PRA-PIALA DUNIA 2022

Pertaruhan kebanggaan dalam duel Indonesia vs Malaysia

Pemain timnas Indonesia Evan Dimas (tengah) bersama rekan setimnya mengikuti sesi latihan resmi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9/2019). Latihan tersebut sebagai persiapan melawan timnas Malaysia pada 5 September dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022, Grup G Zona Asia.
Pemain timnas Indonesia Evan Dimas (tengah) bersama rekan setimnya mengikuti sesi latihan resmi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9/2019). Latihan tersebut sebagai persiapan melawan timnas Malaysia pada 5 September dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022, Grup G Zona Asia. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Bisa jadi pernyataan pelatih sepak bola tim nasional (timnas) senior Indonesia, Simon McMenemy, terlampau tinggi. Namun, paling tidak, ada sebagian masyarakat tanah air yang mengamini statement pria asal Skotlandia tersebut.

"Pertandingan ini pertaruhan kebanggaan negara," ucap Simon di sesi konferensi pers jelang pertandingan timnas Indonesia vs Malaysia dalam laga pembuka Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia, Rabu (4/9/2019), yang dikutip dari akun Twitter resmi PSSI.

Pertandingan yang bakal berlangsung pada Kamis (5/9) pukul 19:30 WIB di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) tersebut, memang memiliki atmosfer tersendiri bagi kedua negara. Maklum, selain karena bertetangga dan bangsa serumpun, sejarah pertemuan kedua negara sudah sangat panjang.

Dalam catatan 11v11, sudah 95 kali kedua negara adu kuat di lapangan hijau; dengan catatan Indonesia menang 39 kali dan kalah 21, sisanya imbang. Dan, dari 95 kali persuaan tadi, semua berawal pada tarikh 7 September 1957 di Merdeka Tournament.

Pun, musabab lainnya, pertandingan ini merupakan pintu bagi timnas Indonesia untuk dapat berlaga di kompetisi sepak bola termegah di dunia: Piala Dunia. Sepanjang sejarah, baru sekali Indonesia berlaga di sana, itu pun saat namanya masih Hindia-Belanda. Yakni pada Piala Dunia 1938 di Prancis.

Maka, tak heran jika Simon mengeluarkan pernyataan agitasi demi membakar semangat juang tim. "Pertandingan besok bukan cuma soal memperebutkan poin, siapa menang, siapa kalah. Lebih dari itu," ucap Simon dalam Kompas.com.

Dalam laga tersebut, McMenemy telah menetapkan ke-23 pemain, plus dua undangan. Dari 23 pemain yang dipilih, tiga di antaranya bermain di luar negeri: Saddil Ramdani (Malaysia), dan duo Liga Thailand, Rudolof Yanto Basna serta Victor Igbonefo.

Selain itu, McMenemy juga telah menyiapkan setidaknya dua formasi 4-2-3-1 dan 3-4-3. Dua formasi itu sudah dicoba saat timnas Indonesia melawan Persika Karawang dan Bhayangkara FC, akhir Agustus kemarin. Dalam dua laga tersebut, Skuat Garuda menang telak.

Dengan semua catatan tersebut, Simon nampak cukup percaya diri dalam menghadapi laga kali ini. Pun, laga ini akan dimainkan di stadion GBK. "GBK bukan tempat yang mudah untuk didatangi. Saya pernah berada di sini sebagai lawan bersama Filipina dan itu luar biasa," ucapnya dalam Fox Sport Asia.

"Itulah yang mampu dilakukan GBK untukmu. Saya harap itu terjadi besok juga karena dukungan di Indonesia luar biasa."

Sejumlah pemain timnas Malaysia menggotong gawang saat mengikuti latihan resmi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9/2019). Latihan tersebut sebagai persiapan melawan timnas Indonesia pada 5 September pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022, Grup G Zona Asia.
Sejumlah pemain timnas Malaysia menggotong gawang saat mengikuti latihan resmi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9/2019). Latihan tersebut sebagai persiapan melawan timnas Indonesia pada 5 September pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022, Grup G Zona Asia. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Pernyataan Simon di atas jelas bukan sesumbar. Toh pelatih tim Malaysia, Tan Cheng Hoe, mengamini pernyataan Simon. "Tengok lah sejarah kami di sini ... Di sini merupakan kandang yang selalu penuh dengan suporter Indonesia," ucap Tan, dalam detikcom.

Atmosfer di GBK inilah yang membuat Harimau Malaya tak pernah menang atas Indonesia. Kali terakhir Malaysia bisa mengalahkan Skuat Garuda di GBK terjadi pada 2004, alias 14 tahun lalu.

Setelah itu, timnas Malaysia selalu gagal menang lawan Indonesia di GBK. Mereka pernah menahan imbang Indonesia, itu pun pada 2008.

Meski demikian, Tan ogah menyerah terlebih dahulu pada laga kali ini. "Jangan terlalu memandang rekor pertemuan, karena sekarang pemain berbeda, pelatih beda. Yang penting kami harus melakukan terbaik untuk mendapatkan hasil positif," kata Tan.

Menurut Jacksen Ferreira Tiago, pelatih di banyak klub Indonesia dan beberapa di Malaysia, tim tamu memiliki kelebihan dibanding tuan rumah. Menurut pria yang kini membesut Persipura itu, Malaysia lebih paham taktik permainan ketimbang Indonesia.

"Karena sistem sepak bola di sana sudah terbangun sejak usia dini. Malaysia serius soal itu. Malaysia itu kuat dengan penerapan text book-nya, sangat sempurna," ucap Jackson kepada Beritagar.id, Rabu (4/9).

Sedangkan di sisi Indonesia, menurut pria asal Brasil yang pernah menukangi Timnas Indonesia tersebut, terletak pada skill individu. Dengan catatan ini, plus bermain di rumah sendiri, ia percaya Indonesia akan bermain agresif sedari awal laga.

Namun, Jacksen mewanti-wanti agar Indonesia fokus sepanjang pertandingan. Pasalnya, Malaysia terbiasa bermain dengan mencari celah kelengahan lawan. "Pemain Malaysia itu lebih fleksibel akan perubahan. Mereka terbiasa sejak muda memahami taktik," katanya.

Pertandingan antara Indonesia vs Malaysia ini merupakan laga pertama di Grup G. Selain Indonesia dan Malaysia Grup G diisi oleh Thailand, Uni Emirat Arab, dan Vietnam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR