Owi/Butet kembalikan tradisi emas bulu tangkis

Pasangan Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir berpose dengan medali emas bulu tangkis ganda campuran Olimpiade Rio 2016 di  Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (17/8/2016)
Pasangan Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir berpose dengan medali emas bulu tangkis ganda campuran Olimpiade Rio 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (17/8/2016) | Kin Cheung /AP Photo

Kontingen Indonesia menutup Olimpiade Rio 2016 dengan medali emas. Pasangan ganda campuran bulu tangkis Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mempersembahkannya pada Rabu (17/8/2016), di Rio de Janeiro, Brasil.

Owi/Butet, sapaan akrab pasangan ini, meraih medali emas setelah menuntaskan perlawanan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam waktu 44 menit 21-14 dan 21-12. Ini juga menjadi kemenangan kedua mereka atas Soon/Ying setelah pada babak grup lalu dan secara keseluruhan menang sembilan kali dalam 10 pertemuan.

Superioritas Owi/Butet diakui Soon/Ying. "Tak ada yang bisa kami lakukan ketika pasangan Indonesia itu berada pada performa puncaknya. Tekad mereka untuk menang hebat sekali," kata Ying dikutip The Strait Times (h/t Antaranews).

Kekalahan Soon/Ying membuat Malaysia masih menantikan medali emas pertamanya dari bulu tangkis. Asa selama 52 tahun itu kini ada di pundak tunggal putra Lee Chong Wei yang akan menghadapi Lin Dan dari Tiongkok pada semifinal, Jumat (19/8).

Adapun keberhasilan Owi/Butet punya sejumlah arti. Medali emas ini adalah kado istimewa bagi hari ulang tahun ke-71 Republik Indonesia.

Owi/Butet juga mengembalikan status bulu tangkis sebagai penyumbang medali emas bagi Indonesia. Di Olimpiade London 2012, bulu tangkis gagal total tanpa meraih satu pun medali.

"Meski saya atlet berpengalaman, saya tetap tertekan pada awal pertandingan. Saya kemudian berubah santai dan menikmati pertandingan sehingga kami bisa menang," ujar Butet dalam laman resmi Olimpiade.

Namun medali emas pertama bagi Owi/Butet di olimpiade terakhir mereka masih menyisakan keprihatinan. Kontingen Indonesia dan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sebenarnya menargetkan dua medali emas.

Tapi andalan meraih emas dari sektor ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan justru gagal lebih dini --tak mampu melaju dari babak grup. Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi mengungkapkan para pemain senior memang mengalami tekanan di olimpiade.

"Kejadian ini menjadi pelajaran untuk kami semua, termasuk saya sebagai pelatih," katanya dikutip Kompas.com (h/t Tribunnews), Senin (15/8).

Terlepas dari keberhasilan Owi/Butet, Indonesia tak bisa lagi hanya mengandalkan bulu tangkis untuk meraih medali emas di ajang multi cabang olahraga seperti olimpiade ini. Ketika para pemain bulu tangkis terjungkal, kans meraih medali emas pun menguap.

Bahkan gelar Owi/Butet, meski memperbaiki catatan London 2012, adalah satu-satunya medali dari bulu tangkis di Rio --tidak ada perak dan perunggu. Para atlet bulu tangkis lain rontok sebelum mencapai final.

Komite Olimpiade Indonesia dan Kemenpora perlu melihat bagaimana prospek angkat besi yang setia menyumbang medali perak dan perunggu. Meningkatkan perhatian pada pembinaan olahraga ini di tanah air boleh jadi akan menghasilkan medali emas.

Tontowi Ahmad (dua dari kanan) dan Liliyana Natsir (tak terlihat) merayakan medali emas bersama pelatih Richard Mainaky (kanan)
Tontowi Ahmad (dua dari kanan) dan Liliyana Natsir (tak terlihat) merayakan medali emas bersama pelatih Richard Mainaky (kanan) | Kin Cheung /AP Photo
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR