Nico Rosberg masuk daftar juara sirkuit debutan F1

Nico Rosberg (tengah) mengangkat piala juara F1 GP Azerbaijan di Baku, Ahad (19/6/2016)
Nico Rosberg (tengah) mengangkat piala juara F1 GP Azerbaijan di Baku, Ahad (19/6/2016) | Valdrin Xhemaj/EPA

Pebalap Mercedes AMG GP, Nico Rosberg, menjuarai GP F1 Eropa di srikuit jalan raya ibukota Azerbaijan. Kemenangan Nico di kota Baku pada Ahad (19/6/2016) itu membuatnya masuk daftar para pebalap yang berhasil menjuarai sirkuit debutan dalam satu dekade terakhir.

Baku adalah adalah sirkuit baru pada kalender Formula Satu (F1) 2016. Dia menggantikan sirkuit Valencia (Spanyol) yang lima tahun menjadi GP Eropa.

Adapun sejak 2008, F1 menyambangi total sembilan sirkuit baru. Sebelum Baku; ada Singapura (2008), Abu Dhabi (2009), Korea (2010), India (2011), Austin (2012), dan Socchi (2014).

Dari delapan sirkuit baru pada masa masing-masing, hanya ada tiga juara. Rekan setim Rosberg, Lewis Hamilton, juara di Austin dan Socchi.

Sedangkan rekan sesama Jerman Rosberg, Sebastian Vettel, menjuarai Abu Dhabi dan India. Adapun Fernando Alonso, pebalap asal Spanyol, menjuarai GP Singapura dan Korea.

Meski juara, Rosberg tetap mengkritik sirkuit Baku yang menggabungkan wilayah kota lama dan baru ini. Pebalap berusia 30 ini menunjukkan sejumlah bagian sirkuit justru tidak bagus.

Salah satunya, seperti juga diungkap pebalap McLaren Jenson Button, kritikan paring keras menimpa tikungan 15. Maklum, para pembalap akan mencapai kecepatan hampir 300 km/jam sebelum menginjak rem untuk berbelok di tikungan 15.

"Tikungan sebelum menuruni bukit (15), Anda akan langsung menemui tembok. Hal serupa juga terjadi di tikungan tiga dan pit lane," kata Rosberg dilansir BBC pada Jumat lalu (16/6).

Tapi Rosberg tetap bersyukur. Selain juara, balapan tidak diwarnai insiden berarti yang harus memaksa mobil keamanan (safety car) memimpin lomba.

Rosberg juga mendominasi balapan sejak strat hingga finis, termasuk mencatat pole position ke-25 sepanjang kariernya. Bahkan Rosberg mencatat waktu tercepat.

Laman resmi F1 menyebutnya gaya Grand Slam dan ini yang kedua pada musim 2016. Grand Slam pertama dibuatnya saat menjuarai GP Rusia di Sochi pada Mei lalu.

Di Baku, dua pebalap lain yang menempati podium adalah Vettel (posisi kedua) dan pebalap Force India Sergio Perez. Podium Vettel merupakan buah keputusan jenius untuk berhenti satu kali (one pit stop strategy).

Keputusan itu dipuji Daily Mail. Pebalap Ferrari ini disebut calon ahli strategi balapan F1 masa depan karena menolak permintaan tim untuk masuk pit.

Dalam percakapan radio, Vettel mengatakan kecepatan mobilnya masih bagus sehingga dia merasa tak perlu masuk pit seperti diminta tim. Ferrari pun menuruti kemauan juara dunia empat kali itu dan meraih hasilnya.

Gelar Rosberg membuat jaraknya dengan Hamilton, sang juara bertahan, makin lebar. Dia kini unggul 36 poin dari Hamilton di dua besar klasemen sementara pebalap.

Sang pebalap Inggris itu hanya mampu finis di urutan lima menyusul gangguan komputer pada mobilnya. Uniknya, pebalap asal Inggris ini memperbaikinya sendiri karena timnya dilarang memberi tahu lewat radio sesuai peraturan terbaru.

Masalah juga diderita pebalap Indonesia, Rio Haryanto. Mencapai posisi start terbaik dalam karier F1-nya, 17, Rio harus menyelesaikan lomba di posisi 18.

Masalah dialami Rio sesaat setelah start ketika salah satu mobil tim Haas menyenggol mobilnya dan mengakibatkan sayap depannya harus diganti. Pebalap berusia 23 ini pun harus masuk pit pada akhir putaran pertama.

Tim Rio, Manor Racing, menyebut balapan mereka di Baku tidak disertai dewi fortuna. Maklum, Pascal Wehrlein --rekan setim Rio-- gagal finis karena masalah rem sebelum 10 putaran terakhir.

"Balapan Rio terpaksa harus ganti sayap depan dan makan waktu. Ini bukan hari kami, namun kami tidak mau kecewa terlalu lama dan tak sabar menyambut balapan di Red Bull Ring Austria dua pekan lagi," ujar Race Director Manor, Dave Ryan, dalam pernyataan resmi tim.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR