SEPAK BOLA NASIONAL

Persiba terancam degradasi ke Liga 3

Para pemain Persiba Balikpapan dalam sesi latihan.
Para pemain Persiba Balikpapan dalam sesi latihan. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Inilah potret pengelolaan tim sepak bola di Indonesia. Lazim ditangani oleh investor membuat sebuah tim bisa merana jika sang penyandang dana mundur. Itu yang terjadi pada Persiba Balikpapan.

Tim sepak bola kebanggaan kota di Kalimantan Timur ini terancam terdegradasi ke Liga 3 setelah PT Cindara Pratama mengisyaratkan mundur dari status investor. Padahal Persiba sedang bersiap menjelang berputarnya Liga 2 pada Juni nanti.

"Saya mengembalikan pengelolaan tim kepada Pemerintah Kota Balikpapan," kata Presiden Persiba, Rahmad Mas’ud, dalam status Instagram resmi tim, Senin (15/4/2019).

Rahmad merupakan investor tunggal yang bersedia mengambil alih pengelolaan Persiba dari manajemen lama tiga bulan lalu. Ketua Umum Persiba Syahrir Taher sudah angkat tangan alias menyerah menangani operasional tim degradasi ke Liga 2 tersebut.

Dalam pernyataannya di media sosial, Rahmad mengeluhkan minimnya dukungan manajemen lama dalam peralihan pengelolaan ke manajemen baru. Itu sebabnya pengurus baru kesulitan mengontrak pemain untuk Persiba.

"Belum ada peralihan ke manajemen baru secara sah, ini tentunya menjadi kendala karena persyaratan yang diminta tidak sesuai dengan komitmen awal," sesalnya.

Saat ditemui langsung, Rahmad membenarkan keputusannya mundur dari kesepakatan pengelolaan Persiba. Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan ini berdalih hendak fokus dalam tugasnya sebagai pimpinan pemerintah daerah setempat.

"Saya urus pemerintahan saja, soal Persiba ada yang urus calon direktur utamanya," paparnya kepada Beritagar.id.

Lebih lanjut, Rahmad menyatakan sudah berbuat maksimal untuk menghidupkan kembali Persiba dalam tiga bulan terakhir. Selama itu ia menggelontorkan dana pribadi sebesar Rp2 miliar sebagai modal awal pengurus.

Namun begitu Rahmad tak mau mempersoalkan dananya yang sudah terlanjur masuk ke dalam manajemen Persiba. Sebagai warga asli Balikpapan, menurutnya, itu adalah kewajibannya dalam penyelamatan prestasi Persiba.

"Saya tidak ada pamrih, itu bukan beban saya. Saya ingin berbuat tanpa keinginan apa pun di belakangnya," ujarnya.

Rahmad pun akan tetap mendukung Persiba, baik sebagai pribadi maupun Wawali Balikpapan. Pemerintah daerah pun sedang mencari jalan keluar.

"Artinya kalau saya ini kan tinggal mendukung saja, tergantung nanti pembicaraan dengan arahan wali kota," tuturnya.

Pemerintah Kota Balikpapan belum menanggapi pernyataan mundur Rahmad beserta PT Cindra Pratama. Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi ingin mempertemukan masing-masing pengurus baru dan lama.

"Ada banyak kabar simpang siur dan pertanyaan mengenai Persiba Balikpapan. Saya akan mengundang dua pengurus untuk berdiskusi," paparnya.

Baik Rahmad maupun Syahrir, sambung Rizal, adalah dua tokoh Balikpapan yang peduli pada nasib Persiba. Ia meminta masyarakat Balikpapan berprasangka positif terhadap kinerja pengurus tim.

"Insya allah niat baik juga keikhlasan keduanya akan menghasilkan hal yang baik juga," ungkapnya.

Para pemain Persiba hingga kini memang belum menandatangani kontrak. Manajemen baru rupanya belum mau menyodorkan kontrak akibat masalah internal.

Atas masalah ini, segelintir warga Balikpapan menggalang donasi melalui www.kitabisa.com guna membantu pendanaan Persiba. Maklum, tim ini memang terancam gagal mengikuti kompetisi Liga 2 yang segera bergulir. Bila itu terjadi, tim berjuluk "Beruang Madu" ini akan saksi terdegradasi ke Liga 3 musim depan.

Namun pengggalangan dana juga tak cukup menggembirakan. Dalam sepekan terakhir hanya terkumpul Rp971.122 dari total target Rp50.000.000 dengan durasi tersisa 9 hari. Donasi jauh dari mencukupi membiayai kompetisi tim sepak bola yang butuh biaya miliaran rupiah.

Persiba merupakan tim tertua di Kalimantan yang sudah berdiri sejak 1950. Tim kebanggaan Balikpapan ini sudah menghasilkan nama-nama pemain hebat sekelas Ponaryo Astaman dan Bima Sakti.

Tim ini dulu bermarkas di Stadion Parikesit sebelum pindah ke Stadion Batakan. Prestasi terbaiknya terjadi pada Liga Super Indonesia musim 2009-10 dengan menempati peringkat 3 saat masih ditangani pelatih bertangan dingin Daniel Roekito.

Saat itu, Pemkot Balikpapan masih menyokong tim dengan gelontoran Rp20 miliar per tahun. Persiba mampu mengontrak pemain berkualitas sekelas Aldo Barreto (Paraguay), Roberto Pugliara (Argentina), Gaston Castano (Argentina), dan Kenji Adachihara (Jepang).

Tetapi pada musim 2017-18 menjadi masa kelas Persiba di Liga 1. Ditangani pelatih Timo Scheunemann, tim ini justru terusir markasnya di Stadion Parikesit lantaran akan dibongkar. Ironisnya Stadion Batakan ketika itu belum selesai dibangun.

Alhasil Persiba terpaksa pindah ke Yogyakarta untuk menjalani laga kandang. Karena bermain di Yogyakarta, dukungan penonton pun minim. Akibatnya Persiba tersungkur di dasar klasemen sehingga turun ke Liga 2.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR