TINJU

Pacman belum puas adu pukul

Manny Pacquiao saat menghadapi Jeff Horn di Suncorp Stadium, Brisbane, Queensland, Australia, 2 Juli 2017.
Manny Pacquiao saat menghadapi Jeff Horn di Suncorp Stadium, Brisbane, Queensland, Australia, 2 Juli 2017. | Dave Hunt /EPA

Manny Pacquiao akan kembali naik ring. Menjadi legenda hidup Filipina dan jabatan sebagai senator tampaknya tak cukup untuk meredam ambisinya untuk kembali mengenakan sabuk juara dunia.

Pada Selasa (3/4/2018), Presiden Golden Boy Promotions (GBP), Oscar De La Hoya, melalui akun Twitternya mengumumkan bahwa Pacquiao akan bertarung melawan Lucas Matthysse--juara kelas welter World Boxing Association (WBA) asal Argentina--di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 15 Juli 2018.

Jadwal tersebut, mengutip ESPN, telah diatur agar bertepatan dengan masa reses Senat Filipina sehingga tidak akan mengganggu tugas Pacquiao sebagai senator.

Detail lain terkait pertarungan tersebut akan diumumkan dalam konferensi pers yang kemungkinan diselenggarakan pekan depan di Manila dan Kuala Lumpur.

GBP adalah promotor yang menaungi Mathysse. Untuk menyelenggarakan pertarungan tersebut mereka akan bekerja sama dengan MP Promotions milik Pacquiao. Sementara hak siar televisi akan diurus oleh Top Rank milik Bob Arum dan ESPN.

Menurut Pacquiao kepada Rappler, Malaysia dipilih sebagai tempat pertarungan karena banyak penggemarnya dari negara tersebut yang ingin melihatnya bertinju secara langsung.

Pertarungan tersebut akan menjadi yang ke-69 sepanjang 23 tahun karier cemerlang petinju bernama lengkap Emmanuel Dapidran Pacquiao tersebut.

Hingga saat ini, atlet yang akrab disapa Pacman itu adalah satu-satunya petinju yang bisa mengoleksi gelar juara dunia dari delapan kelas yang berbeda.

Dalam usia 39 tahun, belum ada tanda-tanda kapan ia akan benar-benar menggantung sarung tinju.

Ia sempat menyatakan pensiun usai menang angka atas Timothy Bradley pada 9 April 2016, namun hanya beberapa bulan kemudian ia kembali naik ring menghadapi Jessie Vargas dan menang angka di Las Vegas, AS, 5 November 2016.

Walau menang, banyak yang mempertanyakan keputusan Pacquiao untuk kembali mengenakan sarung tinju.

Pengamat tinju Sean Crose dalam kolomnya di Boxing Insider, menganalisis beberapa kemungkinan yang menyebabkan Pacman berpikir ulang.

Salah satu kemungkinannya, tulis Crose, adalah uang. Agak aneh memang, karena menurut perkiraan Forbes, Pacquiao telah mengumpulkan uang sekitar US $500 juta (Rp6,8 triliun) sepanjang kariernya.

Masa lalu sang petinju mungkin menjadi penyebabnya. Pacquiao berasal dari daerah kumuh dan miskin di Filipina. Ia bahkan gagal menyelesaikan sekolah menengah karena tak punya uang.

Pengalaman hidup itu membuatnya kerap tak tega melihat rekan-rekannya kesulitan. Oleh karena itu, menurut Pacman, gajinya sebagai pejabat publik tidak cukup.

"Saya membantu keluarga istri saya dan keluarga saya juga. Banyak orang datang meminta bantuan. Saya tak mungkin mengabaikan mereka," jelas Pacquiao.

Selain itu, Pacquiao juga terkenal kerap berjudi dan "main perempuan", kebiasaan yang bisa menguras harta dalam sekejap. Ia mengakuinya secara terbuka walau menyatakan terus berupaya memerangi kebiasaan buruk tersebut.

Kemungkinan lainnya, sambung Crose, Pacquiao memang mencintai tinju dan takkan berhenti kalau masih mampu bertarung.

Atau mungkin ia masih menunggu kesempatan untuk membalas dendam terhadap Floyd Mayweather. Musuh besar yang mengalahkannya pada 2015.

Akhirnya, memang, hanya Pacman yang tahu alasan sesungguhnya mengapa ia terus bertinju.

Tahun lalu, 2 Juli 2017, Pacquiao kehilangan gelar juara kelas welter World Boxing Organization (WBO) setelah kalah angka mutlak (unanimous decision) dalam pertandingan melawan petinju Australia Jeff Horn.

Setelah pertarungan tersebut, Freddie Roach, pria asal Amerika Serikat yang telah melatih Pacquiao sejak 2001, menyatakan akan meminta anak asuhnya itu untuk menggantungkan sarung tinju.

"Saya akan berbicara dengan Manny mungkin untuk menyudahi ini, mungkin inilah saatnya," kata Roach, dikutip Rappler.

Akan tetapi, petinju kelahiran 17 Desember 1978 itu rupanya menolak saran sang pelatih. Ia bahkan menyalahkan Roach sebagai salah satu penyebab kekalahannya dari Horn. Pasalnya, Roach tidak melakukan protes ketika Horn melakukan taktik yang brutal pada ronde ke-12 laga di Queensland, Australia, tersebut.

Untuk menghadapi Matthysse, dikabarkan PhilStar, Manny menunjuk Buboy Fernandez sebagai pelatih utamanya. Fernandez adalah asisten Roach yang juga teman Pacquiao sejak kanak-kanak.

"Itu pilihan Manny. Saya yakin ia akan memberi Buboy kesempatan untuk membuktikan dirinya setelah bertahun-tahun ini," kata Mike Koncz, penasihat Pacquiao.

Jadi, saat menghadapi Matthysse nanti, untuk pertama kalinya dalam 17 tahun takkan ada Roach di sudut ring Pacquiao.

Walau tanpa pelatih yang membawanya merebut berbagai gelar juara dunia tersebut, Pacquiao menyatakan ia siap untuk menaklukkan Matthysse dan kembali menjadi juara dunia.

Matthysse, 35 tahun, jelas bukan lawan yang ringan. Petinju Argentina tersebut memiliki rekor bertanding 39 menang dan 4 kalah dengan 36 menang KO.

Gelar juara kelas welter WBA yang disandangnya kini juga didapat dengan meng-KO petinju Thailand Tewa Kiram di Los Angeles pada 27 Januari lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR