Penantian 28 tahun Piala Sudirman

Kevin dan Marcus saat menjadi juara di All England 2017
Kevin dan Marcus saat menjadi juara di All England 2017 | PB PBSI

Beban relatif berat nampaknya akan dipikul tim bulu tangkis Indonesia di ajang Piala Sudirman yang berlangsung di Gold Coast, Australia, 21-28 Mei mendatang. Sebabnya, ada satu pemain andalan Indonesia yang tak ikut ambil bagian. Dia adalah Lilyana Natsir.

Hal ini diketahui setelah kemarin (4/5), PB PBSI mengumumkan skuat Garuda yang turun di Piala Sudirman. Di nomor putri, tandem Tontowi Ahmad (biasa dipanggil Owi) tersebut tak tercantum.

Menurut Susi Susanti, Kabid Pembinaan dan Prestasi PB PBSI, wanita yang biasa disapa Butet itu masih cedera dan digantikan Gloria Emanuelle Widjaja. Ya, sejak awal tahun, lutut Butet memang bermasalah.

Secara hitung-hitungan, di pertandingan ganda campuran nanti, Indonesia bakal menurunkan Praveen Jordan/Debby Susanto, meskipun Owi tetap ada di dalam daftar pemain. Sebab, secara peringkat BWF, Praveen/Debby hanya satu strip di bawah Owi/Butet.

Masalahnya adalah pengalaman. Sejauh ini, Owi/Butet sudah mengantongi 235 kemenangan dan 65 kali kalah. Sedangkan Praveen/Debby, 85 menang dan 45 kalah. Meski demikian, Praveen/Deby pernah membuktikan bahwa mereka adalah pengganti paling baik duet Owi/Butet dengan menjuarai All England 2016.

Di luar absennya Butet, Indonesia membawa tim terbaiknya. Di sektor tunggal putra, pemilik rangking tertinggi Indonesia, Anthony Sinusuka Ginting (23 dunia), dibawa. Pun demikian dengan Jonathan Christie (28 dunia). Hanya Tomy Sugiarto(24 dunia) yang tak masuk daftar.

Hal yang sama berlaku di tunggal wanita. Fitriani (23 dunia) dan Dinar Dyah Ayustine (33 dunia), juga disertakan PBSI. Di ganda Putri, Della Destiara Harris/Rosyita Eka Putri Sari (15 dunia) pun dibawa.

Untuk sektor ganda putra, yang selama ini seperti menjadi tumpuan Indonesia, PBSI menurunkan pasangan terbaik dunia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (1 dunia). Sebagai pelapis, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwandi, disiapkan.

Total, ada 20 atlet (10 pria dan 10 wanita) yang dibawa PBSI ke turnamen yang sudah ada sejak 1989 tersebut. Susi punya jawaban soal ini.

"Kami memilih yang terbaik berdasarkan kondisi terkini, fisik, mental, teknik, prestasi, keberanian, dan rekor pertemuan dengan calon lawan," kata Susi, seperti yang dikutip dari Bola.com.

Kekuatan Lawan

Berdasarkan hasil pengundian, Indonesia berada di grup 1D bersama Denmark dan India. Secara ranking, Denmark berada di atas Indonesia. Di mana Denmark berperingkat 2 dan Indonesia 4. Sedangkan India berada di posisi 9.

Denmark sendiri diketahui menurunkan para pemain terbaiknya. Nama-nama seperti Viktor Axelsen (3 dunia), Jan O Jorgensen (4 dunia), Mathias Boe/Carsten Mogensen (2 dunia ganda putra), hingga Kamila Rytter Juhl/Christinna Pedersen (2 dunia ganda campuran) ada di line up mereka.

Sedangkan untuk India, mereka menurunkan 14 pemainnya ,termasuk Pusarla Venkata Sindhu (4), Saina Nehwal (9), dan Ajay Jayaram (13).

Secara hitung-hitungan peringkat pemain, Indonesia diprediksi mampu mengatasi India. Hanya di sektor tunggal putri dan putra saja, kekuatan mereka berada di atas Indonesia. Untuk di tiga nomor ganda, Indonesia nampaknya masih cukup tangguh bagi India.

Sedangkan dengan Denmark, agak sedikit sulit. Pasalnya, hampir di semua nomor, Denmark memiliki pemain dengan peringkat di atas Indonesia. Hanya ganda putra saja Indonesia menempatkan pemainnya di atas Denmark.

Untuk itu, Susi pun mengatakan bahwa target paling realistis untuk Indonesia adalah semi final. "Tetapi, yang utama adalah lolos grup dulu,"katanya.

Ya, tantangan sesungguhnya memang ada di fase selanjutnya. Tiongkok, Korea Selatan maupun Malaysia diprediksi akan mulus. Bersama Denmark, ketiga negara inilah yang rutin mengisi posisi semifinal Piala Sudirman, dengan Tiongkok menjadi juara terbanyak, 10 kali.

Sejak dilangsungkan pada akhir dekade 80an, Indonesia tercatat pernah menjuarai kejuaraan yang dibuat untuk mengenang tokoh perbulu tangkisan Indonesia, Dick Sudirman itu. Yakni pada 1989, atau yang pertama.

Setelahnya, Indonesia tak pernah lagi menjuarai ajang tersebut. Indonesia justru lebih sering menjadi runner up, yakni pada 1991, 1993, 1995, 2001, 2005 dan 2007.

Waktu 28 tahun tadi bukanlah waktu yang sebentar. Semoga saja tahun ini Indonesia mampu mengukir prestasi di ajang tersebut. Ya, semoga saja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR