AUSTRALIA TERBUKA 2019

Naomi Osaka, petenis putri Asia pertama di no. 1 dunia

Naomi Osaka berpose dengan trofi tunggal putri Australia Terbuka di Pantai Brighton, Melbourne, Australia (27/1/2019).
Naomi Osaka berpose dengan trofi tunggal putri Australia Terbuka di Pantai Brighton, Melbourne, Australia (27/1/2019). | Julian Smith /EPA-EFE

Pada Senin (28/1/2019) sejarah baru tercatat di dunia tenis tunggal putri. Untuk pertama kalinya sejak sistem rangking dibuat oleh Women's Tennis Association (WTA) pada 1975, seorang petenis Asia menempati posisi puncak. Dia adalah Naomi Osaka dari Jepang.

Osaka memastikan posisi tersebut setelah menjuarai Grand Slam Australia Terbuka 2019 pada Sabtu (26/1/2019). Ia menundukkan Petra Kvitova dari Republik Cek, 7-6 (2), 5-7, 6-4 di Rod Laver Arena, Melbourne.

Dalam usia 21 tahun dan 104 hari, dia menjadi petenis termuda kedua yang menempati No. 1 dunia setelah Caroline Wozniacki yang berusia 20 tahun, 92 hari ketika naik ke puncak tenis putri dunia pada 2010.

"Saya merasa lebih dari senang menjadi petenis No. 1 dunia WTA yang baru," kata Osaka pada situs resmi WTA. "Saya selalu bermimpi berada di posisi ini dan saya merasa terhormat jadi bagian kelompok pemain elit yang pernah mencapai peringkat 1."

Petenis putri Asia sebelumnya yang pernah menempati posisi atas di dunia adalah Li Na dari Tiongkok ketika berdiri di peringkat 2 setelah menjuarai Australia Terbuka 2014.

Osaka menyingkirkan petenis Rumania, Simona Halep, yang telah 48 minggu berada di peringkat teratas. Bahkan Halep, yang disingkirkan Serena Williams pada babak 16 besar Australia Terbuka 2019, tergusur ke posisi ketiga karena Kvitova naik ke peringkat kedua.

Setelah nyaris dua dekade dikuasai oleh duo Williams--Serena dan sang kakak Venus--dunia tenis putri kini menyaksikan bintang baru yang benar-benar layak menduduki posisi teratas karena keberhasilannya di turnamen kelas teratas.

Sejak Serena cuti melahirkan pada musim semi 2017, sudah enam petenis putri bergantian menduduki posisi teratas--terakhir Halep selama 48 minggu. Namun, sepanjang periode itu delapan Grand Slam dijuarai oleh delapan petenis berbeda.

Hal itu menunjukkan tidak ada kekuatan dominan di tunggal putri. Halep hanya menjuarai Prancis Terbuka 2018.

Nah, Osaka diprediksi bisa menjadi kekuatan dominan baru. Performanya terbilang konsisten. Keberhasilan di Australia memberi Osaka trofi Grand Slam kedua dalam selang empat bulan.

Grand Slam pertama yang dimenanginya adalah Amerika Serikat Terbuka pada September 2018. Pada final yang kontroversial dan emosional, ia menaklukkan Serena di Flushing Meadows, New York.

Sejak Jennifer Capriati pada 2001, baru kali ini seorang petenis tunggal putri bisa menjuarai dua Grand Slam beruntun.

Pada final Australia Terbuka, petenis berusia 21 tahun itu menunjukkan kecakapannya bermain tenis, sekaligus kekuatan mentalnya. Dua kali ia gagal menyelesaikan championship point pada set kedua hingga akhirnya kalah, tetapi mampu bangkit di set ketiga untuk kemudian menang.

"Jelas dia adalah petenis hebat," kata Kvitova, juara Wimbledon dua kali, dikutip The New York Times. "Kita lihat masa depan nanti. Namun jelas dia punya segalanya untuk bisa berada di sana (posisi teratas) dan memainkan tenis terbaiknya."

Menggantikan Serena, menurut Laura Penhall, ahli fisioterapi yang bekerja untuk Osaka pada 2017, telah lama menjadi target utama Osaka dan keluarganya.

"Itulah yang dia inginkan. Itulah jejak langkah yang ingin ia ikuti. Osaka selalu mengidolai Serena," kata Penhall kepada The Telegraph (27/1).

Bahkan, ia memilih Sascha Bajin, mantan rekan berlatih Serena, sebagai pelatihnya. Tahun lalu, rentetan prestasi Osaka membuat Bajin dipilih sebagai Pelatih Terbaik WTA 2018.

Sang pelatih menyatakan tak banyak hal baru yang dilatihnya pada Osaka. "Sejak awal, dia sudah memukul bola dengan penuh tenaga," jelas Bajin kepada BBC.

"Saya tak perlu melatihnya bagaimana cara memukul bola atau yang semacam itu. Mungkin saya lebih seperti mengingatkannya bahwa ada hal lain yang bisa dilakukan selain memukul bola dengan sekeras-kerasnya."

Petenis yang berayah keturunan Haiti dan ibu dari Jepang itu sudah tinggal di New York, AS, sejak usia 3 tahun. Ia memiliki dua kewarganegaraan--AS dan Jepang--tetapi memilih untuk bergabung dengan tim nasional tenis Jepang.

Osaka terkenal pendiam dan pemalu, meski kerap melontarkan candaan saat menjawab pertanyaan para wartawan. Dalam konferensi pers usai menjadi juara di Melbourne, ia menyatakan bahwa berbicara bukanlah bakatnya.

"Sehari-hari saya mungkin hanya berbicara sekitar 10 kalimat," ujar petenis yang lahir di Osaka, Jepang, 16 Oktober 1997 itu.

Walau demikian, ia tak malu mengungkapkan target besarnya setelah menjuarai Australia Terbuka.

"Saya akan bermain di Indian Wells lagi. Tentu saja saya ingin menang lagi di sana dan kemudian bermain di Miami, mudah-mudahan juga menang," jelas Osaka. "Orang yang bisa berturut-turut juara di Indian Wells dan Miami, biasanya adalah pemain terbaik di dunia. Itu jadi target saya berikutnya."

Saat ditanya apakah ia siap menjadi wajah Jepang untuk Olimpiade 2020, dengan cepat Osaka menjawab, "Aduh, demi kebaikan mereka, sebaiknya mereka tidak melakukan itu."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR