti kesulitan bila melawan peringkat dua dunia itu. Terakhir mereka menang terjadi sekira delapan bulan lalu, tepatnya saat Kejuaraan Dunia 2017. Kala itu, Owi/Butet keluar sebagai juara.

Dengan hasil ini, artinya Indonesia kembali puasa gelar di BAC. Terakhir wakil Indonesia juara, terjadi pada 2015. Saat itu, Owi/Butet menjadi wakilnya.

Sedangkan di nomor tunggal lebih parah lagi. Terakhir nomor tersebut berdiri di pucuk podium terjadi sekitar 11 tahun lalu, atas nama Taufik Hidayat. Sebagai kejuaraan dengan peserta pemain kelas dunia, tentu ini seperti menjadi alarm bagi bulu tangkis Indonesia.

Sebab, ini seperti menjadi kemunduran, setidaknya bila dibandingkan dengan dekade 2000-an. Sejak 2000 hingga 2009, para pebulu tangkis Indonesia tak pernah absen berdiri di podium tertinggi. Minimal mereka dapat satu.

Bahkan pada tahun 2000, Indonesia berhasil meraih tiga emas melalui Taufik Hidayat, Rexy Mainaky/Tony Gunawan, dan Bambang Supriyanto/Minarti Timur.

Pada BAC 2018, Tiongkok dan Jepang keluar sebagai juara umum. Tiongkok meraih dua emas dari nomor ganda campuran dan ganda putra. Sedangkan Jepang, meraih emas dari nomor tunggal putra dan ganda putri.

Satu nomor tersisa, diraih tunggal putri asal Taiwan, Tai Tzu Ying. Pemain peringkat satu dunia itu mengulang capaian di 2017, keluar sebagai juara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR