PIALA DUNIA 2018

Pemain muda Inggris incar sejarah, Kroasia tanpa beban

Kapten Inggris Harry Kane (kiri) dan rekan-rekannya berlatih di Stadion Spartak Zelenogorsk, Zelenogorsk, Rusia (10/7/2018). Inggris akan menghadapi Kroasia pada semifinal, Kamis (12/7) dini hari WIB.
Kapten Inggris Harry Kane (kiri) dan rekan-rekannya berlatih di Stadion Spartak Zelenogorsk, Zelenogorsk, Rusia (10/7/2018). Inggris akan menghadapi Kroasia pada semifinal, Kamis (12/7) dini hari WIB. | Tolga Bozoglu /EPA-EFE

"Three Lions (Football's Coming Home)", lagu yang dirilis band Lightning Seeds pada 1996, sepertinya akan kembali bergema di benak para pendukung Si Tiga Singa menjelang pertandingan di Stadion Luzhniki, Moskow, Kamis (12/7/2018) dini hari WIB.

Inggris akan bertarung melawan Kroasia untuk merebut tiket terakhir ke final Piala Dunia 2018. Prancis, yang menyingkirkan Belgia, sudah menanti salah satu dari mereka di laga pamungkas pada Minggu (15/7).

Bagi Inggris, inilah kesempatan terbaik untuk membuktikan bahwa sepak bola memang benar berasal dari tanah mereka. Meski kerap disebut sebagai tempat lahir olahraga tersebut, semifinal nanti baru yang ketiga bagi Tiga Singa setelah 1966 dan 1990.

Pada 1966 mereka berhasil mengalahkan Portugal dan kemudian menjuarai Piala Dunia di kandang sendiri dengan membekuk Jerman Barat 4-2. Namun pada 1990 giliran Jerman Barat menyingkirkan mereka melalui adu penalti.

Dengan telah tersingkirnya tim-tim besar seperti Spanyol, Brasil, dan Argentina, banyak yang berkata inilah saat paling tepat bagi pasukan Gareth Southgate untuk kembali naik tahta. Mengangkat Piala Dunia untuk kedua kalinya.

Keseimbangan tim menjadi salah satu kekuatan Inggris pada saat ini. Tak ada bintang yang menonjol, bahkan Harry Kane--kapten, striker, dan topscorer Rusia 2018 dengan 6 gol--tidak pernah tampak meminta untuk diistimewakan. Usia rata-rata pemain yang muda--termuda kedua setelah Prancis--juga membuat mereka siap bertarung lama.

Trauma kekalahan pada adu penalti pun telah dihapuskan dengan menaklukkan Kolombia pada babak 16 besar.

Suasana dalam ruang ganti pun disebut harmonis dan bebas konflik, baik antara pemain maupun dengan pelatih.

"Sebelumnya ketika kami bermain untuk Inggris, ia terasa seperti tim nasional, sekarang terasa seperti sebuah klub," kata bek kanan Kyle Walker, menggambarkan keharmonisan tersebut.

"Kami biasanya berangkat dan berlatih dan kemudian duduk dan menatap empat tembok yang sama. Sekarang kami saling berkunjung ke kamar yang lain. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya dan semua berkat sang pelatih."

Dialah Gareth Southgate. Seorang pelatih yang awalnya dianggap semenjana tetapi ternyata bisa membawa Inggris sejauh ini.

Menurut Southgate, prestasi ini merupakan buah perencanaan matang pengembangan tim nasional dalam cetak biru FA (PSSI-nya Inggris). Southgate adalah bekas kepala pengembangan pemain elit dan ikut membawa timnas U-17 dan U-20 juara dunia pada 2017. Pada tahun yang sama timnas U-19 Inggris juga menjadi juara Eropa.

"Kami memiliki kelompok inti pemain muda di skuat ini yang kami percaya akan membawa kami maju. Sementara pemain lainnya mulai berdatangan melalui tim-tim kelompok usia dengan pengalaman yang baik dan keyakinan untuk menang," paparnya dalam The Guardian.

"Semua kerja keras itu memang hebat tetapi Anda mesti mencapai sesuatu pada tingkat senior agar pada akhirnya semuanya mewujud. Dan kini kami punya peluang besar untuk maju ke final Piala Dunia."

Namun, sebelum tujuan utama itu dicapai, masih ada Kroasia yang menghadang. Sebuah tim yang disebut Southgate sebagai tim dengan banyak pemain berbakat yang mampu mengubah jalan pertandingan.

"Mereka akan menjadi tim terbaik yang pernah kami hadapi dalam artian apa yang bisa mereka lakukan dengan bola, dan apa yang individu-individunya bisa perbuat. Itu jelas," ujarnya.

Pertandingan pada tingkat Piala Dunia, terangnya, selalu terasa berat. Semua itu akan menjadi ujian bagi para pemain untuk bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi.

"Bagi kami sebagai sebuah tim, inilah kesempatan untuk menciptakan sebuah bagian kecil dalam sejarah," tegasnya.

Semua pemain Inggris dalam keadaan prima sehingga Southgate bisa memainkan pola dan strategi apapun yang ia inginkan.

Mario Mandzukic dan rekan-rekannya berlatih di Moskow, Rusia (10/7/2018), untuk bersiap menghadapi laga semifinal Piala Dunia 2018 melawan Inggris.
Mario Mandzukic dan rekan-rekannya berlatih di Moskow, Rusia (10/7/2018), untuk bersiap menghadapi laga semifinal Piala Dunia 2018 melawan Inggris. | Felipe Trueba /EPA-EFE

Pemain dengan kualitas sehebat Luka Modric, Ivan Rakitic, dan Mario Manzukic, membuat Kroasia tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka menang dalam seluruh pertandingan di Grup D, termasuk mencukur Argentina 3-0.

Delapan pemain berbeda telah mencetak total 10 gol untuk Kroasia (di luar adu penalti). Hal itu menunjukkan ancaman bagi lawan bakal datang dari setiap sudut lapangan, bukan hanya dari Modric atau Manzukic.

Sepanjang sejarah, kedua tim pernah bertemu tujuh kali. Inggris menang empat kali, sekali imbang, dan dua kali kalah. Namun mereka baru sekali bertemu dalam turnamen resmi, yaitu Piala Eropa 2004. Saat itu Inggris menang 4-2.

Bagi Kroasia, ini akan menjadi semifinal kedua di Piala Dunia setelah Prancis 1998. Ketika itu mereka ditundukkan Prancis 2-1, namun berhasil finis ketiga setelah kemudian menang 2-1 atas Belanda.

Melangkah ke final berarti membuka peluang Kroasia untuk membalas dendam kepada Prancis atas kekalahan 20 tahun lalu.

Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, menyatakan siap menghancurkan mimpi Inggris di Rusia. Ia telah menyusun rencana detail untuk menghentikan Tiga Singa.

"Kami tahu dari mana ancaman mereka akan datang. Kami harus mewaspadai set-play mereka, tetapi kami tak punya alasan untuk gugup. Kami bebas dari tekanan apapun," kata Dalic.

"Kami punya waktu untuk menikmati semifinal dan kami di sini untuk bermain bagus, tak peduli siapapun lawan kami."

BACA JUGA