Nadal coba tinggalkan Wimbledon dengan kepala tegak

Rafael Nadal mengacungkan jempol kepada para penonton saat akan keluar Court No. 1 usai ditaklukkan Gilles Muller pada babak keempat Grand Slam Wimbledon 2017, Senin (10/7/2017).
Rafael Nadal mengacungkan jempol kepada para penonton saat akan keluar Court No. 1 usai ditaklukkan Gilles Muller pada babak keempat Grand Slam Wimbledon 2017, Senin (10/7/2017). | Gerry Penny /EPA

Kekalahan adalah sebuah kekalahan. Itu bukan akhir dari segalanya selama kita masih bisa mencoba bangkit kembali. Itulah yang coba ditelan oleh Rafael Nadal setelah tersingkir dari lapangan rumput Wimbledon.

Petenis Spanyol yang menempati unggulan ketiga pada turnamen Grand Slam tersebut disingkirkan Gilles Muller pada babak keempat, Senin (10/7/2017), 6-3, 6-4, 3-6, 4-6, 15-13.

Pertarungan lima set nan epik itu berlangsung di Court No. 1 selama 4 jam 48 menit, menjadi yang terpanjang hingga saat ini di Wimbledon edisi 2017. Lamanya waktu pertandingan tersebut membuat panitia memutuskan memundurkan pertandingan Novak Djokovic vs. Adrian Mannarino ke hari Selasa (11/7).

Rekor pertandingan terlama di Wimbledon, dan di dunia tenis tunggal putra keseluruhan, adalah 11 jam 5 menit ketika John Isner mengalahkan Nicholas Mahut pada 2010.

Nadal menjadi anggota "The Big Four" --empat petenis putra top dunia-- pertama yang tersingkir dari All England Club tahun ini. Unggulan pertama Andy Murray dan unggulan ketiga Roger Federer berhasil maju ke perempatfinal, sementara unggulan kedua Djokovic belum turun ke lapangan saat berita ini ditulis.

Walau lapangan rumput bukanlah favorit Nadal --ia pernah empat kali disingkirkan dari Wimbledon oleh petenis berperingkat di luar Top 100--, kekalahan terlalu dini itu tetap menyakitkan.

Pasalnya, peringkat ke-2 rangking ATP itu tengah dalam performa yang menanjak setelah pulih dari cedera lutut dan pergelangan tangan yang membuat sering absen pada 2015-16. Nadal mencapai final Australia Terbuka dan Miami Terbuka (keduanya dikalahkan Federer), lalu merajai turnamen lapangan tanah liat yang menjadi favoritnya.

Ia menjuarai Monte-Carlo Masters, Barcelona Terbuka, dan Madrid Open, sebelum kemudian merebut trofi ke-10 sepanjang kariernya di Grand Slam Prancis Terbuka.

Oleh karena itu, Nadal difavoritkan untuk mencapai prestasi terbaik di Wimbledon yang pernah dijuarainya pada 2008 dan 2010 ini. Apalagi pada tiga babak awal Wimbledon 2017, ia menundukkan lawan-lawannya dengan tiga set langsung.

"Saya kalah di babak keempat. Ini bukan hasil yang saya harapkan," kata Nadal, dikutip ESPN. "Memang benar bahwa saya tampil baik dalam pertandingan, namun pada saat yang sama saya tidak ingin kalah pada pertandingan itu."

Ia menambahkan bahwa kekalahan tersebut adalah "sebuah kesempatan yang hilang" dan memuji performa Muller di lapangan.

"Dia bermain hebat. Saya ada di sana dan berusaha hingga akhir," ujar Nadal.

Bagi Muller, peringkat ke-26 dunia, itu adalah kemenangan keduanya atas Nadal di Wimbledon setelah pada babak kedua tahun 2005.

"Saya belum benar-benar menyadari apa yang baru saja terjadi," kata Muller (32) dinukil The Guardian.

"Ini adalah perasaan yang hebat. Saya sempat berpikir harus melanjutkan pertandingan ini besok. Saya lega pertandingan ini berakhir dan maju ke perempatfinal," sambung petenis asal Luksemburg itu.

Muller akan menghadapi petenis Kroasia Marin Cilic pada perempatfinal yang dijadwalkan berlangsung Rabu (12/7).

Meski kalah, Nadal memuji atmosfer yang diuarkan para penonton, terutama para pendukungnya, sepanjang laga berlangsung di Court No. 1 itu.

Mereka terus bersuara lantang mendukungnya dan mengikuti ajakan Nadal untuk ikut berteriak ketika ia mendapatkan poin. Suasana pertandingan pun berjalan dengan meriah dan penuh semangat.

"Itu terasa hebat. Atmosfer luar biasa. Saya mengeluarkan segalanya di lapangan. Saya bermain sepenuh hati dan penonton biasanya mengapresiasi itu," kata Nadal, seperti dinukil laman ATP World Tour.

"Terima kasih atas dukungannya. Saya telah mencoba. Saya mohon maaf pada mereka yang mendukung saya, tetapi sungguh luar biasa bisa merasakan dukungan mereka."

Sepertinya hal itu juga yang mendorong petenis berusia 31 tahun ini untuk segera melupakan hasil buruk tersebut dan bersiap kembali ke Wimbledon tahun depan.

"Saya ingin kembali. Saya ingin lebih banyak bertanding di Centre Court," tegasnya.

Centre Court, atau Lapangan Utama, adalah tempat berlangsungnya final Wimbledon, juga pertandingan-pertandingan yang dianggap penting dan menarik oleh penyelenggara Grand Slam tersebut.

Sebelum itu, musim 2017 masih panjang dan masih ada Grand Slam penutup tahun, AS Terbuka, yang pernah dijuarainya pada 2010 dan 2013.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR