PBSI ceraikan sejumlah ganda top Indonesia

Praveen/Debby saat mengikuti Japan Open. Tidak konsistennya penampilan mereka di 2017 membuat mereka harus dipisah.
Praveen/Debby saat mengikuti Japan Open. Tidak konsistennya penampilan mereka di 2017 membuat mereka harus dipisah.
© Badmintonindonesia.org /PBSI

Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) memiliki rencana besar dalam menghadapi 2018. Salah satunya adalah ingin melihat ganda campuran Indonesia lebih bersinar tahun depan. Untuk itu, federasi melakukan perombakan cukup ambisius.

Yakni, memisahkan Praveen Jordan yang selama ini berduet dengan Debby Susanto. Secara peringkat, sebenarnya Praveen/Debby tak buruk, bahkan kini nangkring di posisi 6 dunia; hanya kalah dari Tontowi "Owi" Ahmad/Liliyana "Butet" Natsir di Indonesia.

Masalahnya adalah capaian. Hingga tutup tahun kalender bulu tangkis dunia, capaian terbaiknya adalah juara di Korea Open. Selebihnya, sekali finalis di Australia Open dan sekali semifinalis di Japan Open.

"Awal tahun ini, saya berharap bisa sering melihat ganda campuran sesama pemain Indonesia dalam turnamen internasional. Tetapi tidak terjadi," ucap pelatih ganda campuran Indonesia, Richard Mainaky, kepada Kompas cetak, Rabu (6/12).

Oleh karena itu, "Terpaksa memisahkan Praveen dan Debby dilaksanakan pada 2018."

Praveen nantinya akan diduetkan dengan Melati Daeva Oktavianti. Nama terakhir ini, sejak pertengahan 2017, kerap dipasangkan dengan Alfian Eko Prasetya. Sedangkan Debby, akan dipasangkan dengan Ricky Karanda Suwardi.

Ini tentu saja menjadi kejutan lain dalam rotasi yang dilakukan PBSI. Sebab, Ricky, yang selama ini berduet Angga Pratama, menjadi salah satu andalan Indonesia di sektor ganda putra.

Dan toh, kini mereka berada di posisi 12 dunia. Untuk pemain pelatnas, mereka hanya kalah dari Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, yang kini berdiri di pucuk rangking dunia nomor ganda putra.

Lagi-lagi, peringkat tersebut hanya merujuk pada hitam di atas putih. Kenyataannya, capaian mereka tahun ini terhitung semenjana--bila tak ingin disebut buruk.

Capaian terbaik Ricky/Angga pada 2017 yakni finalis di India Open, sebelum ditaklukan Kevin/Marcus. Selebihnya, sekali semifinal Denmark Open, yang lagi-lagi dikalahkan oleh Kevin/Marcus.

Restu Iman

Untuk "menceraikan" Angga Ricky, menurut Richard, ia telah berbicara dengan pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi. "Sebagai pemain belakang, Ricky memiliki potensi untuk bermain di ganda campuran," ucap Richard.

Rotasi ini, menurut Richard, dilakukan demi mencari melapis Owi/Butet. Maklum, sejauh ini, Owi/Butet memang menjadi tumpuan Indonesia di sektor ganda campuran. Sayangnya, kemungkinan besar, hal itu tak akan bertahan lama.

Sebab, Butet telah menyatakan ingin pensiun pasca Asian Games. "Ini (rotasi) dilakukan untuk mencari pelapis Owi/Butet di Asian Games," ungkap Richard. Selain Ricky/Debby dan Praveen/Oktavianti, pelapis lainnya adalah Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja.

Ketiga ganda itu nantinya akan diturunkan PBSI di tiga turnamen level 4 pada Januari 2018; di Malaysia (16-21 Januari), Indonesia (23-28), dan India (30 Januari-4 Februari).

"Dari tiga turnamen itu bisa dilihat yang diprioritaskan untuk menjadi pelapis Owi/Butet. Bisa saja Praveen nanti dipasangkan kembali dengan Debby. Kita lihat saja nanti," kata Richard.

Langkah rotasi ini sejalan dengan ucap Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabidbinpres) PBSI, Susy Susanti, soal evaluasi, akhir November kemarin.

Direlakannya Ricky untuk masuk nomor ganda campuran ini, menurut Herry, karena ia dan Angga sudah tak mungkin lagi disatukan. Prestasi di 2017 ini, yang menjadi alasannya.

"Menurut saya fight-nya antara mereka berdua sudah tidak ada. Jadi ini benar-benar di luar ekspektasi saya ketika dulu menyatukan mereka," ucap Herry, yang dikutip dari Pikiran Rakyat.

Hendra kembali ke pelatnas

Sepanjang 2017, salah satu pemain Indonesia yang cukup sering tampil di panggung superseries adalah Hendra Setiawan. Namun bedanya, Hendra bermain sebagai pemain profesional, alias non-pelatnas.

Bersama Tan Boon Heong (Malaysia), capaian Hendra tak terlalu apik. Paling mentok, finalis di Australia Open. Meski demikian, sebagai pemain senior, Hendra bisa dibilang masih memiliki taji.

Buktinya adalah, dia berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional di di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Bahkan, sepertinya, di ajang paling bergengsi di turnamen domestik tersebut, langkah Hendra--yang berpasangan dengan Mohammad Ahsan--seperti tak memiliki sandungan.

Maka dari itu, PBSI sepertinya tertarik menarik lagi Hendra. Salah satu pangkalnya adalah, dengan pindahnya Ricky ke nomor ganda campuran, maka sektor ganda putra jumlahnya ganjil.

Oleh sebab itu, Hendra kemungkinan dimasukan kembali dan akan bertandem dengan Ahsan. Hal ini dikonfirmasi oleh Ricky. "Jadi di ganda putra balik lagi ke komposisi dulu, Hendra/Ahsan, Rian (Agung Saputro)/Angga, Berry (Angriawan)/Hardianto," kata Ricky.

Meski demikian, rotasi ini disebutkan Herry bukan bersifat permanen. Semua masih memungkinkan, tergantung hasil di tiga turnamen yang telah disebut di atas.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.